Jakarta (ANTARA) - Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel menilai teater dalam satu kali pertunjukan banyak hal yang bisa dipelajari para penonton.
Menurut dia, pertunjukan teater menyajikan beragam unsur budaya, tradisi, seninya Indonesia, semuanya bisa ada di situ baik dari fabric atau tekstil yang dipakai dalam kostum, jenis aransemen musik, alat musik, genre musik, dan gaya dialog yang ditampilkan di atas panggung.
“Bahkan sampai cerita-cerita yang terjadi di realitas sosial menjadi satu relevansi yang berbeda juga untuk dibawakan di atas panggung teater,” ujar Billy, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Billy menilai teater tidak akan pernah kalah dengan sajian hiburan lainnya, walaupun di masa berkembang saat ini. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga relevansi teater agar pengalaman yang dihadirkan tetap berkesan.
“Menjadi PR-nya para pekerja di teater, kita semua, teater apa pun bentuknya untuk tetap menjaga relevansi itu supaya rasa yang berbeda ini ketika penonton, ketika publik hadir itu bisa tetap terus relevan dan dibawa menjadi kenangan tersendiri ketika menonton teater,” imbuh dia.
Menanggapi banyaknya pilihan hiburan sekarang termasuk yang bisa disaksikan dari rumah, Billy mengatakan Bakti Budaya Djarum Foundation percaya bahwa pengalaman menyaksikan teater itu pasti berbeda dengan pengalaman menyaksikan hiburan lainnya.
Dalam menyaksikan teater bisa dialami secara langsung seperti emosi, cerita, perubahan set yang dibawakan oleh para pemain di atas panggung.
“Semua artistik dalam cerita supaya ceritanya mengalir, emosinya dibangun, itu rasanya menjadi satu pengalaman yang berbeda yang enggak bisa dirasain dari pertunjukan lainnya,” tutur dia.
Billy menilai bahwa pertunjukan teater menjadikan sajian hiburan bukan hanya mengenai karya-karya baru saja, tapi justru cerita-cerita lama yang mungkin punya artistik yang kuat, pesan moral, dan relevansi sosial tetap layak dipentaskan karena masih dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Itu juga menjadi satu pilihan dan penting sebetulnya karena dari situ juga menjadi pintu buat generasi-generasi baru yang tadinya belum mengenal, belum terpapar jadi tahu,” kata dia.
Dalam hal ini, Billy menyoroti salah satunya pertunjukan lakon “Rumah Sakit Jiwa” yang akan kembali dihadirkan oleh Teater Koma usai 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan 1991.
Menurut dia, cerita lakon itu membuka peluang buat generasi baru untuk mengenal Teater Koma, melalui pesan-pesan moral yang diangkat, dan dibawa ke masa sekarang bisa menggugah orang untuk mau menonton.
“Cerita tahun 1991 dibawain di tahun 2026 dan kayaknya rentang 35 tahun itu kan sudah banyak generasi yang pertumbuhan dan perubahan yang terjadi tapi ternyata kita masih punya pesan sosial yang sama, berarti itu jadi satu hal yang menarik yang juga buat penonton baru nantinya lebih terbuka lagi,” imbuh dia.
Adapun lakon “Rumah Sakit Jiwa” ditulis oleh N. Riantiarno dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno, serta berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, akan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.