TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Skena musik keras di Samarinda kembali kedatangan nama baru bernama Whiplash. Berupa unit hardcore yang terbentuk pada Oktober 2025 lalu, dan resmi memperkenalkan karya perdana mereka melalui single berjudul "Ego".
Kehadiran Whiplash menjadi langkah baru bagi empat personelnya yang sebelumnya telah memiliki pengalaman bermusik melalui band masing-masing.
Untuk diketahui, saat ini, Whiplash digawangi oleh Muhammad Hafiz (vokal), Aditya Rizky Ramadhan (gitar), Muhammad Ervan Haykal (bass), dan Denni Ramadhan (drum).
Berawal dari Circle Pertemanan
Sang vokalis, Hafiz mengatakan, band ini terbentuk dari lingkaran pertemanan para personelnya.
Mereka sebelumnya aktif di band dengan genre yang berbeda-beda, kemudian sepakat membuat sebuah proyek bersama dengan membawa musik hardcore.
Baca juga: Grup Musik See Stars Somedays Buka Babak Baru Usai Album Pertama Lewat Formasi Eksploratif
Tak ayal, grup musik tersebut memang dibentuk sebagai ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi musik hardcore sekaligus menghasilkan karya yang lebih serius.
"Jadi dari teman nongkrong biasa sekaligus circle teman-teman band juga yang bikin projekkan, jadinya Whiplash ini," ujarnya, Sabtu (19/9/2026).
Secara musikal, Whiplash mengusung gaya New York Hardcore (NYHC) yang dipadukan dengan sedikit elemen groove. Formula tersebut menjadi karakter yang coba mereka bangun sejak awal.
Lengkap dengan referensi musik yang datang dari sejumlah band hardcore internasional, seperti Turnstile, Trapped Under Ice, Prevention, dan Backtrack.
Perpaduan referensi tersebut kemudian diterjemahkan Whiplash melalui musik yang intens, permainan gitar yang agresif, bass yang tegas, serta hentakan drum yang kuat.
Baca juga: Inside Flow Spectacular di Tenggarong, Yoga dan Musik Satukan Peserta dari Kaltim
Tak tanggung-tanggung, debut Whiplash tidak hanya sebagai perkenalan musikal. Mereka menelurkan single bertajuk "Ego", dengan membawa keresahan yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lagu tersebut bercerita tentang seseorang yang memiliki ego dan ambisi berlebihan. Demi mencapai tujuan pribadi, orang tersebut rela menghalalkan berbagai cara tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Hafiz membeberkan, keresahan itu berangkat dari pengalaman personal para personel Whiplash ketika melihat karakter serupa di lingkungan mereka.
"Jadi lagu ini menceritakan tentang keresahan kita ke orang yang punya ego dan ambisi yang berlebihan," ujarnya.
Menurutnya, sikap tersebut tidak hanya membuat orang lain merasa dimanfaatkan, tetapi juga dapat menciptakan suasana yang tidak nyaman dalam sebuah lingkungan.
Baca juga: Berisik Berisi Vol. 8 Padukan Konser Musik dan Pameran Jersey Persiba Balikpapan
Meski terinspirasi dari keresahan pribadi, Whiplash sengaja membuat tema "Ego" agar bisa dimaknai secara lebih luas.
Sehingga, ceritanya tidak hanya dapat dikaitkan dengan lingkungan pertemanan atau pekerjaan, namun juga berbagai lingkungan sosial lainnya.
Karena itu, "Ego" menjadi luapan keresahan Whiplash terhadap orang-orang yang terlalu mengedepankan kepentingan pribadi mereka.
Musik Hardcore untuk Sampaikan Keresahan
Lewat musik hardcore, mereka memilih menyampaikan keresahan tersebut secara frontal. Lirik yang tajam dipadukan dengan riff gitar yang intens, dentuman bass yang tegas, dan hentakan drum yang menghujam.
Single "Ego" menjadi karya pembuka perjalanan Whiplash di skena hardcore Kota Tepian. Karya tersebut dirilis secara digital dan dapat didengarkan melalui sejumlah platform musik digital seperti YouTube, Instagram, Spotify dan lain-lain.
"Jadi 'Ego' ini ngebuat kita ngeluarin unek-unek untuk neriakin orang-orang yang punya sifat seperti itu, biar bisa sadar kalau pencapaian bersama itu lebih membanggakan daripada untuk diri sendiri," pungkasnya. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.