Liputan6.com, Jakarta - Riset terbaru 2026 State of Application Strategy Report yang dirilis perusahaan keamanan F5 mengungkapkan pergeseran besar dalam lanskap pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor korporasi.
Sebanyak 77% organisasi atau perusahaan mengonfirmasi bahwa aktivitas AI utama mereka kini telah beralih ke tahap pemrosesan atau inference, meninggalkan fase pelatihan (model training) maupun penyelarasan (model tuning).
Lebih jelasnya, AI Inference adalah proses menjalankan model AI terlatih untuk membuat prediksi pada data baru yang belum pernah dilihat.
Dalam laporan tersebut, dikutip Senin (7/9/2026), rata-rata enterprise kini mengelola hingga tujuh model AI sekaligus.
Namun, pesatnya adopsi ini membawa tantangan operasional baru, di mana trafik AI masih mengalir melalui kombinasi proxy mandiri dan alat pemantauan terfragmentasi yang tidak dirancang untuk tata kelola AI modern.
Mengantisipasi dinamika ini, F5 mengumumkan peningkatan signifikan pada F5 AI Gateway serta mengintegrasikannya ke dalam F5 AI Security Platform untuk memberikan satu platform kendali terpadu (unified control plane).
Seiring berkembangnya skala inference, aspek ekonomi AI atau tokenomics menjadi pertimbangan krusial bagi jajaran manajerial.
Setiap permintaan yang dikirimkan ke model AI memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional, performa sistem, dan risiko keamanan.
Tanpa visibilitas yang jelas, perusahaan kerap kesulitan melacak tim atau pengguna mana yang mengonsumsi alokasi token.
"Setiap permintaan AI membawa implikasi terhadap ekonomi, keamanan, dan tata kelola. Sebagian besar organisasi masih mengandalkan tools terfragmentasi yang memicu pembengkakan biaya dan kompleksitas operasional," ujar Chief Product Officer F5, Kunal Anand.
Melalui fungsi Model Gateway, F5 AI Gateway memungkinkan pengatribusian konsumsi token secara presisi berdasarkan penyedia, model, hingga pengguna akhir.
Fitur optimasi otomatis seperti smart routing, model tiering, dan semantic caching diklaim mampu menekan pengeluaran token hingga 60 persen tanpa perlu mengubah fondasi aplikasi yang ada.
Selain masalah anggaran, menjamurnya agen AI dan penggunaan server Model Context Protocol (MCP) yang berjalan tanpa registri terpusat memunculkan celah keamanan baru.
Data pribadi, rekam medis, hingga hak kekayaan intelektual rentan terekspos ke model eksternal tanpa pemeriksaan memadai.
Untuk mengatasinya, F5 AI Gateway menghadirkan tiga fungsi utama:
Seluruh batas anggaran, kebijakan pengarahan model (model routing), dan kontrol akses kini dapat ditetapkan secara terpusat. Hal ini memberikan satu tampilan operasional tunggal bagi tim AI for IT Operations, keamanan siber, maupun tim keuangan.
Pentingnya keberadaan arsitektur pengendalinya juga diamini oleh lembaga riset Gartner. Menurut Gartner, AI gateways telah berkembang menjadi komponen krusial dalam infrastruktur enterprise untuk mendukung akses yang aman, efisien, dan terkendali.
Sebagai titik penegakan kebijakan dalam F5 AI Security Platform, F5 AI Gateway dapat diimplementasikan di berbagai lingkungan mulai dari SaaS, hybrid SaaS, hingga hybrid multicloud.
F5 juga menyiapkan dukungan untuk sistem terisolasi guna memenuhi kebutuhan kedaulatan data di sektor industri yang terikat regulasi ketat.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.