Jakarta (ANTARA) - PT Pelabuhan Indonesia (Persero), melalui anak usahanya PT Pelindo Sinergi Lokaseva, mengawal persiapan operasional jembatan layang (fly over) Teluk Lamong (FOTL) menyusul konstruksi rampung 100 persen guna memperkuat konektivitas dan memperlancar arus logistik di Jawa Timur.


Senior Vice President Sekretariat Perusahaan Pelindo Sinergi Lokaseva (PSL) Dewi Fitriyani mengatakan pihaknya terus mendukung penguatan konektivitas kawasan strategis berbasis pelabuhan guna memperlancar arus barang, memperkuat integrasi kawasan, dan meningkatkan daya saing wilayah.


"Salah satu infrastruktur strategis yang saat ini memasuki tahap persiapan operasional adalah fly over Teluk Lamong yang telah rampung dibangun secara fisik. Ini merupakan infrastruktur konektivitas yang menghubungkan Terminal Teluk Lamong dengan jaringan jalan utama di sekitarnya," kata Dewi dalam keterangan di Jakarta, Senin.


Infrastruktur tersebut telah mencapai progres fisik 100 persen dan saat ini berada pada tahap persiapan operasional sebelum dapat dimanfaatkan secara penuh untuk mendukung kelancaran aktivitas logistik dan kepelabuhanan di Jawa Timur.


Dewi menyampaikan pengembangan FOTL menjadi bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, dan jaringan transportasi utama.






Konektivitas yang terintegrasi menjadi faktor penting dalam menciptakan efisiensi pergerakan barang, mengurangi hambatan logistik, serta mendukung kelancaran rantai pasok di kawasan hinterland pelabuhan.


Sebagai anak usaha Pelindo yang berfokus pada layanan pendukung pelabuhan dan pengembangan kawasan terintegrasi, PSL melalui entitas usahanya, PT Akses Pelabuhan Indonesia (API), turut mendukung kesiapan praoperasi fly over Teluk Lamong.


Dukungan tersebut dilakukan dengan memastikan seluruh aspek teknis, operasional, keselamatan, dan tata kelola pengoperasian FOTL telah dipersiapkan sesuai standar yang ditetapkan sebelum infrastruktur itu resmi beroperasi.


"Ke depan, FOTL juga direncanakan terintegrasi dengan Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB), akses Gelora Bung Tomo, serta Tol Romokalisari," bebernya.


Integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas kawasan hinterland, mendukung kelancaran distribusi barang, serta meningkatkan efisiensi pergerakan logistik di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.






Dewi mengatakan pengembangan konektivitas menuju kawasan pelabuhan merupakan elemen penting dalam menciptakan ekosistem kepelabuhanan yang terintegrasi dan bernilai tambah.


Selain itu, pembangunan infrastruktur akses ini juga telah lama ditunggu oleh para pengguna jasa karena akan memperlancar akses menuju Pelabuhan Teluk Lamong yang saat ini memiliki trafik sangat padat.


"Pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan kawasan," tegasnya.


Karena itu, lanjut Dewi, pihaknya terus mendukung pengembangan infrastruktur dan konektivitas yang memperkuat integrasi kawasan pelabuhan dengan aktivitas industri, perdagangan, dan layanan kepelabuhanan sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional maupun daerah.


Ia menambahkan pihaknya akan terus mendukung pengembangan konektivitas kawasan berbasis pelabuhan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.


Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang terintegrasi guna mendukung kelancaran logistik, memperkuat keterhubungan kawasan, serta mendorong terciptanya ekosistem kepelabuhanan yang semakin efisien dan berdaya saing.