Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Penanganan dugaan keracunan yang dialami 11 siswa MI Ma’arif Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, berlanjut pada evaluasi penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama meminta Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara atau melakukan suspend terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memenuhi persyaratan perizinan maupun standar teknis.

Hal itu disampaikan Egi setelah menjenguk siswa yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Ketapang, Kamis (17/9/2026).

Permintaan tersebut disampaikan menyusul dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa setelah mengonsumsi makanan MBG yang dipasok dari SPPG Ketapang.

Sebelumnya, sebanyak 11 siswa MI Ma’arif atau MI Syamsul Ma’arif di Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG, Rabu (16/9/2026).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB setelah jam istirahat sekolah.

Sejumlah siswa mengalami keluhan mual, pusing, muntah, dan sakit perut setelah menyantap menu MBG berupa udang, tahu, dan wortel.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Ketapang kemudian mengambil sampel sisa makanan serta sampel air dari dapur pengolahan.

Sampel tersebut selanjutnya diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama juga telah mendatangi Puskesmas Ketapang untuk melihat langsung kondisi siswa yang masih menjalani perawatan.

Kepala Sekolah MI Ma’arif, Khoirudin, mengatakan kondisi para siswa berangsur membaik.

Dari 11 siswa yang sempat mendapatkan perawatan medis, sebanyak 10 anak telah diperbolehkan menjalani rawat jalan.

Lulusan ITB ini mengatakan, evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan setiap tahapan penyediaan makanan MBG memenuhi standar keamanan pangan, kebersihan, serta ketentuan operasional.

Pada hari yang sama, Egi juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Ketapang 007 di Desa Pematang Pasir.

Sidak dilakukan untuk melihat langsung kondisi dapur MBG serta memastikan fasilitas pendukung dan proses penyediaan makanan memenuhi standar yang ditetapkan.

Dalam pemeriksaan tersebut, Egi menemukan sejumlah aspek teknis yang masih perlu dibenahi.

Salah satunya berkaitan dengan sistem kelistrikan, termasuk ketersediaan daya cadangan atau genset yang dinilai belum memenuhi standar.

Egi menegaskan, dapur MBG yang belum memenuhi persyaratan administrasi maupun standar operasional sebaiknya dihentikan sementara sampai proses evaluasi dan perbaikan selesai.

"Saya minta semua dapur MBG yang ada di Lampung Selatan, mana yang izinnya belum selesai, di-suspend dulu saja," ujar Egi yang juga menjabat sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Barat periode 2024-2027.

Menurut Egi, sidak tersebut merupakan tindak lanjut laporan dugaan keracunan yang dialami siswa penerima manfaat MBG.

"Kemarin saya mendapat laporan terkait dugaan keracunan dari MBG. Hari ini saya cek langsung ke lokasi," kata Egi yang meraih gelar MBA di Middlesex University, Inggris.

Selain sarana dan fasilitas, Egi meminta pengelola SPPG memperketat pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Pengawasan tersebut mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengolahan bahan makanan, proses memasak, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.

Ia menilai program MBG merupakan program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak.

Karena itu, pelaksanaannya harus dibarengi dengan pengawasan ketat, khususnya dalam memastikan makanan yang diberikan kepada siswa aman untuk dikonsumsi.

Pemkab Lakukan Evaluasi

Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Lampung Selatan, Alfarizi, mengonfirmasi adanya SPPG yang dihentikan sementara dalam rangka evaluasi pascakejadian dugaan keracunan siswa MI Ma’arif.

Menurut Alfarizi, SPPG yang terkena suspend merupakan SPPG Lampung Selatan Ketapang 03.

"Iya, sesuai administrasi, dapur yang di-suspend merupakan SPPG Lampung Selatan Ketapang 03," kata Alfarizi dalam rilis yang dibuat Komdigi Lampung Selatan.

Sementara satu siswi kelas IV masih menjalani rawat inap di Puskesmas Ketapang.

"Alhamdulillah, dari 11 siswa yang dirawat, saat ini 10 anak menjalani rawat jalan dan hanya satu siswi kelas IV yang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Ketapang," ujar Khoirudin.

Pemkab Lampung Selatan bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut sekaligus memperbaiki pelaksanaan MBG.

Evaluasi tersebut diharapkan dapat memastikan seluruh SPPG memenuhi persyaratan administrasi, fasilitas, keamanan pangan, dan SOP sebelum kembali menjalankan pelayanan MBG.

(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.