Manfaat ekspor obat dari Indonesia ke negara-negara di Eropa dan luar negeri lainnya menjadi manifestasi yang menunjukkan bahwa kepercayaan publik di dunia internasional terhadap produk Indonesia semakin tinggi

Cikarang, Jawa Barat (ANTARA) - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar melepas kontainer ekspor ke-150 PT Ferron Par Pharmaceuticals ke Eropa yang menjadi bukti industri obat di Indonesia mampu bersaing secara global.


"Ini menjadi bukti bahwa Indonesia bukan hanya sekedar pengimpor, melainkan bangsa ini sudah mampu mengekspor bukan hanya ke negara-negara tetangga, tetapi menembus pasar Eropa. Ini akan berdampak kepada ekonomi nasional kita dalam bentuk devisa negara," katanya saat melepas pengiriman kontainer tersebut di Cikarang, Jawa Barat, Kamis.


Taruna menegaskan, manfaat ekspor obat dari Indonesia ke negara-negara di Eropa dan luar negeri lainnya menjadi manifestasi yang menunjukkan bahwa kepercayaan publik di dunia internasional terhadap produk Indonesia semakin tinggi. Hal ini tidak lepas dari peran BPOM yang telah mendapatkan WHO Listed Authority atau WLA sebagai reputasi tertinggi regulator di dunia.


WLA tersebut merupakan pengakuan WHO terhadap otoritas regulatori yang memiliki sistem pengawasan obat berstandar internasional. Dengan status itu, Indonesia masuk dalam jaringan global WLA yang mencakup 41 otoritas regulator dari 39 negara. Status ini memperkuat kredibilitas sistem regulasi Indonesia dan menjadi modal kepercayaan bagi industri farmasi nasional di pasar global.







Ia berharap, upaya ini menjadi langkah yang baik untuk menembus pasar global lainnya seperti negara-negara Timur Tengah atau negara-negara di Arab, Amerika Selatan, hingga Amerika Serikat.


"Bagaimana kita meningkatkan daya saing adalah pertama-tama meningkatkan reputasi. Kalau kita tersertifikasi oleh lembaga internasional dengan WLA itu, berarti kita sudah setingkat dengan Amerika dan Eropa. Strategi kedua, BPOM akan memberikan berbagai macam insentif, misal mempercepat sertifikat tanpa mengurangi kualitas karena kita sudah miliki tim asesor yang sangat berkualitas," ucap Taruna.


Data Kementerian Perindustrian RI mencatat nilai ekspor industri farmasi dan obat bahan alam Indonesia mencapai 639,42 juta dolar AS pada periode Januari hingga September 2024. Status WLA BPOM RI memperkuat kepercayaan pasar internasional terhadap industri farmasi nasional.


PT Ferron Par Pharmaceuticals, perusahaan bagian dari Dexa Group, menjadi salah satu contoh konkret kemampuan industri farmasi Indonesia dalam memenuhi standar pasar global.







Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals Benny Sutisna Suwarno mengatakan, keberangkatan kontainer ke-150 merupakan hasil dari disiplin mutu yang dijaga secara konsisten dan dukungan BPOM RI dalam membina industri farmasi nasional.


"Selama 23 tahun PT Ferron berkiprah, sudah banyak pencapaian, salah satunya 18 tahun tersertifikasi internasional. Sejak 2008, kami terus mengirimkan produk-produk ke Eropa. Ini membuktikan bahwa kualitas yang dibangun oleh anak bangsa tidak kalah dengan kualitas perusahaan multinasional atau negara-negara maju yang lain," ujar Benny.


Menurutnya, industri obat Indonesia yang mampu bersaing secara global juga tidak terlepas dari dukungan dari BPOM yang telah melakukan pengawasan, pembinaan, dan dukungan yang diperlukan bagi industri farmasi.


"Semua ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara Ferron dan BPOM menuju sukses global bukan hanya angan-angan, melainkan menjadi suatu kenyataan dengan dikirimnya kontainer yang ke-150 untuk menuju ke Eropa," tutur Benny.


Kontainer ke-150 yang bertolak dari Cikarang membawa obat diabetes produksi Indonesia menuju Inggris, Belanda, dan Polandia. Perjalanan itu adalah cerminan dari 18 tahun konsistensi industri farmasi Indonesia dalam memenuhi standar mutu dan kepatuhan regulasi pasar global.