Jakarta -

Asupan gula sering kali dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan kronis, mulai dari obesitas hingga gangguan fungsi organ vital. Ternyata, efek buruk gula berlebih tidak hanya terbatas pada satu titik, melainkan bisa memicu komplikasi sistemik ke seluruh tubuh.


Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Yislam Aljaidi, SpJP FIHA menjelaskan bahwa konsumsi gula pada dasarnya aman jika disesuaikan dengan kebutuhan energi tubuh. Hal ini terutama berlaku bagi individu dengan aktivitas fisik tinggi seperti atlet.


Namun, kondisinya menjadi berbahaya bagi mereka yang menjalani sedentary lifestyle atau pola hidup minim gerak. Konsumsi gula yang berlebih pada kelompok ini justru tidak memberikan manfaat medis.




"Karena gula itu (jika berlebihan) nggak ada manfaatnya untuk tubuh. Dia itu hanya murni sebagai energi. Ketika aktivitas berat, misalnya yang di tempat bangunan, di outdoor, itu dia butuh gula," ucap dr Yislam saat ditemui di Cibubur, Rabu (11/2/2026).


"Tapi, kalau pada orang normal (minim aktivitas fisik), jadinya nggak ada manfaatnya," sambungnya.




Picu Peradangan Terus-menerus


dr Yislam memaparkan bahwa saat gula di dalam tubuh berlebih, ia akan disimpan sebagai cadangan energi yang kemudian diubah menjadi lemak. Jika kebiasaan ini berlanjut, pankreas yang bertugas menghasilkan insulin akan mengalami kelelahan.


"Nanti, reseptor tubuh itu seolah-olah kegagalan si insulinnya meregulasi gulanya. Jadi sebenarnya kalau sudah diabetes itu menjadi momok utama, karena kalau gulanya tinggi, kondisi tubuh kita berada dalam peradangan yang aktif terus," terang dr. Yislam.


Kondisi peradangan kronis inilah yang menjadi jembatan menuju berbagai komplikasi. Masalahnya, peradangan ini terjadi di pembuluh darah yang tersebar di seluruh bagian tubuh, bukan hanya di jantung.


"Pembuluh darah itu nggak di jantung saja, bisa ke semua (organ). Jadi pembuluh darah itu (masalahnya) nggak cuma kolesterol bisa nempel di jantung ya, tapi bisa di seluruh tubuh," lanjutnya


Ketika peradangan terjadi di pembuluh darah secara luas, risiko penyakit mematikan akan meningkat tergantung pada organ mana yang mengalami kerusakan paling parah.


"Gula sering bikin gagal ginjal karena peradangannya di pembuluh darah ginjal. Atau stroke karena di pembuluh darah otak. Dia nggak bisa milih, nanti peradangannya di seluruh pembuluh darah, dan nanti mana nih yang 'kalah' duluan. Di ginjal jadi gagal ginjal, di otak jadi stroke, di jantung menjadi serangan jantung," papar dr. Yislam.






Bijak Memilih Makanan Kemasan


Sebagai langkah antisipasi, dr Yislam mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan dan minuman manis, terutama produk kemasan dan kopi kekinian yang seringkali mengandung gula tersembunyi.


"Coba di supermarket, minumannya itu kandungan gulanya ada yang 50 gram, 60 gram. Kita bijak mengonsumsi gula yang ada di dalam makanan atau minuman kemasan, atau brand-brand kopi manisnya," pesannya.


Ia mengingatkan pentingnya membaca label informasi nilai gizi sebelum membeli produk. "Kita harus bijak melihat tabel makanan dan minuman, bagian kalori itu. Berapa gulanya dan gula apa yang dipakai," pungkasnya.

























Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.