Jakarta (ANTARA) - Sarapan memiliki peran penting dalam pola makan sehari-hari, namun, tidak hanya jenis makanan yang dipilih menjadi perhatian, waktu saat pertama kali mengonsumsinya juga dikaitkan pengaruhi masalah kesehatan.
Laporan New York Post, Senin (24/8) waktu setempat, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa bukan hanya apa yang dimakan, tetapi juga kapan seseorang mengonsumsi pertama kalinya waktu sarapan dapat memengaruhi kesehatan.
Penelitian itu menemukan mengonsumsi makanan pertama lebih siang, khususnya setelah tengah hari memiliki risiko kematian dini akibat berbagai penyebab 29 persen lebih tinggi.
Penelitian itu melibatkan lebih dari 31.000 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas menemukan bahwa waktu mengonsumsi kalori pertama dan terakhir dalam sehari mungkin berkaitan dengan panjang usia seseorang.
Para peserta penelitian diminta mencatat makanan yang mereka konsumsi serta waktu makannya selama periode 24 jam. Jarak antara waktu makan pertama dan terakhir disebut eating window atau jendela makan.
Dari penelitian tersebut terlihat sebuah pola bahwa semakin siang seseorang mengonsumsi makanan pertama, semakin tinggi pula risikonya.
Dibandingkan peserta yang sarapan antara pukul 07.00–08.00, mereka yang makan pertama di antara pukul 08.00–10.00 memiliki risiko kematian dini akibat berbagai penyebab yang 10 persen lebih tinggi.
Risiko tersebut meningkat menjadi 19 persen pada mereka yang baru makan antara pukul 10.00 hingga 12.00. Pola serupa juga terlihat pada risiko kematian akibat masalah kardiovaskular, seperti serangan jantung atau stroke.
Mengonsumsi makanan pertama setelah tengah hari dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 46 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mulai makan antara pukul 07.00–08.00.
Sementara itu, peserta berusia 50 tahun ke atas yang memiliki waktu makan pertama lebih siang juga memiliki harapan hidup rata-rata hampir 2,5 tahun lebih pendek.
Meski penelitian itu menambah bukti yang berkembang bahwa kesehatan tidak hanya bergantung pada apa yang dimakan, tetapi juga kapan mengonsumsinya. Namun, sejumlah faktor lain juga membatasi hasil penelitian tersebut, salah satunya para peneliti hanya mengamati pola makan peserta dalam satu periode 24 jam.
Padahal, pola tidur, waktu beraktivitas, dan faktor lainnya juga dapat memengaruhi hasil penelitian.
Penulis senior penelitian tersebut, Zhilei Shan, mengingatkan agar hasil penelitian tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa sarapan terlambat secara langsung menyebabkan kematian
“Makan lebih lambat sebaiknya dipandang sebagai penanda risiko potensial, dan mungkin sebagai perilaku yang dapat diubah, bukan sebagai bukti definitif adanya hubungan sebab-akibat langsung,” ujar Shan.