Jakarta (ANTARA) -
Cara seseorang menggunakan emoji, tanda baca, hingga gaya mengetik pesan ternyata dapat menunjukkan usia dan kondisi emosional mereka.
Dikutip dari laman Psychology Today, Jumat (8/5) waktu setempat, menjelaskan bahwa pesan teks bukan sekadar alat menyampaikan informasi, tetapi juga bentuk ekspresi emosional dan cara membangun hubungan sosial.
Setiap emoji, tanda baca, hingga penggunaan singkatan tertentu disebut membawa “data emosional” mengenai pikiran dan perasaan seseorang.
Penelitian oleh Minich, Kerr, dan Moreno pada 2025 menemukan remaja menggunakan emoji dengan cara yang lebih kompleks, ironis, dan absurd dibanding kelompok usia lain.
Bagi remaja, emoji dipakai untuk menunjukkan emosi sekaligus menyampaikan nada bicara dan konteks tertentu.
Emoji wajah tertawa sambil menangis, misalnya, dapat berarti humor, ejekan, hingga rasa putus asa tergantung konteks percakapan.
Peneliti menilai gaya komunikasi tersebut berkaitan dengan masa remaja yang dipenuhi eksplorasi identitas, emosi intens, serta kecenderungan menyembunyikan ketakutan melalui sarkasme dan ironi.
Penggunaan tanda baca di akhir kalimat sering dianggap sebagai tanda kemarahan atau frustrasi oleh remaja.
Karena itu, penggunaan titik di akhir pesan terkadang membuat anak bertanya apakah orang tuanya sedang marah. Bahasa digital generasi muda tampaknya sudah berkembang ke titik di mana tata bahasa yang benar bisa dianggap ancaman emosional. Guru bahasa mungkin perlu terapi kelompok bersama.
Sementara itu, penelitian Emmanuel dan Isiaq pada 2025 menemukan kelompok usia 25 hingga 34 tahun paling sering menggunakan emoji, singkatan, dan tanda baca ekspresif seperti beberapa tanda seru sekaligus.
Menurut penelitian tersebut, gaya mengetik itu digunakan untuk menciptakan kesan hangat, akrab, dan menjaga hubungan sosial di tengah kehidupan yang serba cepat.
Pada kelompok usia ini, pesan teks digunakan untuk bertukar informasi sekaligus membangun koneksi emosional dengan orang lain.
Adapun kelompok usia 35 hingga 54 tahun disebut lebih memilih gaya pesan yang langsung dan fungsional dengan penggunaan emoji yang jauh lebih sedikit.
Kelompok usia paruh baya cenderung memakai pesan singkat untuk kebutuhan praktis dibanding membangun kedekatan emosional.
Nada sarkasme atau sindiran biasanya disampaikan melalui susunan kalimat dan tanda baca seperti elipsis atau tiga titik.
Penelitian lain oleh Pang dan rekan-rekannya pada 2025 menemukan orang lanjut usia lebih jarang menggunakan emoji, tetapi cenderung memakainya secara tulus.
Emoji senyum pada kelompok usia lanjut umumnya benar-benar menunjukkan rasa bahagia atau kedekatan emosional, berbeda dengan remaja yang sering menggunakannya secara sarkastik.
Disimpulkan bahwa gaya mengetik pesan digital kini berkembang menjadi semacam “dialek bahasa” baru yang berbeda pada tiap generasi.
Karena itu, memahami konteks dan kebiasaan komunikasi masing-masing kelompok usia dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman dalam percakapan digital.