Daratan yang muncul justru membuka kesempatan untuk kembali mencari penghidupan

Sumedang (ANTARA) - Matahari perlahan meninggi di atas Waduk Jatigede, awal September, ketika air yang menyusut meninggalkan hamparan tanah basah, retakan, dan jejak kehidupan lama yang kembali terlihat.


Jalan yang dahulu terendam mulai muncul kembali. Sisa bangunan rumah yang terdampak pembangunan waduk pun perlahan menampakkan diri, seperti potongan masa lalu yang kembali setelah lama hilang.


Bagi sebagian warga di sekitar waduk, surutnya air bukan semata pemandangan yang membuka kembali kenangan. Daratan yang muncul justru membuka kesempatan untuk kembali mencari penghidupan.


Di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, tanah yang terbuka dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Padi dan mentimun ditanam sebelum permukaan air kembali meninggi.


Acim (69) menjadi salah satu warga yang memilih memanfaatkan kesempatan tersebut. Ia mengolah lahan bekas genangan sambil tetap menjalankan usaha dagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.






“Lumayan untuk menambah modal dagang. Daripada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,” kata Acim.


Tepian Waduk Jatigede di Cipaku, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, yang oleh warga setempat dijadikan sebagai lahan menanam padi. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Menurut Acim, permukaan Waduk Jatigede telah menyusut sekitar tiga bulan terakhir. Kali ini, air surut cukup jauh sehingga daratan yang sebelumnya terendam kembali terbuka cukup luas.


Ia tidak mengetahui berapa lama tanah tersebut akan bertahan di permukaan. Karena itu, selama kesempatan masih terbuka, lahan tersebut dipilih untuk menghasilkan sesuatu.


“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” kata Acim.


Bagi Acim, tanah yang muncul bukan sekadar ruang kosong. Ia menjadi semacam kesempatan sementara yang harus dimanfaatkan sebelum musim hujan membawa kembali air menutupi lahan tersebut.






Sepuluh kilogram dari tepian waduk


Peluang serupa juga ditemukan warga lain, meski bentuknya berbeda. Jika Acim turun membawa cangkul dan bibit, warga lainnya datang dengan tujuan mencari hasil yang sudah tersedia di alam.


Amun Lasim (51) memilih menyusuri tepian waduk untuk mencari tutut. Bersama keluarganya, ia memanfaatkan kawasan yang terbuka ketika air mulai menyusut.


“Ini lagi mencari tutut, dibawa ke Sumedang Kota, dibagi-bagi ke masyarakat dan dimasak sendiri, tidak dijual,” kata Amun saat ditemui di kawasan tersebut.


Bagi Amun, mencari tutut bukan kegiatan yang dilakukan setiap hari. Biasanya, aktivitas tersebut dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan sekaligus menjadi cara menikmati waktu bersama keluarga.


Hari itu, perjalanan mereka membuahkan hasil cukup banyak. Sekitar 10 kilogram tutut dikumpulkan dari kawasan waduk yang sedang surut.






“Saya tidak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut,” kata dia.


Tutut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi warga, hasil tersebut memiliki arti. Sebagian dibawa pulang untuk dikonsumsi, sementara kegiatan mencarinya sekaligus menjadi kegiatan keluarga.


Di perairan yang sama, warga lain memanfaatkan perubahan kondisi waduk untuk menangkap ikan. Jaring dan perahu menjadi perlengkapan penting bagi mereka yang menggantungkan sebagian kebutuhan dari hasil tangkapan.


Seorang penjala ikan di Waduk Jatigede, Cipaku, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat, menunggu angin reda saat mencari ikan. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Adi Usep (44) mengatakan hasil tangkapan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam sekali turun, seorang pencari ikan bisa memperoleh sekitar 10 hingga 15 kilogram.


Dalam kondisi tertentu, hasil tangkapan bahkan dapat mencapai sekitar 30 kilogram untuk satu orang. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama karena dipengaruhi kondisi perairan dan musim.






