Jakarta -
Studi terbaru menunjukkan tekanan akademis yang tinggi di usia 15 tahun, dapat menyebabkan depresi hingga masa dewasa awal. Tekanan akademis ini meliputi target di sekolah, ujian, hingga kesulitan lain yang dialami siswa.
Biasanya, siswa yang tertekan karena beban akademik lebih rentan mengalami stres hingga depresi. Parahnya, dampak dari depresi ini akan terus berlanjut setelah lulus sekolah bahkan sampai memasuki usia dewasa awal.
Dalam studi yang terbit di jurnal pada 12 Februari 2026, para peneliti mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami tekanan akademik yang tinggi di usia 15 tahun, lebih rentan mengalami depresi hingga usianya mencapai masa dewasa awal. Temuan ini dikaitkan dengan meningkatkan perilaku melukai diri sendiri yang terus terjadi hingga usia 24 tahun.
Risiko Depresi yang Dimulai dari Bangku Sekolah
Penelitian ini dilakukan oleh periset ahli dari University College London (UCL), yang melibatkan 4.700 generasi muda yang lahir antara tahun 1991 dan 1992. Kelompok "anak-anak era 90-an" ini dibuat untuk studi jangka panjang yang mengontrol kesehatan mental dan kesejahteraan mereka secara berkelanjutan.
Para peneliti memulainya dengan mengukur tekanan akademis yang mereka rasakan saat berusia 15 tahun, melalui kuesioner pengalaman sekolah. Kemudian, kesehatan mental mereka dipantau secara berkala sejak usia 16-22 tahun, sedangkan perilaku melukai diri terus dicatat hingga usia 24 tahun.
Hasilnya menunjukkan, individu yang mengalami tekanan tinggi saat bersekolah di usia 15 tahun, tercatat memiliki tingkat depresi lebih tinggi yang mereka rasakan di kemudian hari. Dampaknya meningkat lebih tinggi pada usia 16 tahun, saat akan menghadapi ujian akhir sekolah.
Penelitian juga menemukan bahwa gejala depresi yang dialami akan terus ada sampai mereka berusia 22 tahun. Ini membuktikan bahwa siswa yang mengalami tekanan akademik tinggi di usia 15 tahun, memiliki risiko jangka panjang bagi kesehatan mental mereka.
Meski guncangan mental paling dahsyat terjadi saat usia 16 tahun, tapi dapat dipastikan dampaknya akan terasa hingga usia 22 tahun.
"Oleh karena itu, hubungan antara tekanan akademis dan gejala depresi dapat berlanjut dari sekolah menengah hingga awal masa dewasa," tulis para peneliti, yang dikutip dari Independent.
Peran Sekolah dan Dukungan Keluarga
Dengan studi mereka, peneliti menyimpulkan bahwa tekanan akademik mungkin menjadi salah satu penyebab masalah mental yang dialami generasi muda, yang perlu diteliti lebih lanjut.
Pihak sekolah dan keluarga juga disarankan turut berperan dalam menanggapi kasus ini dengan mengurangi tekanan akademik untuk membantu permasalahan mental pada anak muda ini. Para peneliti mengusulkan untuk mengurangi jumlah ujian, dan menggantinya dengan pembelajaran sosial dan emosional, hingga keterampilan relaksasi.
Bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa mengurangi jumlah ujian memiliki pengaruh besar untuk menurunkan tingkat stres pada siswa. Selain sekolah, pihak keluarga juga dapat membantu dengan melakukan aktivitas fisik bersama, bersosialisasi, dan memperbaiki pola tidur.
Ahli Dorong Metode Evaluasi Beragam, Tak Hanya Ujian
Profesor epidemiologi psikiatri University College London (UCL), Gemma Lewis mengungkapkan adanya peningkatan angka depresi di kalangan anak muda di Inggris, dalam beberapa tahun terakhir akibat tekanan akademik. Kaum muda mengakui bahwa tekanan akademis sebagai salah satu penyebab utama stres.
"Tekanan tertentu untuk berhasil di sekolah dapat memotivasi, tetapi tekanan yang berlebihan dapat membuat kewalahan dan mungkin berdampak buruk pada kesehatan mental," ujar Prof Lewis.
Sebagai psikiatri, ia berharap dapat mengatasi tekanan akademis di tingkat sekolah secara keseluruhan dengan menangani budaya sekolah.
Sementara itu, Kepala Urusan Eksternal dan Penelitian di Badan Amal Young Minds, Paul Noblet turut mengomentari kasus ini. Ia mengatakan buktinya sangat kuat bahwa tingginya tekanan akademik dapat merusak kesehatan mental anak muda.
"Temuan ini menggemakan penelitian YoungMinds dengan kaum muda yang mengikuti ujian GCSE dan A-level tahun lalu, yang menunjukkan sejumlah besar dari mereka bergumul dengan pikiran bunuh diri dan melukai diri sendiri," ujar Noblet.
Ia menegaskan bahwa upaya mengurangi jumlah ujian sekolah masih sangat jauh untuk mengubah sistem pendidikan yang seharusnya mendukung perkembangan generasi muda. Fokus penelitiannya harus diubah, dari rentetan ujian akhir tahun menjadi beberapa metode evaluasi yang berbeda.
"Berapa lama lagi kaum muda harus mengatakan bahwa mereka sedang berjuang sebelum perubahan yang benar-benar berarti dilakukan?" tandasnya.