Bandung (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Jawa Barat mengungkapkan ada lima golongan perdagangan barang ekspor, mulai dari permesinan hingga tekstil, telah membuat perdagangan Jawa Barat pada periode Januari hingga April tahun 2026 mencatatkan raihan positif atau surplus.


"Posisi perdagangan kita bagus pada Januari- April, kita surplus hampir 9 miliar dolar AS. Ekspor kita didominasi oleh lima jenis yakni kendaraan dan bagiannya, mesin elektrik dan mesin mekanis, terus rajutan, alas kaki, kemudian juga barang dari karet," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Nining Yulistiani di Bandung, Rabu.


Namun demikian, Nining mengaku pihaknya terus mengawasi ketat pergerakan impor bahan baku dan bahan penolong sektor manufaktur, guna mengantisipasi penurunan produktivitas industri, mengingat berbagai produk dari Jabar termasuk lima komoditas ekspor unggulan itu, hampir seluruh bahan bakunya memiliki unsur yang harus impor.


Hal ini, kata Nining, demi mengantisipasi penurunan produksi yang efeknya bisa ke mana-mana, bahkan berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).







Langkah kewaspadaan tersebut, diambil menyusul adanya indikasi para pelaku usaha melakukan penahanan (hold) aktivitas impor akibat tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.


"Kita khawatirkan seperti itu. Saat ini masih dalam posisi kerangka aman sih enggak terlalu jauh beda. Posisi impor kita di bulan April itu 1,1 miliar dolar AS. So far masih enggak terlalu jauh dari yang bulan sebelumnya. Tapi kita perlu awasi ini," kata Nining.


Terkait rupiah, Nining menjelaskan fluktuasi nilai tukar mata uang domestik sangat sensitif terhadap utilitas produksi pabrik di Jawa Barat yang mayoritas masih bergantung pada pasokan komponen luar negeri.


Jika penahanan impor berlangsung lama, dampak berantainya akan langsung memukul sektor ketenagakerjaan.


"Kaitannya nantinya bisa menurunkan tingkat produktivitas dari industri dan ini mungkin bisa berdampak kepada nanti tenaga kerja, kemudian produksinya dan lain sebagainya gitu," ujar Nining.






Pada kesempatan terpisah Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati merincikan performa surplus 8,9 miliar dolar AS pada Januari-April 2026 tersebut ditopang oleh nilai total ekspor kumulatif empat bulan tersebut yang menyentuh angka 12,58 miliar dolar AS, atau tumbuh 4,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.


Ari memaparkan bahwa pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai 12,51 miliar dolar AS (naik 4,30 persen), sementara ekspor migas justru merosot 16,39 persen di angka 72,70 juta dolar AS.


Secara sektoral, kinerja ekspor Januari-April 2026 kompak merangkak naik dibanding periode yang sama tahun lalu. Sektor Industri Pengolahan tumbuh 4,30 persen, Sektor Pertanian naik 4,21 persen, serta Sektor Pertambangan dan Lainnya meningkat 2,20 persen.


"Ekspor nonmigas terbesar selama Januari 2026 hingga April 2026 dilakukan ke Amerika Serikat dengan nilai 2,08 miliar dolar AS, disusul Filipina sebesar 1,19 miliar dolar AS dan ke Jepang sebesar 922,58 juta dolar AS dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,53 persen," kata dia.



Adapun ekspor ke kawasan ASEAN tercatat sebesar 3,47 miliar dolar AS, serta ke gabungan wilayah Amerika dan Eropa menembus 4,70 miliar dolar AS.






Dari sepuluh komoditas utama, Golongan Kendaraan dan Bagiannya mencetak peningkatan ekspor tertinggi sebesar 297,95 juta dolar AS (11,80 persen). Sebaliknya, Golongan Perhiasan/Permata terkoreksi paling dalam hingga 73,59 juta dolar AS (18,99 persen).


Di sisi hulu impor, BPS mencatat total nilai impor Jabar Januari-April 2026 menyusut 7,63 persen menjadi 3,68 miliar dolar AS. Impor nonmigas berada di angka 3,44 miliar dolar AS (turun 0,54 persen) dan impor migas anjlok 55,08 persen menjadi 232,36 juta dolar AS.


Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ke Tanah Pasundan masih didominasi oleh Tiongkok senilai 1,41 miliar dolar AS (41,04 persen), disusul Jepang sebesar 410,06 juta dolar AS (11,91 persen), dan Korea Selatan sebesar 407,46 juta dolar AS (11,83 persen).



Data menarik, dari sepuluh komoditas utama impor nonmigas, golongan kendaraan dan bagiannya justru jatuh paling dalam sebesar 154,38 juta dolar AS (51,08 persen). Sementara itu, golongan mesin dan perlengkapan elektronik mengalami kenaikan impor tertinggi sebesar 97,19 juta dolar AS (18,25 persen).






BPS mencatat impor barang modal turun 17,20 persen, barang konsumsi turun 12,63 persen, serta bahan baku/penolong yang menjadi motor penggerak pabrik ikut menyusut 5,63 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.