TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Penggunaan pompa berbahan bakar gas mulai banyak digunakan petani di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sedikitnya 1.000 pompa pertanian di Maros kini telah dikonversi dari bahan bakar minyak (BBM), khususnya pertalite, ke gas.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Maros, Jamaluddin mengatakan, penggunaan pompa gas tersebut sudah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir.
Pompa hasil konversi itu sebagian merupakan bantuan melalui jalur aspirasi.
“Kalau di Maros ini ada sekitar lebih 1.000 barangkali yang sudah menggunakan gas. Konversi pompa hasil konversi dari BBM ke gas,” katanya kepada Tribun Timur, Jumat (18/9/2026).
Ia mengatakan, penggunaan pompa gas lebih hemat dibandingkan menggunakan BBM.
Jamaluddin menyebut, saat menggunakan pertalite, satu pompa bisa menghabiskan sekitar 60 liter dalam waktu 24 jam.
Dengan asumsi harga BBM sekitar Rp10 ribu perliter, biaya yang harus dikeluarkan petani bisa mencapai Rp600 ribu untuk pemakaian selama 24 jam.
Sementara dengan menggunakan gas, satu tabung dapat digunakan hingga beberapa hari, tergantung lama penggunaan pompa.
“Jadi jauh lebih hemat dua kali lipat atau bahkan hampir tiga kali lipat lebih hemat daripada menggunakan BBM,” ujarnya.
Jamaluddin menuturkan, jumlah petani yang menggunakan pompa gas masih berpotensi bertambah.
Penggunaan pompa tersebut dinilai dapat membantu petani menekan biaya operasional, terutama untuk pengairan lahan.
“Jumlah petani di Kabupaten Maros saat ini lebih dari 6.000 orang,” sebutnya.
Salah seorang petani, Usman mengatakan, penggunaan pompa gas cukup membantu mengurangi pengeluaran selama mengolah lahan.
Ia mengatakan, satu tabung gas bisa digunakan untuk menggerakkan mesin pompa air selama sekitar delapan jam.
Sementara jika menggunakan BBM, dibutuhkan sedikitnya lima liter untuk penggunaan selama delapan jam.
“Artinya bisa lebih hemat. Harga tabung Rp23 ribu bisa dipakai delapan jam, sementara pertalite butuh Rp50 ribu untuk waktu yang sama,” bebernya.
Usman menyebut selisih biaya tersebut cukup terasa bagi petani yang harus menggunakan pompa dalam waktu lama.
Terlebih pada musim kemarau, kebutuhan air untuk lahan pertanian membuat pompa harus dioperasikan berjam-jam.
“Kalau pakai gas lebih terasa hematnya. Apalagi kalau pompa dipakai lama untuk mengairi sawah, bisa sampai tiga hari berturut-turut, utamanya pada musim kemarau seperti saat ini,” katanya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.