Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam di awal September ini terkoreksi sebesar Rp 6.000.
Harga emas Antam hari ini dipatok Rp 2.664.000 per gram, turun dibanding perdagangan Senin kemarin yang berada di angka Rp 2.670.000 per gram.
Senada, harga buyback (beli kembali) juga turun Rp 6.000 menjadi Rp 2.517.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang didapatkan pemilik emas jika menjual kembali logam mulianya ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum di awal merupakan harga jual resmi kepada konsumen.
Perlu diingat, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) lalu di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback sebesar Rp 2.989.000 per gram.
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini:

Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin dan berada di dekat level terendah dalam dua pekan. Investor mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.
Tekanan terhadap harga emas semakin kuat setelah lonjakan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Mengutip CNBC, Selasa (1/9/2026), harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 4.431,39 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak pertengahan Agustus.
Meski melemah, harga emas masih mencatat kinerja bulanan terkuat sejak Januari. Sepanjang Agustus, harga emas telah naik sekitar 9,6%.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$ 4.482,60 per ounce.
Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di StoneX, mengatakan salah satu faktor utama yang menekan harga emas saat ini adalah meningkatnya suku bunga dan ekspektasi inflasi.
“Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi, ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh energi dan berkurangnya persediaan minyak,” kata Daniel Pavilonis.
Menurutnya, imbal hasil obligasi AS juga terus menguat, sementara dolar AS semakin kuat. Kondisi tersebut membuat posisi emas menjadi lebih rentan.
“Kemudian, imbal hasil obligasi AS terus menguat, dolar juga terus menguat. Saya pikir hal itu menempatkan emas dalam posisi yang cukup rentan,” tambah Pavilonis.

Dolar AS masih berada di sekitar level tertinggi dalam dua pekan. Namun, sedikit pelemahan dolar pada perdagangan Senin membantu membatasi penurunan harga emas lebih lanjut.
Sebelumnya, harga emas anjlok lebih dari 3% pada Jumat, mencatat penurunan harian paling tajam sejak 10 Juni.
Penurunan tersebut terjadi setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa para pembuat kebijakan mungkin perlu mengambil langkah lebih lanjut jika inflasi tidak kembali menuju target bank sentral sebesar 2%.
Komentar Warsh pada simposium Jackson Hole tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan mencapai sekitar 64%, naik signifikan dari sekitar 36% sebelum Warsh menyampaikan komentarnya.
Pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Di antaranya laporan ketenagakerjaan ADP serta data nonfarm payrolls (NFP) Agustus.
Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi investor untuk menilai kondisi perekonomian AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.