Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI melaporkan sedikitnya 23 kasus Hantavirus dengan tiga kematian di Indonesia dalam periode 2 tahun terakhir.

Kasus ditemukan di sembilan provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, NTT, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Baca juga: Hantavirus Menyebar ke Indonesia, Dua Tahun Terakhir Ditemukan 23 Kasus dan 3 Kematian

Meski jumlah kasusnya belum tinggi, para ahli mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejumlah faktor yang membuat kewaspadaan terhadap Hantavirus tetap penting.

Epidemiolog dan ahli kesehatan masyarakat dari Griffith University Australia dan Sekolah Pascasarjana YARSI Indonesia, Dicky Budiman, mengatakan Indonesia memiliki populasi tikus yang tinggi dan tantangan sanitasi yang kompleks.

“Indonesia punya beberapa faktor yang membuat kewaspadaan tetap penting,” ujar Dicky pada Tribunnews, Jumat (8/5/2026). 

Menurutnya, risiko Hantavirus memang masih rendah pada populasi umum, tetapi lingkungan tertentu memiliki kerentanan lebih tinggi.


Daerah Pelabuhan dan Gudang Jadi Area Berisiko

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) disebarkan oleh tikus, dan sangat jarang dari orang ke orang
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) disebarkan oleh tikus, dan sangat jarang dari orang ke orang (iStock)

Dr. Dicky menjelaskan, Hantavirus di Indonesia ditemukan pada tikus kota atau tikus rumah di sejumlah lokasi.

Terutama wilayah dengan aktivitas pelabuhan dan pergudangan yang padat.

“Nah kalau di Indonesia juga ditemukan di tikus kota atau tikus rumah terutama di daerah pelabuhan,” katanya.

Lingkungan tertutup, lembap, dan banyak tikus menjadi tempat yang perlu diwaspadai.

Kelompok yang paling rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, hingga masyarakat di wilayah banjir.

“Kelompok yang lebih rentan antara lain petugas kebersihan, pekerja gudang, pekerja pelabuhan, petani, masyarakat di daerah banjir,” jelas dr. Dicky.

Musim Hujan dan Banjir Bisa Tingkatkan Risiko

Sejumlah kendaraan menerobos hujan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (27/1/2024). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal tahun 2024 diprediksi akan menjadi puncak musim hujan di Indonesia, sebagian besar wilayah akan mengalami puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2024, yaitu sebanyak 385 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 55 persen wilayah, jika dibandingkan terhadap normal puncak musim hujan, puncak musim hujan di sebagian besar daerah diprakirakan sama dengan normalnya yaitu sebanyak 351 ZOM. Warta Kota/Yulianto
Sejumlah kendaraan menerobos hujan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (27/1/2024). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal tahun 2024 diprediksi akan menjadi puncak musim hujan di Indonesia, sebagian besar wilayah akan mengalami puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari 2024, yaitu sebanyak 385 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 55 persen wilayah, jika dibandingkan terhadap normal puncak musim hujan, puncak musim hujan di sebagian besar daerah diprakirakan sama dengan normalnya yaitu sebanyak 351 ZOM. Warta Kota/Yulianto (Warta Kota/Yulianto)

Menurut Dicky, banjir musiman dan sanitasi perkotaan menjadi faktor yang ikut meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus di Indonesia.

Saat banjir terjadi, lingkungan yang tercemar tikus lebih mudah bersentuhan dengan manusia.

Karena itu masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan air kotor.

“Terutama kalau musim hujan atau banjir, jangan kontak langsung dengan air kotor,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memakai alat pelindung saat membersihkan area kotor atau gudang.

“Pakai masker ataupun sarung tangan saat membersihkan gudang atau area kotor,” katanya.


Gejalanya Sering Mirip Penyakit Lain

Salah satu tantangan terbesar Hantavirus di Indonesia adalah potensi salah diagnosis.

Menurut dr. Dicky, gejala Hantavirus sangat mirip dengan penyakit yang lebih sering ditemukan di Indonesia.

“Hantavirus itu bisa under diagnose karena gejalanya mirip leptospirosis, dengue atau pneumonia berat,” jelasnya.

Pasien biasanya mengalami demam, nyeri otot, tubuh lemas, lalu berkembang menjadi sesak napas berat.

Karena itu, riwayat lingkungan dan keberadaan tikus di sekitar tempat tinggal menjadi informasi penting saat pasien diperiksa dokter.


Kenapa Banyak Orang Jadi Skeptis Soal Wabah?

Dicky juga menyoroti munculnya respons skeptis masyarakat setiap ada isu wabah baru.

Menurutnya, hal itu terjadi akibat trauma sosial pasca pandemi Covid-19.

“Selama COVID-19 masyarakat mengalami ketakutan, pembatasan sosial, tekanan ekonomi, juga banjir informasi,” ujarnya.

Belum lagi maraknya hoaks dan teori konspirasi di media sosial yang membuat masyarakat semakin bingung membedakan informasi valid dan tidak.

Meski begitu, ia meminta masyarakat tetap melihat informasi kesehatan secara objektif.

“Trust public dibangun dari keterbukaan, bukan sekedar otoritas,” katanya.


Waspada, Tapi Tetap Rasional

Terakhir, Dicky menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan terhadap Hantavirus.

Menurutnya, ancaman utama virus ini lebih berupa kejadian sporadis dengan fatalitas tinggi, bukan pandemi global seperti Covid-19.

“Ancaman hantavirus lebih pada outbreak sporadis dengan fatalitas tinggi jadi bukan pandemi global,” jelasnya.

Karena itu, langkah paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala mencurigakan.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.