Makassar (ANTARA) - Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Jamaluddin Jompa menilai bahwa pemahaman terhadap budaya menjadi salah satu pintu untuk memperkuat hubungan dan pemersatu antarnegara ASEAN, khususnya bagi generasi muda.
Prof Jamaluddin Jompa (JJ) dalam keterangan di Makassar, Senin, mengatakan kedekatan budaya dapat dibangun melalui pengalaman langsung, pertukaran pengetahuan, dan jejaring antar-kampus.
Karena itu, menurut dia, generasi muda perlu memiliki lebih banyak kesempatan untuk datang ke berbagai wilayah, berinteraksi dengan masyarakat, serta mengenal bahasa dan sejarah yang membentuk identitas suatu daerah.
Ia menjelaskan Makassar memiliki ruang yang kuat untuk pengalaman tersebut. Sejarah kota ini sebagai titik perjumpaan berbagai komunitas meninggalkan jejak pada bahasa, tradisi, sejarah maritim, dan kehidupan masyarakat yang terus berkembang hingga kini.
“Ketika datang ke Makassar, pelajari budayanya, bahasanya, dan sejarahnya,” kata Rektor pada ajang ASEAN LUMINA bertajuk Waves of Resonances: Exploring Cultural Richness, Creative Expressions and Diversity Within a Shared Heritage di Makassar.
Menurutnya, pengalaman langsung di tengah masyarakat dapat memperluas cara pandang terhadap sejarah dan kebudayaan yang sebelumnya mungkin hanya dipahami melalui buku atau ruang akademik.
Jejaring perguruan tinggi kemudian menjadi bagian penting untuk menjaga hubungan tersebut tetap berlanjut. Pertukaran mahasiswa, akademisi, peneliti, maupun pengetahuan kebudayaan dapat memperluas interaksi antarnegara dan membuka kolaborasi baru di kawasan ASEAN.
Sementara itu, Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Mardiantori melihat warisan budaya sebagai ruang untuk memahami perbedaan sekaligus menemukan nilai yang dapat mempertemukan masyarakat.
"Setiap komunitas memiliki simbol, cerita, dan ekspresi budaya yang khas. Cerita-cerita tersebut diwariskan lintas generasi dan membentuk identitas masyarakat. Dibalik keberagamannya, terdapat nilai yang dapat menjadi titik temu untuk membangun hubungan yang lebih harmonis di kawasan," kata Mardiantori.
Menurutnya, warisan budaya juga hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanan, alam, komunitas, sejarah, dan praktik sosial merupakan bagian dari pengetahuan yang membentuk cara sebuah masyarakat melihat dirinya dan lingkungannya.
Pemahaman tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman antarnegara. Cara sebuah komunitas menjaga tradisi, merawat sejarah atau mengembangkan ekspresi budaya dapat menjadi pengetahuan bersama yang diadaptasi sesuai konteks masing-masing.
"Pada saat yang sama, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi baru. Kreativitas dan inovasi dapat digunakan untuk menerjemahkan kembali warisan budaya ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini, tanpa memutus kaitannya dengan sejarah," kata Mardiantori.