Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Alsi Mega Marsha Tengker., B. A., M.Sc., M.Psi., Psikolog menilai pendampingan anak di ruang digital perlu dilakukan orang tua dengan keseimbangan antara kepercayaan dan perlindungan.
“Kalau kita ngomongin memberikan perlindungan dan kepercayaan itu perlu diseimbangkan. Kalau anak udah percaya sama kita, kita kasih peraturan apa aja mereka dengan 'oke bu' gitu ya gampang,” kata psikolog yang akrab disapa Caca, dalam acara “#AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia” di Jakarta, pada Kamis.
Caca mengatakan bahwa kepercayaan dari orang tua akan membangun rasa percaya diri pada anak. Pada awalnya anak meminjam rasa percaya dari orang tua, kemudian menumbuhkan terhadap dirinya sendiri. Orang tua tetap melindungi dan memiliki tanggung jawab atas apa yang anak lakukan.
Psikolog yang tergabung dalam bagian Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu juga menyampaikan keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan perlu disesuaikan dengan usia anak.
Anak yang masih sangat kecil tentu membutuhkan pengawasan lebih besar karena belum mampu mengambil keputusan sendiri. Namun, seiring pertumbuhan anak, porsi perlindungan dapat dikurangi secara bertahap dan digantikan dengan kepercayaan yang lebih besar.
Seperti halnya pendampingan anak di ruang digital juga membantu memudahkan orang tua untuk memproteksi tanpa mengurangi rasa percaya juga ke mereka, seperti tersedianya fitur pengawasan di Google dan YouTube.
“Karena itu bisa jadi sesuatu yang jadi bahan diskusi gitu. Sampai sejauh mana sih Ibu mau tahu tentang apa yang anak lihat di internet. Tujuannya Ibu tahu, bukan karena enggak percaya sama, tapi itu ibu tanggung jawab. Kita sama-sama sesuai dengan fungsinya masing-masing, anak fungsinya memang belajar salah satunya dari orang tuanya,” imbuh Caca.
Menurut Caca, anak cenderung tidak akan mematuhi aturan jika mereka tidak memiliki kepercayaan kepada orang tuanya. Perlu dibangun kepercayaan antara anak dan orang tua, di mana bisa saling terbuka. Perlindungan yang tidak disertai kepercayaan justru menghasilkan ketakutan, anak jadi takut.
“Kepercayaan tanpa perlindungan itu menghasilkan kerentanan, anak kita jadi rentan di internet. Itu juga bukan sesuatu yang kita mau. Makanya keseimbangan itu perlu kita jaga dan pelajari lebih lanjut,” kata dia.
Caca juga menyampaikan kiat healthy digital habits atau kebiasaan yang sehat ketika di ruang digital hal-hal yang dilakukan orang tua agar menjadi sesuatu yang otomatis untuk buat anak-anak.
Menurut dia, tujuan utama yang ingin dicapai kemampuan self-regulation, yakni ketika anak lama-lama ibaratnya bisa meregulasi tahu apa yang harus mereka lihat di internet.
Jika proses tersebut berjalan baik, orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anak, sementara anak tetap merasa nyaman untuk berdiskusi jika menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan usia atau nilai yang diajarkan.
Dalam membangun kebiasaan digital yang sehat, kata Caca, yang terpenting konsistensi. Orang tua tidak perlu menuntut hasil sempurna atau berharap anak langsung mampu memegang kepercayaan secara tiba-tiba.
“Tapi gimana kita bikin habit di rumah, misalkan berapa lama kita nontonnya, tapi berapa lama nontonnya tuh bukan itu yang paling penting tapi itu untuk menjadi habit buat mereka bisa meregulasi diri mereka sendiri di dunia digital,” imbuh Caca.
Lebih lanjut, Caca menambahkan bahwa anak perlu memahami alasan di balik aturan atau keputusan yang dibuat orang tua, di mana pentingnya keterbukaan dan kejujuran.
Meski terkadang bersikap jujur pada anak dinilainya mungkin tidak selalu mudah, tetapi kejujuran dapat dilatih hingga menjadi kebiasaan.
“Jujur itu bisa jadi habit yang penting kita konsisten enggak usah harus langsung semuanya perfect, tapi kita bisa konsisten melakukan itu setiap harinya, jujur sama anak," kata Caca.