Banjarbaru (ANTARA) - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadikan kawasan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia di Banjarbaru sebagai contoh penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan serasah daun dan ranting menjadi pupuk kompos untuk mendukung pelestarian lingkungan berkelanjutan.
Kepala Dishut Kalsel Fathimatuzzahra di Banjarbaru, Rabu, mengatakan pemanfaatan limbah organik menjadi kompos merupakan bagian dari pengelolaan kawasan berbasis lingkungan yang tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menghasilkan produk bermanfaat bagi pemeliharaan vegetasi.
“Kegiatan pembersihan kawasan tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan, tetapi juga menghasilkan serasah daun dan ranting yang dapat diolah menjadi pupuk kompos untuk mendukung pemeliharaan tanaman secara ramah lingkungan,” ujar Fathimatuzzahra.
Ia menyebutkan kegiatan tersebut dilakukan melalui gotong-royong rutin yang melibatkan jajaran ASN dalam membersihkan kawasan taman hutan tropis sekaligus mengumpulkan material organik yang dapat dimanfaatkan kembali.
“Kegiatan pemeliharaan mencakup pembersihan sampah, pemangkasan ranting pohon, pembersihan saluran air, serta pengumpulan serasah daun yang tersebar di berbagai area kawasan taman hutan tropis tersebut,” katanya.
Dia menjelaskan serasah daun dan ranting yang terkumpul, kemudian dipilah serta diolah menjadi kompos, sehingga memiliki nilai guna lebih tinggi dibandingkan apabila hanya menjadi limbah organik yang dibiarkan menumpuk di kawasan.
Setelah itu, kompos yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di kawasan taman hutan tropis maupun pada kegiatan penghijauan di lokasi lain yang memerlukan dukungan pupuk organik.
Fathimatuzzahra menuturkan pengolahan serasah menjadi kompos merupakan bentuk pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan karena mampu mengurangi volume limbah organik sekaligus mengembalikan unsur hara ke lingkungan melalui penggunaan pupuk alami.
“Langkah tersebut sebagai komitmen menerapkan prinsip ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali sumber daya agar memberikan nilai tambah bagi pengelolaan kawasan dan pelestarian ekosistem,” ujar dia.
Di kawasan Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia tersebut, Dishut Kalsel mengkonservasi berbagai jenis tanaman khas hutan Kalimantan, seperti pohon ulin, sekitar 14 ribu tanaman meranti, serta jenis tumbuhan endemik lainnya yang menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat konservasi di provinsi itu.