Bintan -

Di Kepulauan Riau, ada tradisi perahu Jong, permainan tradisional yang masih eksis sampai sekarang. Warga akan saling beradu cepat miniatur perahu layar.


Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, ternyata masih ada permainan tradisional yang tetap bertahan. Salah satunya adalah balap perahu Jong yang dimainkan para nelayan Melayu di pesisir Kepri.


Melansir detikSumut, Senin (9/3/2026) sejarahnya, permainan perahu Jong sudah dilakukan sejak masa kerajaan Johor Pahang Riau Lingga masih berjaya. Permainan ini digunakan sebagai hiburan bagi para nelayan yang tidak bisa melaut karena cuaca buruk.




Mereka akan saling beradu cepat perahu Jong. Perahu ini terbuat dari kayu pulau atau metangoh yang ringan dan mudah dibentuk.


Ukuran perahu ini bervariasi, mulai dari panjang 50 cm hingga mencapai 2 meter. Sedangkan untuk tinggi layarnya menyesuaikan dengan panjang kapal Jong. Kapal dengan panjang 1,5 meter layarnya bisa setinggi 2 meter.





Perahu Jong, miniatur kapal layar dari Kepulauan RiauPerahu Jong, miniatur kapal layar dari Kepulauan Riau Foto: (dok. Istimewa)

Perahu Jong bergerak dengan tenaga angin, jadi tidak setiap waktu bisa dimainkan, tergantung dengan musim dan kecepatan angin yang bertiup.


Di zaman sekarang, balap perahu Jong sudah menjelma menjadi atraksi budaya dan festival yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Tahun ini, balap perahu Jong bakal digelar di pantai Lagoi, Bintan Utara pada awal bulan April mendatang.




Ini bukan kali pertama balap perahu Jong digelar. Penyelenggaraan yang sudah dimulai sejak tahun 2024 ini ternyata banyak diminati wisatawan dan komunitas penggemar perahu Jong.


Tahun ini, rencananya akan hadir 526 peserta yang mewakili 31 komunitas perahu Jong. Mereka tidak hanya datang dari Pulau Bintan saja, tapi juga dari Pulau Karimun, Batam, bahkan dari negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.



Perahu Jong, miniatur kapal layar dari Kepulauan RiauPerahu Jong, miniatur kapal layar dari Kepulauan Riau Foto: (dok. Istimewa)

Salah satu peserta yang mengikuti keseruan balap perahu Jong tahun lalu adalah komunitas Changi Sailing Club (CSC) dari Singapura. Mereka mengikuti ajang ini di saat yang bersamaan mereka mengikuti ajang Bintan Regatta.


"Setiap tahun komunitas CSC yang terdiri dari berbagai kebangsaan di dunia menyaksikan Festival Jong. Hal yang mengesankan adalah kesempatan untuk menyaksikan tradisi balap perahu tradisional Jong tanpa nahkoda dan hanya mengandalkan kecepatan angin. Kami berharap Jong Festival kembali diagendakan," ujar Choy Yi Hong, General Manager CSC.




Berdasarkan data tahun 2025, angka kunjungan wisnus ke Bintan meningkat 18,45% dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 744.468 orang. Kunjungan wisman ke Bintan juga bertambah sebesar 21,45% atau 253.366 orang.


"Pertumbuhan ini mesti harus ditingkatkan dengan memberikan pengalaman wisata yang berkualitas, salah satunya mengenai keunikan budaya," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan Arief Sumarsono.


Dengan diramaikannya kembali pantai Lagoi lewat pacu perahu Jong warna-warni, keberlanjutan tradisi budaya bisa tetap terjaga sambil menjadikannya sebagai daya tarik baru yang dinikmati oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.


















Wahyu Setyo Widodo


Jurnalis detikcom





Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.