TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Influencer kesehatan sekaligus dokter umum, Dokter Gia Pratama menilai obesitas yang berujung kasus penyakit kronis bisa membebani sistem kesehatan nasional, termasuk pembiayaan BPJS Kesehatan.
Menurut dr Gia, penyakit seperti diabetes, gagal ginjal, hingga penyakit jantung terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas hidup masyarakat, tetapi juga terhadap keberlangsungan pembiayaan layanan kesehatan.
Baca juga: WFH Bikin Nyaman, Tapi Jangan Abaikan Dampak Kesehatan yang Terjadi, Risiko Obesitas Mengintai
Banyak penyakit kronis yang berawal dari pola hidup tidak sehat dan obesitas.
Ketika jumlah pasien meningkat, biaya pengobatan yang harus ditanggung BPJS pun ikut naik seperti cuci darah dan penanganan komplikasi penyakit kronis lainnya.
Baca juga: BPJS Kesehatan dan PERSI Perkuat Kolaborasi Strategis demi Keberlanjutan Program JKN
“BPJS itu uang patungan masyarakat semua. Banyak dipakai buat cuci darah dan pengobatan penyakit kronis. Kalau terus-terusan seperti ini, BPJS nggak akan sanggup,” ujar dr Gia dalam rangkaian Hari Obesitas Sedunia (World Obesity Day) tahun 2026 bersama Novo Nordisk Indonesia di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
Ia pun mendukung, edukasi masyarakat mengenai pola makan sehat dan kebijakan pelabelan kandungan gizi atau nutri-level pada produk minuman dan makanan kemasan. Informasi yang jelas dapat membantu masyarakat lebih bijak memilih asupan sehari-hari dan mengurangi konsumsi gula berlebih.
“Kalau nanya optimis, saya pasti optimis nutri-level itu akan membantu. Karena kalau dibiarkan, angka diabetes naik terus, angka gagal ginjal juga naik terus,” tutur dia.
Dokter Gia menilai pencegahan jauh lebih efektif dibanding pengobatan. Dengan menekan angka obesitas sejak dini, risiko penyakit kronis juga dapat dikurangi sehingga beban pembiayaan kesehatan nasional tidak terus meningkat.
“Makanya kita harus menjaga BPJS tetap bagus keuangannya, dengan cara tidak banyak yang jatuh sakit,” ujar dr Gia.
Dokter Gia mengungkap pengalaman menangani pasien serangan jantung di IGD menjadi titik balik dirinya untuk serius menurunkan berat badan dan melawan obesitas. Ia pernah mencapai berat badan di angka 100 kg.
Saat itu, pasien yang ditanganinya memiliki usia dan tanggal ulang tahun yang sama dengannya. Momen itu membuatnya tersentak dan mulai memikirkan kondisi kesehatannya sendiri.
“Pasien itu serangan jantung di depan saya. Alhamdulillah berhasil diselamatkan dengan alat pacu jantung. Tapi dalam hati saya bertanya, ‘Apakah saya berikutnya?’” ujar dr Gia.
Ia mengaku setelah kejadian itu langsung berpikir bagaimana jika dirinya mengalami hal serupa.
Menurunkan berat badan tidak hanya soal menjaga pola makan dan olahraga, tetapi juga membutuhkan niat dan konsistensi.
“Saya mikir, kalau saya serangan jantung apakah ada yang bisa nolongin saya? Akhirnya saya ambil keputusan untuk enam bulan komitmen menjalankan diet. Kita menggemuk tidak dalam sehari, jadi kurus juga tidak dalam sehari. Semua butuh proses. ,” tuturnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.