Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis dan keluarga lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada Pritta Tyas, M.Psi. menekankan pentingnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak lewat bermain bersama untuk mendukung tumbuh kembang sekaligus mencegah risiko adiksi digital pada usia dini.
Menurut Pritta, paparan gim daring secara berlebihan di usia dini dapat memicu fenomena "popcorn brain" atau kondisi otak bekerja terus-menerus mencari stimulasi kesenangan baru akibat tingginya produksi dopamin yang dipicu oleh aktivitas digital sebelumnya.
"Jadi games online yang dia mainkan terus-menerus menghasilkan dopamin namanya, yang membuat dia nyari lagi, nyari lagi, nyari lagi. Kayak kita kalau lagi scrolling sosial media. Dan itu mengganggu fokusnya dia, mengganggu kualitas tidurnya dia," ujar Pritta di acara LEGO Playground, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan stimulasi berlebihan dari gim daring dapat memengaruhi kemampuan konsentrasi, kualitas tidur, hingga proses belajar anak.
Oleh karena itu, Pritta mengaku termasuk golongan orang tua yang ketat mengatur durasi penggunaan gawai kedua anaknya, terutama saat mereka masih di bawah rentang usia 15 dan 16 tahun.
Sebagai alternatif, Pritta memperbanyak aktivitas yang melibatkan interaksi langsung dan eksplorasi fisik dengan tangan, seperti bermain balok konstruksi, menyusun LEGO bricks, menggambar, atau kegiatan kreatif lainnya.
Aktivitas semacam itu secara psikologis mampu merangsang perkembangan kognitif, motorik, dan kemampuan memecahkan masalah sekaligus meningkatkan "bonding" orang tua dengan anak.
Menurut Pritta, aktivitas fisik seperti menyusun LEGO bricks dapat mempererat hubungan tersebut karena memungkinkan terjadinya interaksi "tukar pikiran" yang memberi kesempatan anak mengutarakan pikirannya hingga menerima apresiasi positif dari orang tua.
Meski demikian, Pritta menegaskan teknologi bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya.
Namun, penguatan hubungan emosional dalam keluarga menjadi faktor penting agar anak tidak menjadikan perangkat digital sebagai satu-satunya sumber hiburan maupun pelarian.
Melalui komunikasi yang hangat, aktivitas bersama, dan pembatasan penggunaan gawai yang konsisten, orang tua dapat membantu anak tumbuh dengan lebih sehat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin masif.
Sementara itu, aktris Quinn Salman mengungkapkan dampak rutin bermain bersama keluarga yang ia rasakan.
Meski terjadwal dengan aktivitas promosi film, produksi lagu baru, hingga pentas teater musikal, Quinn hingga kini masih senang memprioritaskan waktu untuk "quality time" bersama orang tua dan adiknya.
"Semuanya karena waktu kumpul keluarga selalu dilalui dengan hati riang, positive vibe, biar aku tetap tidak merasa kehilangan waktu berharga untuk bermain dan quality time juga," tutur Quinn.
Bermain bersama memberinya ruang nyaman untuk tetap berkarya tanpa merasa terbebani oleh tuntutan profesional.
Seperti saat terlibat dalam "Musikal Keluarga Cemara" yang memakan tenaga dan waktu selama tiga bulan latihan untuk 15 kali pementasan, Quinn mengatakan itu tidak pernah membebani karena setelah itu, tetap bisa menikmati perannya sebagai pelaku seni sekaligus sebagai remaja yang butuh waktu bermain.
Quinn yang terlibat dalam film animasi "Garuda Di Dadaku" itu mengungkapkan selalu menyenangi waktu libur sekolah.
Itu karena ia bisa bermain LEGO bricks bersama keluarga di rumah hingga berbelanja barang yang ia senangi sebagai bagian dari quality time bersama orang-orang tercinta.
"Pokoknya liburan ini, aku pingin quality time sama Ibu, Bapak, sama Adik. Tetap harus bermain, karena kita kan masih remaja," kata Quinn.