Keberhasilan DIM menghimpun 1,5 miliar dolar AS menunjukkan bahwa Danantara sebagai institusi telah memiliki prospek, dukungan kelembagaan yang baik, serta peran strategis dalam agenda pembangunan nasional
Jakarta (ANTARA) - Pengamat kebijakan publik Feiral Rizky Batubara menilai kuatnya minat investor terhadap obligasi internasional perdana Danantara Investment Management (DIM) menjadi sinyal bahwa pasar global masih menaruh kepercayaan pada kredibilitas Danantara.
Menurutnya, respons pasar terhadap instrumen berdenominasi dolar tersebut tidak hanya tercermin dari nilai penerbitan yang mencapai 1,5 miliar dolar AS, tetapi juga dari besarnya permintaan yang masuk selama proses penawaran.
“Kuatnya permintaan itu terlihat dari transaksi yang sejak awal ditargetkan sebesar 1 miliar dolar AS, namun kemudian mencatat peak order book sekitar 4,6 miliar dolar AS dan akhirnya ditingkatkan menjadi 1,5 miliar dolar AS,” kata Feiral di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan tingginya permintaan tersebut menunjukkan obligasi ini memang diminati pasar. Apalagi, tambahan permintaan juga datang dari investor di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.
Menurutnya, kombinasi antara besarnya permintaan dan tingkat imbal hasil yang tetap kompetitif menunjukkan pasar tidak sekadar merespons positif, tetapi juga menilai instrumen tersebut layak masuk ke dalam portofolio investor global.
“Penerbitan obligasi perdana di pasar internasional merupakan ujian kredibilitas, apalagi dilakukan di tengah kondisi global yang tidak mudah. Keberhasilan DIM menghimpun 1,5 miliar dolar AS menunjukkan bahwa Danantara sebagai institusi telah memiliki prospek, dukungan kelembagaan yang baik, serta peran strategis dalam agenda pembangunan nasional,” kata Feiral.
Feiral menilai, di tengah ketidakpastian geopolitik global, investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana, terutama di negara berkembang yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. Karena itu, besarnya permintaan terhadap obligasi DIM menunjukkan pasar memberikan sinyal positif terhadap arah pengelolaan investasi Danantara.
Selain didukung tingginya permintaan pasar, Feiral mengatakan keberhasilan penerbitan obligasi internasional perdana DIM juga ditopang oleh peringkat investment grade, yakni BBB dari S&P Global dan Baa2 dari Moody’s. Peringkat tersebut menempatkan obligasi DIM dalam kategori layak investasi dengan risiko moderat.
Status investment grade menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan investor institusional dalam mengambil keputusan investasi.
“Peringkat Baa2 dan BBB itu seperti tiket masuk ke pasar global. Bagi banyak investor internasional, terutama fund manager, perusahaan asuransi, hingga pengelola dana pensiun, rating menjadi dasar utama dalam menilai risiko, menentukan alokasi portofolio, serta melihat apakah suatu instrumen layak dimiliki,” katanya.
Meski demikian, pengakuan tersebut juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya ekspektasi investor terhadap kualitas tata kelola, transparansi, dan manajemen risiko yang dijalankan.
“Kepercayaan investor global ini harus dipahami sebagai mandat, bukan sekadar prestasi. Dana yang telah dihimpun harus dikelola secara disiplin, transparan, dan produktif sehingga mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata bagi Indonesia,” ujar Feiral.
Ia berharap dana hasil penerbitan obligasi dapat diarahkan ke sektor-sektor strategis yang memiliki efek pengganda besar terhadap perekonomian, seperti hilirisasi industri, energi, infrastruktur, serta proyek-proyek yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah nasional.
Sebagaimana diketahui, pada 12 Juni lalu Danantara Indonesia melalui DIM mengumumkan keberhasilan penerbitan obligasi internasional perdana senilai 1,5 miliar dolar AS.
Obligasi tersebut diterbitkan pada 11 Juni 2026 dengan nilai peak order book mencapai 4,6 miliar dolar AS, mencerminkan tingginya minat investor global terhadap instrumen yang ditawarkan.