Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Kazakhstan untuk Indonesia Serzhan Abdykarimov menilai bahwa perayaan Nauryz di negaranya memiliki nilai-nilai yang selaras dengan budaya Indonesia.


"Filosofi Nauryz selaras sempurna dengan nilai-nilai Indonesia yakni tentang persatuan, keluarga, dan saling membantu," kata Abdykarimov saat konferensi pers di Kedutaan Besar Kazakhstan di Jakarta, Rabu malam.


Nauryz adalah perayaan tahun baru tradisional di Kazakhstan dan Asia Tengah yang menandai ekuinoks musim semi, biasanya dirayakan selama 3 hari mulai 21-23 Maret.


Dubes mengatakan Nauryz lebih dari sekadar hari raya karena sekaligus menandai kemenangan besar kehidupan atas musim dingin yang panjang dan berat.


"Ini adalah saat ketika padang rumput menjadi hidup, bumi menghangat, dan orang-orang merayakan kelahiran kehidupan baru dan pembaruan alam," katanya.






Dubes menilai bahwa Nauryz sangat dekat dengan semangat Indonesia. "Pada intinya, Nauryz sangat dekat dengan semangat Indonesia. Sama seperti Lebaran, Nauryz adalah waktu untuk memaafkan dendam lama, mengunjungi orang tua, membantu mereka yang membutuhkan, dan membuka pintu rumah untuk setiap tamu," katanya.


Di Kazakhstan modern, katanya, perayaan Nauryz berlangsung selama 10 hari – periode yang dikenal sebagai "Nauryznama", di mana program sepuluh hari ini secara mendalam mengungkapkan makna hari raya melalui nilai-nilai yang sangat selaras dengan budaya Indonesia.


Disebutkan bahwa perayaan Nauryz dimulai pada 14 Maret dengan "Korisu Kuni" (Hari Salam), yang menjadi momen paling emosional dari Nauryznama serta memiliki analogi langsung dengan tradisi Indonesia, katanya.


Pada hari ini, masyarakat Kazakhstan saling mengunjungi setelah musim dingin panjang, layaknya mudik. Tradisi jabat tangan erat dengan kedua tangan menjadi simbol silaturahmi, saling memaafkan, serta mempererat hubungan keluarga dan antargenerasi.


Perayaan berlanjut dengan Qayirimdilikh Kuni (15 Maret) yang berfokus pada amal dan kepedulian sosial. Pada hari ini, masyarakat Kazakhstan saling membantu mereka yang membutuhkan, mencerminkan nilai berbagi seperti sedekah di Indonesia, dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.






Selanjutnya, Hari Warisan Budaya (16 Maret) menampilkan karya pengrajin, diikuti Shanyrak Kuni (17 Maret) yang menekankan nilai keluarga, serta Hari Pakaian Nasional (18 Maret) yang menonjolkan identitas budaya.


Selanjutnya, Zhanaru Kuni (19 Maret) menjadi Hari Pembaruan, disusul Hari Nilai-Nilai Nasional (20 Maret) dan Yntymak Kuni (21 Maret) yang mengangkat semangat solidaritas dan gotong royong.


Puncak perayaan jatuh pada Zhyl Basy – Nauryz Meyrami (22 Maret), ditandai dengan hidangan khas Nauryz-kozhe sebagai simbol kelimpahan, sebelum ditutup dengan Tazalykh Kuni (23 Maret) sebagai Hari Pembersihan Nasional.


Nauryz termasuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO dan diakui oleh Majelis Umum PBB sebagai Hari Internasional.


"Bagi Indonesia dan Kazakhstan – dua negara yang menjunjung tinggi keramahan dan penghormatan terhadap tradisi sebagai landasan identitas nasional – hari raya ini berfungsi sebagai bahasa perdamaian dan harmoni yang sama," katanya.