Jakarta (ANTARA) -
Perencana keuangan sekaligus pendiri DNA Finance Indonesia Aliyah Natasya mengungkap tiga kesalahan yang kerap dilakukan orang tua dalam mengelola keuangan menjelang tahun ajaran baru, mulai dari menggunakan dana darurat hingga memilih sekolah yang tidak sesuai kemampuan finansial keluarga.
Aliyah mengatakan periode tahun ajaran baru sering menjadi tantangan bagi keluarga karena berbagai kebutuhan pendidikan muncul dalam waktu yang bersamaan, seperti uang pangkal, seragam, buku pelajaran, dan biaya penunjang lainnya. Namun, menurut dia, tekanan keuangan sering kali bukan semata disebabkan besarnya biaya pendidikan, melainkan kurangnya perencanaan.
"Dari ratusan sesi konsultasi, saya melihat pola yang sama berulang setiap tahun," kata Aliyah saat dihubungi ANTARA pada Kamis.
Kesalahan pertama yang paling mengkhawatirkan, kata dia, adalah penggunaan dana darurat atau utang konsumtif berbunga tinggi untuk membiayai kebutuhan sekolah anak.
Menurut Aliyah, dana darurat seharusnya digunakan untuk kondisi yang benar-benar tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, sakit, atau keadaan darurat lainnya, bukan untuk kebutuhan pendidikan yang sebenarnya dapat diperkirakan sejak jauh hari.
"Dana darurat bukan bank. Ia adalah benteng terakhir keluarga untuk situasi yang benar-benar tidak terduga," ujarnya.
Kesalahan kedua adalah menghitung biaya pendidikan secara terlalu sempit. Banyak orang tua hanya memperhitungkan uang sekolah dan uang pangkal, padahal terdapat berbagai komponen lain yang perlu dianggarkan.
Ia mencontohkan biaya transportasi, perangkat digital seperti laptop atau tablet, kuota internet, les tambahan, hingga kegiatan sekolah seperti study tour sering kali luput dari perencanaan keuangan keluarga. Akibatnya, anggaran yang telah disusun menjadi tidak mencukupi ketika tahun ajaran baru dimulai.
Kesalahan berikutnya adalah memilih sekolah berdasarkan gengsi atau aspirasi semata tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial jangka panjang keluarga.
Aliyah mengatakan sebagian orang tua memilih sekolah yang "masih bisa diusahakan" ketimbang yang benar-benar sesuai dengan kapasitas keuangan mereka. Kondisi tersebut dapat menimbulkan tekanan ketika terjadi perubahan pendapatan atau situasi ekonomi keluarga di kemudian hari.
Ia menyarankan orang tua meninjau kemampuan finansial setidaknya untuk tiga tahun ke depan sebelum menentukan pilihan sekolah bagi anak.
"Saya selalu bilang kepada klien, review kapasitas finansial Anda untuk tiga tahun ke depan sebelum memilih sekolah. Karena sekali masuk, sangat sulit untuk mundur," kata Aliyah.
Menurut dia, keputusan pendidikan perlu didasarkan pada kemampuan membayar secara konsisten dalam jangka panjang, bukan hanya kemampuan memenuhi biaya pada tahun pertama.
"Jangan beli tiket yang tidak bisa kamu bayar sampai stasiun tujuan," ujarnya.