Di balik angka-angka ini terdapat investasi nyata, program, dan kemitraan yang memberikan dampak signifikan di lapangan bagi masyarakat Indonesia.
Jakarta (ANTARA) - Realisasi investasi perusahaan Amerika Serikat (AS) di Indonesia sepanjang 2020 hingga semester I-2025 mencapai 14,85 miliar dolar AS atau sekitar Rp259,9 triliun, menurut laporan US-ASEAN Business Council (USABC).
Executive Vice President of Research and Chief Policy Officer US-ASEAN Business Council Marc Mealy mengatakan investasi tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan AS terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengembangan berbagai sektor di Indonesia.
"Di balik angka-angka ini terdapat investasi nyata, program, dan kemitraan yang memberikan dampak signifikan di lapangan bagi masyarakat Indonesia," kata Mealy dalam peluncuran Laporan Bisnis AS di Indonesia (BISA) 2026, di Jakarta, Rabu.
Laporan tersebut juga menyebutkan komitmen investasi perusahaan AS di Indonesia sepanjang 2020 hingga Januari 2026 tercatat sekitar Rp399,7 triliun atau setara 22,84 miliar dolar AS.
Menurut Mealy, Laporan BISA 2026 tidak hanya memotret investasi perusahaan AS, tetapi juga berbagai inovasi yang dikembangkan perusahaan tersebut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan talenta, peningkatan daya saing, dan ketahanan ekonomi Indonesia.
Dalam laporan tersebut, US-ABC mengidentifikasi 91 inisiatif inovasi yang dilakukan 43 perusahaan AS di Indonesia sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2026 dengan nilai moneter mencapai sekitar 24,8 miliar dolar AS, baik dalam bentuk investasi, pendanaan program, hibah, dan nilai produksi.
Inovasi tersebut ada di berbagai sektor, termasuk teknologi digital dan keamanan siber, energi, pertambangan dan migas, pertanian, serta jasa keuangaan dan fintech.
Laporan tersebut menyebutkan dari 91 inisiatif yang teridentifikasi, sebanyak 41 persen inisiatif berdampak pada pembangunan sumber daya manusia, 22 persen berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang tangguh, dan 37 persen ditujukan untuk meningkatkan daya saing bisnis.
Pada aspek pembangunan sumber daya manusia, berbagai inisiatif tersebut tercatat menjangkau 10,7 juta penerima manfaat, termasuk sekitar empat juta perempuan dan lebih dari satu juta peserta pelatihan digital.
Mealy mengatakan inovasi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing Indonesia, terutama dalam mendukung ambisi pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Ia menambahkan Laporan BISA 2026 juga dimaksudkan untuk mendorong pembahasan mengenai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan perusahaan AS bersama Indonesia ke depan.
"Laporan ini tidak hanya untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan perusahaan AS, tetapi juga berkontribusi pada diskusi yang lebih luas mengenai apa yang masih dapat dicapai bersama ke depan," ujarnya.