TRIBUNNEWS.COM - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) secara resmi telah mengklasifikasikan wabah hantavirus yang terkait dengan sebuah kapal pesiar sebagai respons darurat "Level 3" pada Jumat (8/5/2026).
Keputusan ini diambil menyusul perkembangan kasus yang terus dipantau secara ketat oleh otoritas kesehatan global.
Wabah ini bermula di atas kapal MV Hondius, sebuah kapal pesiar yang berangkat dari Argentina pada bulan Maret lalu dengan mengangkut penumpang dari berbagai penjuru dunia.
Hingga bulan Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi adanya lima kasus infeksi yang terkait dengan kapal tersebut.
Tiga dari lima kasus tersebut dilaporkan berujung dengan kematian bagi pasien yang terinfeksi.
Hingga hari Kamis (7/5/2026), lebih dari 100 penumpang masih berada di dalam kapal tersebut.
Tim dokter tambahan telah dikerahkan ke kapal tersebut, sementara otoritas kesehatan di setidaknya belasan negara kini sedang memantau para penumpang yang telah terpencar ke seluruh dunia setelah turun dari kapal.
Berdasarkan laporan ABC News, klasifikasi Level 3 ini diberikan CDC sebagai respons atas kondisi wabah yang mereka gambarkan sebagai situasi langka sekaligus tidak biasa
Wabah ini dianggap patut mendapat perhatian khusus justru karena kasus hantavirus di atas kapal pesiar yang melakukan perjalanan internasional merupakan hal yang benar-benar tidak umum.
Hal yang paling menarik perhatian publik adalah peringatan dari para pejabat kesehatan CDC mengenai potensi penularan.
Pejabat CDC memperingatkan kewaspadaan publik terkait penyebaran dari orang ke orang,
Baca juga: Singapura Rilis Kronologis Pasien Suspek Hantavirus Bisa Sampai ke Negaranya
CDC memiliki empat tingkat aktivasi darurat, di mana Level 1 merupakan respons tertinggi.
Klasifikasi Level 3 berarti badan tersebut sedang melakukan koordinasi di berbagai departemen dan mengaktifkan alokasi sumber daya khusus untuk menangani masalah tersebut
Namun demikian, situasi level 3 ini belum dikategorikan sebagai kondisi darurat yang membutuhkan pengerahan seluruh anggota CDC .
Status ini merupakan pengakuan bahwa sesuatu yang tidak normal sedang terjadi dan memerlukan pelacakan, tetapi tidak menunjukkan adanya krisis yang mengancam dalam waktu dekat.
Saat ini, pejabat kesehatan di berbagai negara bagian di Amerika Serikat sedang memantau para penumpang yang telah kembali ke rumah setelah berada di kapal tersebut.
Sejauh ini, belum ada indikasi terjadinya wabah sekunder di kalangan populasi umum.
Laporan CNN menyebutkan bahwa mulai dari Amerika Serikat hingga Singapura, otoritas kesehatan sedang bekerja keras untuk melacak pergerakan orang-orang yang pernah berada di kapal pesiar tersebut.
Salah seorang penumpang MV Hondius, Kasem Ibn Hattuta, memberikan keterangan mengenai situasi terkini di dalam kapal.
“Setiap orang menjaga semangat tetap tinggi, orang-orang tersenyum dan menghadapi situasi ini dengan tenang,” kata Kasem kepada ABC News.
Ia juga menambahkan bahwa penambahan beberapa dokter di atas kapal memberikan rasa aman dan meyakinkan bagi para penumpang.
Kapal MV Hondius sendiri diperkirakan akan segera merapat di Kepulauan Canary, Spanyol guna melakukan prosedur kesehatan lebih lanjut.
Tak hanya CDC, WHO juga merespons kekhawatiran global terhadap klaster MV Hondius dengan merilis fact sheet serta panduan resmi terbaru tentang hantavirus pada Rabu (6/5/2026).
Panduan ini mencakup fakta kunci, penularan, gejala, diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan pengendalian.Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang secara alami menginfeksi hewan pengerat (seperti tikus) dan sesekali menular ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah hingga fatal.
Sindrom utama Hantavirus dibagi menjadi dua kategori.
Pertama adalah Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang umum terjadi di kawasan Amerika, menyerang sistem pernapasan dan jantung dengan tingkat kematian mencapai 50 persen.
Virus Andes yang diduga terkait klaster MV Hondius termasuk dalam kelompok ini dan diketahui dapat menular antarmanusia secara terbatas melalui kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di Argentina dan Chile.
Baca juga: Bisakah Hantavirus Jadi Pandemi? Epidemiolog Jelaskan Penularannya Berbeda dengan Covid-19
Kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Sindrom ini lebih sering terjadi di Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, dan biasanya menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan tingkat kematian 1-15 persen.
Penularan utama terjadi melalui paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Gejala biasanya muncul 1-8 minggu setelah paparan, diawali dengan demam yang dapat berkembang cepat menjadi sesak napas, perdarahan, atau gagal ginjal.
Setiap tahun diperkirakan terjadi 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi hantavirus di seluruh dunia, dengan beban terbesar di Asia dan Eropa.
Penularan antarmanusia belum pernah didokumentasikan di luar benua Amerika.
(Tribunnews.com/Bobby)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.