Jakarta -

Sebanyak 20 siswa SMK mewakili kontingen Indonesia untuk bertarung di WorldSkills Competition 2026 di Shanghai, China. WorldSkills Competition 2026 merupakan olimpiade keterampilan vokasi internasional yang diikuti 90 negara.


Melepas kontingen RI, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq berharap hasil yang terbaik. Bukan hanya raihan medali, tapi juga dampak untuk perkembangan pendidikan vokasi Indonesia.


"Kita berharap para talenta ini membawa praktek-praktek terbaik setelah melihat bagaimana talenta global di Shanghai berlaga dan itu juga tentu akan memberikan evaluasi atau penajaman terhadap pendidikan vokasi di Indonesia," tuturnya usai acara Pelepasan Kontingen RI pada Worldskill Competition 2026 di Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026) malam.




"Ajang di Shanghai ini dianggap sebagai jendela untuk melihat perkembangan teknologi ataupun keterampilan di masa depan," sambungnya.





Standarisasi Kualitas Pendidikan Vokasi RI


Fajar menyebut, posisi Indonesia dalam ajang ini cukup baik. Di ajang 2024 lalu, di Lyon, Prancis, Indonesia berada di peringkat atas rata-rata poin mendali se-ASEAN.


"Kalau tidak salah pada tahun tersebut kontingan Indonesia itu menempati ranking ke-11 berdasarkan rata-rata poin medali di ASEAN. Kita hanya di bawah Singapura," paparnya.


Melihat capaian ini, Kemendikdasmen berharap di kompetisi 2026, kontingen RI bisa memberikan prestasi yang lebih baik dibandingkan 2024. Selain harapan medali, Fajar menilai ini adalah kesempatan emas agar siswa SMK berlajar dari negara-negara maju.


WorldSkills Competition disampaikan Fajar akan menjadi semacam standardisasi dari kualitas pendidikan vokasi yang ada di Indonesia. Hal ini dilihat dari berbagai keterampilan yang dipertandingkan di sana.


"Saya rasa kita bisa meneropong bahwa prodi-prodi (program studi) atau keahlian-keahlian yang akan relevan di masa depan itu apa? Saya rasa itu harus direspons oleh pendidikan vokasi di Indonesia," ungkap Fajar.


Respons yang dimaksud dicontohkan Fajar adalah perlunya penyesuaian jurusan vokasi di Indonesia. Dengan begitu, jurusan vokasi yang tersedia memang cocok dan bisa menjawab kebutuhan manusia modern di era kecerdasan buatan.


"Saya percaya di tengah gempuran kecerdasan buatan, pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya teknis itu masih punya tempat," imbuhnya.


Pekerjaan yang bersifat teknis menurut Fajar dan dipertandingkan di WorldSkills Competition adalah terkait listrik, plumbing, dan bangunan konstruksi. Hal ini menandakan bila pekerjaan teknis tak otomatis hilang meski ada kecerdasan buatan.


"Itu menandakan bahwa pekerjaan-pekerjaan teknis tidak otomatis hilang gara-gara perkembangan kecerdasan buatan, tetapi justru eksistensinya akan semakin dibutuhkan untuk pekerjaan," tegas Fajar.





















Devita Savitri


Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom sejak 2023 lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tertarik dan aktif meliput isu terkait pendidikan dasar dan menengah. Wartawan Terproduktif Kemendikdasmen 2025.





Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.