...Sekarang tinggal merakit struktur di tepi danau
Maninjau, Agam (ANTARA) - Warga terdampak bencana di kawasan Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mempercepat pembuatan rakik-rakik (rakit tradisional) menjelang perayaan Lebaran 1447 Hijriah.
“Raya hari Sabtu jadi rencana besok dilaksanakan. Sekarang tinggal merakit struktur di tepi danau,” kata Wali Jorong Kubu Baru, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Yudha Anugrah Viligo, ditemui di pinggir Danau Maninjau, Kamis.
Yudha menyampaikan struktur rakik-rakik dilengkapi diberi lantai dari papan agar lebih nyaman dipijak. Di sisi samping struktur rakik-rakik terdapat penopang tambahan yang dibuat dari bambu.
Setelah struktur dasar selesai, akan masuk ke tahap pemasangan hiasan dengan ornamen warna-warni, bendera, hingga miniatur rumah adat untuk menambah nilai estetika saat festival.
Wali jorong itu menjelaskan tradisi rakik-rakik sudah ada sejak tahun 1990-an yang diselenggarakan pada malam takbiran menyambut 1 Syawal. Kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi, dan menyambut perantau yang pulang kampung.
Kendati syarat akan makna, tradisi rakik-rakik pada tahun ini hanya akan ada dua jorong yang dapat berpartisipasi akibat dampak bencana yang masih dirasakan masyarakat. Sedangkan tiga lainnya, memilih untuk tidak terlibat di tengah upaya pemulihan.
Menurutnya, keikutsertaan dua jorong tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga sebagai upaya mengembalikan semangat warga di tengah masa pemulihan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi semacam “obat” bagi masyarakat yang terdampak bencana.
“Kalau biasa karena Nagari Maninjau ini ada 5 jorong, tiap jorong satu rakik. Tapi kenapa jorong tahun ini tetap turun, semoga ini setelah bencana jadi ‘obat’, selain menjaga tradisi,” ucap Yudha.
Lebih lanjut, Yudha mengungkapkan satu rakik-rakik dengan panjang total sekitar 15 meter, membutuhkan biaya pembuatan sebanyak Rp15 juta dengan sumber pendanaan berasal dari sumbangan warga setempat.
Nagari Maninjau turut menjadi wilayah terdampak bencana banjir bandang, tanah longsor pada akhir November 2025. Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak 2 orang di Nagari Maninjau hanyut dan hilang. Lalu, sebanyak 115 unit terdampak dengan taksiran kerugian mencapai Rp44,8 miliar.