Perahu yang mengikuti irama air


Ketika musim hujan datang, debit air meningkat dan aktivitas warga ikut menyesuaikan. Saat kemarau membuat air menyusut, tepian yang terbuka kembali memberi ruang untuk berbagai aktivitas.


Perubahan itu ternyata tidak hanya dirasakan warga yang mencari ikan. Aktivitas masyarakat di sekitar perairan turut menghidupkan pekerjaan lain yang bergantung pada kebutuhan mereka.


Salah satunya adalah Endan (55), pengrajin perahu yang melihat perubahan permintaan mengikuti kondisi waduk. Ketika air mulai surut, menurut dia, aktivitas masyarakat di perairan biasanya ikut meningkat.


“Dulunya memang sepi. Sekarang mulai ramai. Kalau sudah mulai surut, biasanya aktivitas masyarakat juga mulai ramai,” kata Endan.


Sebagian warga datang untuk memancing, sementara lainnya menggunakan perahu untuk memasang jaring dan menangkap ikan. Kebutuhan tersebut membuat pekerjaan Endan kembali bergerak mengikuti musim.


Seorang pengrajin menyelesaikan pesanan perahu di Cipaku, Darmaraja, Sumedang, Jawa Barat. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Ia memanfaatkan waktu senggang saat air surut untuk meningkatkan produksi. Jika sebelumnya hanya mampu menghasilkan sekitar empat produk per bulan di musim hujan, saat musim kemarau produksinya meningkat menjadi tujuh produk per bulan.


Satu perahu umumnya dapat diselesaikan sekitar satu pekan. Dalam setahun, Endan memperkirakan mampu memproduksi sekitar 50 perahu sesuai permintaan.


Harganya pun menyesuaikan ukuran dan pengerjaan. Perahu tertentu dibanderol sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta, sedangkan ukuran lebih besar dapat mencapai Rp7 juta hingga Rp12 juta.


Endan juga menerima perbaikan dan perombakan perahu. Tidak semua kerusakan membuat pemilik harus membeli perahu baru, karena bagian tertentu masih dapat diperbaiki dan digunakan kembali.


Pembelinya tidak hanya berasal dari sekitar Waduk Jatigede. Ada pula pemesan dari daerah lain, termasuk Cianjur, dengan ukuran perahu disesuaikan kebutuhan pemesan.


Rezeki yang mengikuti musim


Dari tanah, tutut, ikan, hingga perahu, setiap warga menemukan cara berbeda memanfaatkan perubahan yang dibawa musim. Surutnya waduk menciptakan ruang ekonomi yang tidak selalu muncul sepanjang tahun.


Namun, kesempatan tersebut juga memiliki batas waktu. Tanah yang kini ditanami bisa kembali terendam, sementara tepian yang digunakan mencari tutut dan ikan dapat berubah ketika hujan tiba.


Kondisi surut diperkirakan berlangsung hingga musim hujan tiba. Selama air belum kembali naik, warga memilih memanfaatkan ruang yang terbuka untuk memenuhi kebutuhan dan menambah penghasilan.


Bagi mereka, Waduk Jatigede bukan sekadar air yang naik dan turun. Setiap perubahan permukaan membawa aktivitas berbeda, sekaligus memaksa warga terus menyesuaikan cara mempertahankan kehidupan.


Di balik tanah retak, ada benih padi dan mentimun. Di tepian waduk, ada tutut yang dikumpulkan dan ikan yang ditangkap untuk dibawa pulang.


Di tempat lain, suara pengerjaan perahu terus terdengar. Endan membuat perahu untuk mereka yang kembali turun ke perairan, sementara warga lain menunggu hasil dari aktivitas mereka.


Air Jatigede memang sedang surut. Namun, bagi warga yang hidup di sekitarnya, berkurangnya air justru membuka jalan bagi mengalirnya berbagai bentuk rezeki selama mereka mau mengolah kesempatan yang ada.