Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ahmad Nur Iman (47), atau akrab disapa Yayan, sudah hampir sepanjang hidupnya tinggal di kawasan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sejak lahir pada 1979, ia menyaksikan kawasan tersebut berubah dari lingkungan yang dulu sepi menjadi salah satu pusat wisata dan kuliner yang ramai dikunjungi.

Namun, perubahan itu menurut Yayan belum banyak dirasakan warga yang tinggal di balik Jalan Braga.

Di bagian depan, Braga kini dipenuhi kafe, restoran, wisatawan, hingga aktivitas ekonomi. Sementara masuk lebih dalam ke permukiman warga, suasananya masih relatif sama seperti dulu.

“Kalau di depan memang banyak berubah. Sekarang ramai sekali, banyak wisatawan dari luar daerah bahkan luar negeri. Tapi kalau ke belakang sini, rasanya tidak banyak berubah,” ujar Yayan saat ditemui di Gang Apandi, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, perubahan di lingkungan permukiman lebih banyak terlihat pada bentuk bangunan dan kondisi jalan. Rumah-rumah yang dulu masih berbentuk panggung kini sebagian sudah berubah menjadi bangunan permanen.

Namun, perubahan besar yang benar-benar meningkatkan kehidupan warga belum banyak dirasakan.

Yayan bahkan masih melihat sejumlah fasilitas yang sejak dulu digunakan warga, termasuk WC umum.

“WC umum itu sudah ada sejak dulu. Bedanya, dulu belum tertutup seperti sekarang. Sekarang sudah lebih baik karena sudah ada dinding,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian warga yang tinggal di balik kawasan wisata Braga.

Di tengah kondisi lingkungan yang menurutnya belum banyak berubah, kehidupan Yayan sendiri juga sedang berada dalam masa sulit.

Ia kini tinggal seorang diri di sebuah rumah kontrakan. Rumah tersebut bukan miliknya, melainkan milik tetangga yang disewakan kepada warga.

“Di sini kebanyakan memang masih sewa. Jarang yang punya rumah sendiri,” ujarnya.

Sudah sekitar delapan bulan Yayan menjalani pengobatan karena masalah pada paru-parunya. Ia harus rutin berobat dan menjalani pemeriksaan lanjutan.

Setiap bulan ia mengambil obat, sementara pemeriksaan rontgen dilakukan secara berkala sesuai arahan dokter.

“Sudah hampir delapan bulan berobat. Mudah-mudahan kalau hasil rontgen bulan depan bagus, pengobatannya bisa selesai,” kata Yayan.

Sakit tersebut membuat Yayan harus berhenti bekerja. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai Linmas di tingkat RW. Ia juga sempat mengambil pekerjaan serabutan, termasuk membantu pekerjaan bangunan di sejumlah proyek.

Namun, sejak sakit, aktivitas itu terpaksa dihentikan karena ia harus lebih banyak beristirahat.

Untuk biaya kontrol dan kebutuhan selama menjalani pengobatan, Yayan menggunakan BPJS Kesehatan.

Ia juga mendapat bantuan dari kakak dan keponakannya yang tinggal tidak jauh dari kawasan tersebut.

“Kalau mau kontrol, saya biasanya bilang ke kakak. Alhamdulillah dibantu untuk ongkos,” katanya.

Meski sedang sakit dan belum bisa kembali bekerja, persoalan lapangan pekerjaan menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan Yayan.

Ia melihat perkembangan Braga seharusnya bisa memberikan lebih banyak kesempatan kerja bagi warga yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut.

Apalagi, semakin banyak kafe, restoran, dan usaha kuliner yang berdiri di kawasan Braga.

Namun, menurut pengamatannya, warga setempat yang bekerja di tempat-tempat tersebut masih relatif sedikit.

“Harapannya, lebih banyak warga sini yang bisa bekerja di Braga. Kalau ada banyak usaha, seharusnya warga sekitar juga bisa ikut mendapat kesempatan,” kata Yayan.

Ia menyebut ada beberapa warga yang memang bekerja di kafe atau tempat usaha di sekitar Braga. Namun, jumlahnya menurut dia belum banyak.

“Memang ada beberapa, tapi masih sedikit. Padahal kalau ada puluhan tempat usaha, misalnya satu tempat mempekerjakan satu warga sekitar saja, itu sudah lumayan,” ujarnya.

Yayan mengatakan, persoalan kesempatan kerja tersebut semakin terasa bagi warga usia produktif.

Ia berharap warga sekitar tidak hanya menjadi penonton ketika Braga semakin berkembang menjadi kawasan wisata.

“Yang kami butuhkan sebenarnya kesempatan kerja. Apalagi untuk warga yang masih muda. Kalau ada pekerjaan di sekitar sini, tentu akan sangat membantu,” katanya.

Bagi Yayan, tinggal di Braga tidak otomatis membuat warga setempat mudah menikmati berbagai fasilitas dan tempat usaha yang kini tumbuh di kawasan tersebut.

Ia sendiri mengaku jarang datang ke kawasan Braga bagian depan untuk menikmati tempat-tempat kuliner.

Meski begitu, Yayan mengakui kegiatan yang digelar di kawasan Braga terkadang turut melibatkan warga sekitar.

“Kalau ada acara di Braga, biasanya warga melalui RW atau Karang Taruna juga dilibatkan. Jadi memang ada,” ujarnya.

Sebagai warga yang tinggal sejak kecil, Yayan juga merasakan perubahan lingkungan dari sisi kepadatan.

“Saya ingat waktu kecil, anak-anak bisa bebas bermain dan lari-larian. Sekarang kendaraan semakin banyak, jadi ruang untuk bermain juga semakin terbatas,” katanya.

Kepadatan kendaraan juga terasa ketika ada kegiatan penutupan Jalan Braga pada akhir pekan.

Menurut Yayan, kendaraan yang tidak bisa melintas di kawasan Braga terkadang mencari jalan alternatif melalui permukiman warga.

Akibatnya, gang yang sehari-hari digunakan warga juga menjadi lebih ramai kendaraan.

“Kalau jalan utama ditutup, kendaraan kadang masuk lewat sini untuk mencari jalan pintas. Jadi di gang juga lebih ramai,” ujarnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.