Liputan6.com, Jakarta - Perdebatan soal air dingin vs air suhu ruang sering muncul, apalagi saat cuaca panas atau saat seseorang baru selesai berolahraga. Sebagian orang percaya air dingin bisa memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari batuk pilek sampai gangguan pencernaan. Di sisi lain, ada juga yang menganggap air suhu ruang atau air hangat jauh lebih aman dikonsumsi kapan saja.
Pertanyaannya, mana yang benar secara medis? Artikel ini merangkum mitos dan fakta seputar air dingin dan air suhu ruang, termasuk kelompok orang yang sebaiknya lebih berhati-hati memilih suhu air minum.
Tidak ada bukti kuat bahwa air dingin berbahaya bagi orang sehat, karena tubuh menyesuaikan suhu air dengan cepat begitu masuk ke saluran cerna. Air suhu ruang atau hangat memang lebih nyaman bagi sebagian orang dengan keluhan tenggorokan atau lambung sensitif, tapi dari sisi manfaat hidrasi, keduanya setara.
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Minggu (30/8/2026).

Klaim bahwa air dingin merusak pencernaan atau memicu penumpukan lemak ternyata tidak berdasar. Air hangat maupun dingin sama-sama diubah menyesuaikan suhu tubuh begitu masuk lambung, bedanya hanya air dingin sedikit lebih cepat mengosongkan lambung dibanding air hangat, tidak lebih dari itu.
Soal jantung, justru ada temuan yang membantah mitos "air dingin memberatkan kerja jantung". Sebuah studi crossover acak yang dipublikasikan di jurnal Acta Physiologica oleh tim Universitas Fribourg, Swiss, memberikan 500 ml air bersuhu 3°C, 22°C, dan 37°C kepada partisipan sehat. Hasilnya, air dingin dan suhu ruang justru menurunkan detak jantung dan beban kerja jantung dibanding air bersuhu tubuh, diduga karena peningkatan aktivitas saraf vagus. Air dingin juga meningkatkan pengeluaran energi tubuh sekitar 2,9% dalam 90 menit, meski efek ini tergolong kecil dan bukan strategi penurunan berat badan yang signifikan.
Dokter gastroenterologi dari Cleveland Clinic, dr. Brian Weiner, turut menegaskan bahwa penelitian soal baik-buruknya air dingin bagi kesehatan sebenarnya masih terbatas, bukan berarti berbahaya, hanya belum banyak diteliti secara mendalam. Ia mencontohkan atlet justru cenderung memilih air dingin karena terasa lebih cepat menyegarkan dan memicu tubuh berhenti berkeringat lebih cepat setelah minum.
Sementara itu, klaim air dingin memicu serangan jantung karena penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) juga tidak berdasar. Serangan jantung terjadi akibat penyakit jantung koroner, bukan karena suhu minuman, vasokonstriksi ekstrem semacam itu hanya berisiko terjadi saat tubuh tenggelam di air yang sangat dingin.

Meski tidak ada bukti air dingin berbahaya, itu tidak berarti air hangat kalah bermanfaat. Pada beberapa kondisi tertentu, air hangat justru lebih nyaman dan lebih disarankan dibanding air dingin.
Saat tubuh sedang melawan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan lendir menumpuk, air hangat bekerja sebagai mukolitik alami yang membantu mengencerkan lendir sehingga saluran napas terasa lebih lega. Sebaliknya, air dingin cenderung membuat lendir lebih kental dan sulit dikeluarkan.
Bagi orang dengan riwayat migrain kronis, stimulasi dari air yang terlalu dingin berpotensi memicu pelepasan neurotransmiter penyebab nyeri dan memancing episode migrain. Kelompok ini disarankan minum perlahan atau memilih air suhu ruang.
Cleveland Clinic juga mencatat kondisi akalasia, gangguan langka pada kerongkongan di mana otot sfingter esofagus bagian bawah sulit relaks sehingga makanan dan cairan sulit turun ke lambung, sebagai kasus khusus lain. Minuman hangat dapat membantu merelaksasi otot tersebut, sementara air dingin justru berpotensi memperparah gejalanya. Ini sejalan dengan kondisi lambung sensitif lain seperti GERD dan gastroparesis, yang juga disarankan lebih berhati-hati dengan air dingin.
Tidak ada hubungan langsung antara suhu air dan metabolisme lemak tubuh, jadi klaim "air hangat bikin lebih cepat kurus" juga sebaiknya tidak ditelan mentah-mentah. Yang lebih penting bagi berat badan tetap pola makan dan aktivitas fisik, bukan suhu air yang diminum.

| Aspek | Air Dingin | Air Suhu Ruang / Hangat |
|---|---|---|
| Penyerapan saat cuaca panas | Lebih cepat diserap tubuh | Sedikit lebih lambat diserap |
| Beban kerja jantung | Cenderung sedikit menurun (studi Acta Physiologica) | Cenderung sedikit menurun (efek serupa air dingin) |
| Efek pada metabolisme lemak | Tidak terbukti berpengaruh signifikan | Tidak terbukti berpengaruh signifikan |
| Kondisi lendir/ISPA | Bisa membuat lendir lebih kental | Membantu mengencerkan lendir |
| Risiko migrain | Berpotensi memicu pada penderita migrain kronis | Lebih aman untuk kelompok ini |
| Kondisi lambung/kerongkongan sensitif (GERD, gastroparesis, akalasia) | Sebaiknya dihindari/dibatasi | Umumnya lebih nyaman |
| Manfaat hidrasi dasar | Setara | Setara |

Untuk orang sehat tanpa keluhan khusus, pilihan antara air dingin dan air suhu ruang sebetulnya soal kenyamanan pribadi, bukan soal mana yang "lebih sehat". Bahkan dari sisi kerja jantung, riset menunjukkan keduanya sama-sama tidak membebani, berbeda dari mitos yang selama ini beredar.
Yang lebih menentukan justru jumlah air yang diminum, bukan suhunya. Kementerian Kesehatan merekomendasikan konsumsi air putih sekitar 8 gelas atau 2 liter per hari untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal, terlepas dari suhu air yang dipilih.
Kalau punya kondisi tertentu, sedang flu dengan lendir menumpuk, riwayat migrain, atau masalah lambung/kerongkongan seperti GERD dan akalasia air hangat atau suhu ruang bisa jadi pilihan yang lebih nyaman. Di luar itu, minum sesuai selera masing-masing tetap aman.
Tidak. Air putih, dingin maupun suhu ruang, tidak mengandung kalori sehingga tidak berkontribusi pada penambahan berat badan.
Tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan suhu air dengan sakit tenggorokan atau flu; flu dan pilek disebabkan oleh infeksi virus, bukan suhu minuman.
Tidak. Studi di jurnal Acta Physiologica bahkan menemukan air dingin dan air suhu ruang justru sedikit menurunkan beban kerja jantung dibanding air bersuhu tubuh, bukan memberatkannya.
Air hangat lebih disarankan saat mengalami gejala ISPA dengan lendir berlebih, memiliki riwayat migrain, atau punya kondisi lambung/kerongkongan tertentu seperti GERD, gastroparesis, dan akalasia.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan konsumsi air putih sekitar 8 gelas atau 2 liter per hari, tanpa syarat suhu tertentu.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.