Jakarta -
Bulan Agustus 2026 tercatat sebagai bulan terpanas, menurut Europe Climate Service. Rekornya menyamai rekor bulan Juli 2023.
Rekor panas tersebut dipicu oleh kombinasi dari perubahan iklim dan El Niño, yang mendorong panas ke atmosfer di seluruh wilayah Pasifik. Suhu pada Agustus kemarin tercatat 1,65°C di atas level praindustri dan melampaui ambang batas kritis 1,5°C yang telah disepakati berbagai negara untuk menghindari dampak terburuk perubahan iklim.
Akan tetapi, suhu yang melampaui 1,5°C selama satu bulan itu tidak berarti ambang batas tersebut telah terlewati secara permanen. Hanya saja hal tersebut menunjukkan adanya tren menuju melampaui batas tersebut.
Pimpinan strategis bidang iklim di Copernicus Climate Change Service, Dr Samantha Burgess, menyebut Agustus 2026 sebagai bulan yang luar biasa dalam catatan iklim global. Menurutnya, kombinasi antara rekor suhu udara, rekor panas laut, dan musim panas yang ekstrem di Eropa menunjukkan bagaimana perubahan iklim kini memicu kondisi ekstrem, baik di atmosfer maupun di lautan.
Kepala urusan iklim PBB, Simon Stiell, turut mengatakan catatan ini dengan jelas menunjukkan dampak aktivitas manusia terhadap iklim.
"Buktinya tak terbantahkan: ini adalah harga mahal yang terus meningkat akibat kecanduan umat manusia terhadap bahan bakar fosil, serta krisis iklim global yang dipicunya," ujarnya, dikutip dari BBC.
Para peneliti menyatakan, selain dampak berkelanjutan dari penggunaan bahan bakar fosil, munculnya fenomena El Niño yang kuat turut memperparah situasi.
El Niño adalah pola iklim alami di mana wilayah perairan Pasifik bagian timur menjadi jauh lebih hangat dari biasanya. Fenomena ini melepaskan panas laut yang tersimpan dalam jumlah besar ke atmosfer dan mendorong kenaikan suhu global selama sekitar satu tahun.
El Nino Tahun Ini Berpotensi Terkuat dalam Sejarah
Menurut tim Copernicus, fenomena El Niño yang sedang berlangsung saat ini masih terus menguat dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah.
Dampak terbesar fenomena alam ini terhadap suhu global diperkirakan akan terjadi pada tahun mendatang. Artinya, rekor suhu sekarang ini kemungkinan besar akan terus terlampaui.
Perkiraan ini muncul setelah musim panas yang tercatat, memiliki suhu tertinggi sepanjang sejarah di Eropa Barat. Contohnya di Inggris, yang mengalami musim panas terpanas sejak pencatatan yang dimulai pada 1884.
"Angka-angka ini membawa dampak nyata bagi manusia," ujar peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London, Dr Clair Barnes.
Ia menyampaikan, gelombang panas di Inggris dan Eropa tersebut mengganggu kegiatan sekolah, membebani layanan rumah sakit, memengaruhi produksi pangan, memicu kebakaran dan kekeringan, serta merenggut puluhan ribu nyawa.
Namun, ia juga menepis anggapan bahwa musim panas semacam itu kini sekadar menjadi normalitas baru.
"Selama kita belum menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, rekor-rekor suhu ini akan terus terpecahkan, dan kondisi ekstrem akan memburuk lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi. Yang terpenting, seberapa parah kondisi ini nantinya bergantung pada tindakan kita sendiri," tegasnya.