Jakarta -

Wisatawan mancanegara kini didorong untuk menikmati pariwisata berbasis pengalaman, sekaligus menjelajahi Indonesia jauh lebih dalam lagi.


Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa mengatakan pendekatan baru tersebut akan mengajak wisatawan tidak hanya datang ke suatu destinasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman yang autentik, personal, dan lebih bermakna selama mereka liburan di Indonesia.


Menurut Ni Luh, kekayaan destinasi, budaya, dan keramahan masyarakat Indonesia perlu diterjemahkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai lebih tinggi buat wisatawan mancanegara (wisman).




"Bagaimana agar pengalaman tinggal dari wisatawan kita di Indonesia semakin berkualitas dan juga manfaat yang bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia," ujar Ni Luh seperti dikutip dari Antara, Kamis (1/10/2026).


Dengan pendekatan baru tersebut, pertumbuhan pariwisata tidak lagi diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tapi juga dari kualitas wisatawan yang datang.



Pengalaman wisata yang lebih beragam juga diharapkan mendorong wisman tinggal lebih lama, menjelajahi lebih banyak tempat, serta menggunakan lebih banyak produk dan layanan di destinasi.




Pendekatan yang sama juga dapat diterapkan pada sektor MICE. Peserta konferensi atau pertemuan tidak hanya mengikuti agenda utama, tetapi dapat melanjutkan perjalanan dengan menikmati kuliner, mengunjungi atraksi, atau mengikuti aktivitas wisata yang memperkenalkan budaya dan karakter daerah tempat acara berlangsung.


Pendekatan itu menjadi salah satu fokus Go Beyond Ordinary, program Kementerian Pariwisata untuk memperkuat pemasaran yang diarahkan tidak hanya pada destinasi, tetapi juga pengalaman yang dapat ditemukan wisatawan.


Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini menambahkan minat terhadap wisata pengalaman semakin terlihat pada wisatawan berusia muda. Dalam paparanya di Indonesia Tourism & Mice Outlook 2027, sekitar 52 persen wisatawan Gen Z melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman.


Menurut Ni Made, potensi yang sudah dimiliki daerah dapat dirangkai menjadi kegiatan wisata yang lebih menarik. Seni dan budaya, misalnya, dapat dipadukan dengan wastra, wisata bahari, hingga walking tour.


"Yang kita dorong adalah wisata yang non-konvensional, non-ordinary, supaya aktivitas pariwisata bisa tersebar lebih banyak," ujar Ni Made.




Untuk makin meraup wisatawan Gen Z, Kementerian Pariwisata juga memanfaatkan MaiA (Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia) di indonesia.travel, sebuah asisten AI yang cocok di zaman Tourism 5.0 ini.


MaiA dirancang untuk menemani wisatawan mulai dari tahap dreaming (memimpikan), planning (merencanakan), booking (memesan), experiencing (merasakan), hingga sharing (membagikan). AI ini juga didukung dengan 19 bahasa asing.


Informasi yang ada di MaiA tidak hanya mengenai destinasi, tetapi juga aktivitas, kuliner, akomodasi, acara, dan produk wisata. Para pelaku industri wisata juga dapat memasukkan pengalaman yang mereka tawarkan ke dalam platform tersebut, sehingga dapat ditemukan ketika wisatawan mencari jenis perjalanan tertentu.


"Ketika wisatawan mencari experiential tourism di Indonesia, MaiA akan memberikan rekomendasi," ujar Ni Made.

























Wahyu Setyo Widodo


Jurnalis detikcom





Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.