Liputan6.com, Jakarta - Bagi Anda baru bekerja atau fresh graduate dan mendapatkan gaji pertama menjadi pengalaman baru. Selain itu, menerima penghasilan pertama dari hasil kerja pertama setelah lulus kuliah menjadi hal yang membanggakan. Dengan gaji itu bisa beli barang yang diinginkan sejak lama, mentraktir keluarga, atau sudah memikirkan soal investasi.


Selain itu, mungkin setelah menerima gaji, timbul pertanyaan, bagaimana cara mengaturnya? lebih baik menabung atau investasi?  Jadi gaji pertama buat fresh graduate itu lebih baik ditabung atau langsung diinvestasikan? 


Pertanyaan "gaji pertama enaknya ditabung atau diinvestasikan dulu?", menurut Perencana Keuangan sekaligus Founder & CEO Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno, adalah pertanyaan yang keliru. Menurut dia, persoalan utama fresh graduate bukan soal urutan, melainkan soal ketahanan finansial.


"Ini untuk menjawabnya berarti sebenarnya bukan kepada menabung atau investasi dahulu, karena kedua-duanya sama-sama perlu dilakukan," ujar Mike saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Sabtu, (12/9/2026).


Mike menambahkan, yang membedakan adalah situasi keuangan masing-masing individu, terutama bantalan keuangan.


Ia menjelaskan, fresh graduate umumnya baru saja mandiri secara finansial dan belum memiliki simpanan sama sekali. Dalam kondisi ini, hal pertama yang perlu dibangun bukanlah investasi untuk mengejar imbal hasil, melainkan ketahanan terhadap risiko keuangan tak terduga.


"Salah satu ciri keuangan yang sehat adalah kita memiliki ketahanan finansial dari kondisi-kondisi risiko keuangan yang menyebabkan kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bertahan hidup," jelas Mike.


Dana untuk kondisi semacam ini, menurut dia, disimpan pada instrumen yang mudah dicairkan dan tetap untung, antara lain tabungan bank, deposito, dan reksa dana pasar uang berisiko rendah.


Ia menegaskan, investasi jangka panjang seperti persiapan dana pensiun atau DP rumah juga penting, namun tidak urgent dibanding kebutuhan akan bantalan darurat. "Penting mana dana darurat sama harus punya rumah sendiri atau harus investasi pensiun? Menurut saya dari sisi urgensinya, dana darurat," tegasnya.



Studi Kasus Fresh Graduate Gaji Rp 3 Juta


Dengan DCA, investor menentukan nominal dan jadwal investasi sejak awal sehingga proses menabung investasi bisa terasa lebih konsisten dan teratur. (Foto/Dok: Magnific)
Dengan DCA, investor menentukan nominal dan jadwal investasi sejak awal sehingga proses menabung investasi bisa terasa lebih konsisten dan teratur. (Foto/Dok: Magnific)

Sebagai gambaran, Mike memberi simulasi sederhana bagi fresh graduate bergaji Rp 3 juta yang menargetkan dana darurat setara tiga bulan gaji atau Rp 9 juta.


Dengan mengalokasikan 30% dari gaji setiap bulan (Rp 900 ribu) khusus untuk dana darurat, target bisa tercapai dalam 10 bulan. Namun, begitu separuh target, misalnya Rp 5,4 juta dalam enam bulan sudah terkumpul, alokasi itu tidak harus terus mengalir penuh ke pos yang sama.


"Yang tadinya Rp 900 ribu itu bisa dibagi dua, Rp 450 ribu buat nerusin target dana darurat, Rp 450 ribu lagi mulai kita investasi, misalnya cicil emas atau reksa dana saham," paparnya.


Sehingga, keduanya tetap berjalan beriringan, namun tidak dimulai bersamaan sejak hari pertama gajian.


Meski kerap menyebut angka acuan 30% dari gaji sebagai porsi ideal bagi fresh graduate tanpa tanggungan, Mike mengingatkan bahwa angka tersebut bukan harga mati. Ia menyoroti kondisi fresh graduate yang sandwich generation sehingga harus menanggung biaya hidup keluarga dan porsi kebutuhan pokoknya mencapai 80-90% dari gaji.


"Kalau persentasenya berat, Anda mungkin enggak usah pakai persentase, sesuai dengan kemampuan. Mungkin Rp 100 ribu, mungkin Rp 50 ribu, gitu," katanya, karena yang jauh lebih penting daripada besaran nominal yang disisihkan adalah konsistensi.



Kenapa Aset Berisiko Tinggi Bukan Pilihan untuk Dana Darurat?


Ilustrasi mengatur keuangan (Foto by AI)
Ilustrasi mengatur keuangan (Foto by AI)

Mike juga menekankan, dana darurat tidak boleh ditaruh di instrumen berisiko tinggi seperti saham. Menurut dia, harga aset semacam itu bersifat fluktuatif, sehingga ada risiko nilainya justru anjlok tepat saat dana dibutuhkan mendadak, sehingga memaksa pemiliknya menjual dalam kondisi rugi.


Karena itu, ia membedakan dengan tegas antara "menabung" yang cocok untuk dana darurat karena sifatnya likuid dan stabil, dengan "investasi" yang baru relevan setelah bantalan keuangan tadi cukup matang terbentuk.


Pada akhirnya, keputusan fresh graduate bukan terletak pada memilih untuk menabung atau investasi terlebih dulu, melainkan memahami level urgensi dari setiap tujuan keuangan yang dimiliki, serta menyusun alokasi gaji berdasarkan itu, bukan berdasarkan rumus yang kaku.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.