...Kalau kita tidak mampu melakukan uji klinis dengan baik maka kita akan ketinggalan terus

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Lucia Rizka Andalucia menegaskan pentingnya penguatan ekosistem uji klinis untuk mempercepat akses masyarakat terhadap obat-obatan dan vaksin di Indonesia.


“Uji klinis itu bukan hanya sekedar riset yang nantinya akan menjadi suatu produk komersial, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita mempercepat akses masyarakat kita, pasien kita terhadap obat-obatan inovatif maupun vaksin,” ujar Lucia saat menghadiri Annual Meeting IASMED 2026 di Jakarta, Sabtu.


Menurut Lucia, kemampuan dalam melaksanakan uji klinis menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar bagi produk farmasi dan vaksin, tetapi juga mampu menjadi negara yang mengembangkan inovasi di bidang tersebut.


“Kalau kita tidak mampu melakukan uji klinis dengan baik, kita akan ketinggalan terus. Kita hanya akan menjadi pasar buat obat-obatan. Kita tidak bisa menjadi inovator atau pengembang obat-obatan dan vaksin,” ujarnya.


Lucia mengatakan peningkatan kapasitas uji klinis perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk di rumah sakit dan kalangan peneliti, serta dengan mendorong keterlibatan masyarakat.







Ia menilai berbagai kegiatan untuk meningkatkan kemampuan uji klinis dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.


“Dengan kegiatan-kegiatan seperti ini (Annual Meeting IASMED), kita akan meningkatkan kemampuan uji klinis di rumah sakit, kemudian juga peneliti, dan yang paling penting adalah juga keterlibatan masyarakat,” katanya.


Penyelenggaraan Annual Meeting IASMED 2026 ini menjadi forum strategis bagi regulator, akademisi, rumah sakit, industri farmasi, Contract Research Organization (CRO), serta para profesional uji klinis untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong kemajuan ekosistem uji klinis Indonesia.


Lucia menjelaskan uji klinis dapat menjadi salah satu jalan untuk menemukan alternatif pengobatan baru bagi pasien yang sudah tidak memiliki pilihan terapi.






“Kadang-kadang kita dihadapkan pada kondisi suatu penyakit yang tidak ada lagi obatnya. Sehingga kita perlu obat baru yang inovatif tadi. Nah, dari mana obat baru itu ditemukan? Ya, melalui uji klinis,” katanya.


Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengajak industri farmasi, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk bergabung dalam pengembangan ekosistem uji klinis guna memperkuat kemandirian obat dan alat kesehatan di Indonesia.


“Uji klinis itu tidak murah, mahal. Oleh karena itu, kita juga memfasilitasi industri-industri farmasi, baik yang dari dalam negeri maupun yang dari luar negeri, untuk bergabung mengembangkan diri di Indonesia,” ujar Taruna.


Taruna mengatakan Indonesia memiliki berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan uji klinis, mulai dari fasilitas hingga kasus-kasus yang dapat menjadi objek penelitian.