Moskow (ANTARA) - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) memicu krisis sosial-ekonomi berskala besar dan berpotensi menyebabkan kerugian produk domestik bruto (PDB) negara-negara Afrika hingga 3,6 miliar dolar AS (sekitar Rp64,26 triliun), menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).


Dalam laporan yang diterbitkan pada Senin (29/6), UNDP menyatakan wabah penyakit akibat virus Ebola (EVD) di DRC diperkirakan dapat mendorong sekitar 985 ribu orang lagi untuk jatuh ke jurang kemiskinan.


Laporan tersebut juga menyebut krisis Ebola berisiko menghilangkan puluhan ribu lapangan kerja, mengganggu layanan pendidikan dan kesehatan, serta menyebabkan kerugian ekonomi bagi negara-negara Afrika hingga 3,6 miliar dolar AS apabila dampak regional maupun global semakin memburuk.


Menurut UNDP, wabah tersebut menjadi guncangan yang memperparah kemiskinan di DRC dan negara-negara tetangganya, termasuk Uganda, Rwanda, dan Sudan Selatan.


Meski ancaman terhadap kesehatan masyarakat sangat serius sehingga memerlukan langkah-langkah karantina, pembatasan yang lebih luas terhadap mobilitas masyarakat dan perdagangan secara tidak langsung telah menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi perekonomian lokal dan mata pencaharian sektor informal.






UNDP memperkirakan bahwa bahkan dalam skenario dasar ketika penyebaran virus berhasil dikendalikan di DRC dan Uganda, dampak ekonominya tetap sangat besar.


Dalam skenario tersebut, DRC diproyeksikan mengalami kehilangan PDB riil lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17,5 triliun) dan sekitar 55 ribu lapangan kerja akan hilang.


Laporan itu juga memperingatkan bahwa gangguan perdagangan, pembatasan lintas perbatasan, serta keterlambatan transportasi dapat menyebabkan kontraksi PDB Afrika sebesar 2,37 miliar dolar AS (sekitar Rp42,3 triliun).


Selain itu, 20 persen rumah tangga termiskin diperkirakan mengalami penurunan konsumsi harian yang menghapus berbagai capaian pembangunan yang selama ini telah diraih serta berpotensi memicu krisis kemiskinan jangka panjang.


Sebelumnya pada 15 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di DRC dan Uganda sebagai keadaan darurat yang berpotensi menimbulkan risiko bagi negara lain, dengan tingkat risiko penyebaran virus di kawasan dinilai tinggi.






Berdasarkan data terbaru, jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut telah mencapai 377 orang, sementara jumlah kasus terkonfirmasi tercatat sebanyak 1.307 kasus.


Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA