Kami memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses rekrutmen maupun seleksi untuk posisi manajemen dan senior
Jakarta (ANTARA) - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menerapkan kebijakan fair employment opportunity policy untuk menjamin kesempatan yang adil dan setara bagi seluruh karyawan tanpa memandang gender, sejalan dengan semangat kesetaraan yang diperingati dalam momentum Hari Kartini.
Direktur Human Capital SIG Hadi Setiadi menyampaikan bahwa kebijakan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) serta dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Indonesia.
“Kami memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses rekrutmen maupun seleksi untuk posisi manajemen dan senior. Seluruh proses dilakukan secara transparan berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan faktor gender,” kata Hadi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
SIG juga menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kebutuhan karyawan perempuan, seperti cuti melahirkan, ruang laktasi dan dispensasi haid.
Selain itu, SIG membentuk komunitas karyawan perempuan ‘Srikandi SIG’ sebagai wadah pemberdayaan dan pengembangan talenta melalui berbagai program pembelajaran.
“Sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, SIG juga menerapkan respectful workplace policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan. Dengan demikian, tercipta lingkungan kerja yang aman, kondusif dan produktif,” kata Hadi.
Di SIG sendiri, salah satu wujud komitmen tersebut tercermin dari penunjukan Direktur Operasi SIG Reni Wulandari sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut di SIG. Jabatan tersebut diemban Reni sejak April 2023 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Reni, yang merupakan lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan Magister Business Administration dari Swiss German University, telah menempati berbagai posisi strategis di lingkungan SIG Group.
Ia mengawali karier sebagai General Manager Pabrik Tuban dan Pabrik Narogong di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), salah satu anak usaha SIG. Selanjutnya, Reni dipercaya menjadi Direktur Operasi di PT Semen Gresik sebelum akhirnya diangkat sebagai Direktur Operasi SIG.
“Sejak hari pertama mengemban amanah sebagai Direktur Operasi SIG, saya menerapkan pendekatan visible-felt leadership. Kehadiran pemimpin dan interaksi langsung di lapangan sangat penting, terutama di area operasi yang didominasi karyawan laki-laki,” kata Reni.
Sebagai bagian dari minoritas gender, Reni mengaku tidak mengalami kendala terkait bias gender dalam menjalankan perubahan untuk mendukung kinerja operasi SIG. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, melainkan telah terimplementasi di seluruh lini.
Reni juga menekankan bahwa peluang berkarier di sektor industri berat seperti semen menuntut kompetensi dan konsistensi tinggi.
“Bukan melalui argumentasi atau perdebatan untuk memperoleh perlakuan setara, tetapi dengan menunjukkan bahwa kesetaraan gender mampu meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif,” imbuh dia.
Reni menilai bahwa SIG dan BUMN lainnya telah memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki untuk berkembang. Hal ini merupakan respons terhadap kebutuhan bisnis, di mana kesetaraan gender menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kinerja organisasi.
“Dalam lingkungan kerja berbasis merit, fokus pada kompetensi, kualifikasi, kinerja, dan profesionalisme akan menjadi keunggulan bagi organisasi,” kata Reni.