Laporan Wartawan TribunJatim.com, Fatimatuz Zahroh
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Konsistensi ratusan warga Jawa Timur dalam membantu sesama melalui donor darah mendapat apresiasi.
Sebanyak 647 pendonor darah sukarela menerima penghargaan setelah berhasil mendonorkan darah hingga 75 kali.
Penghargaan berupa piagam dan lencana tersebut diserahkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur Imam Utomo di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10/2026) malam.
Penyerahan penghargaan dilakukan secara simbolis kepada 10 perwakilan penerima. Di balik apresiasi tersebut, Khofifah sekaligus mendorong agar jumlah pendonor darah sukarela di Jawa Timur terus bertambah dan persebarannya lebih merata.
Menurut Khofifah, penguatan basis pendonor perlu mendapat perhatian, terutama di sejumlah wilayah kabupaten yang tingkat partisipasinya masih perlu ditingkatkan.
Baca juga: Rutin Donor Darah Sejak Lulus Kuliah, Dwianto Raih Penghargaan 75 Kali Donor: Badan Enteng
Khofifah menyebut masih terdapat kesenjangan partisipasi pendonor darah sukarela antara sejumlah wilayah perkotaan dan kabupaten. Beberapa daerah yang menjadi perhatiannya antara lain Mojokerto, Probolinggo, dan Malang.
Ia mencontohkan Kabupaten Malang yang memiliki cakupan wilayah dan jumlah penduduk lebih besar dibandingkan Kota Malang. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam tingkat partisipasi pendonor darah sukarela.
“Mungkin nanti, Kadinkes Jatim Prof. Erwin dipandu oleh Pak Imam Utomo supaya area-area yang masuk wilayah kabupaten ini juga keikutsertaannya bisa ditingkatkan,” ujar Khofifah.
Menurutnya, wilayah kabupaten memiliki potensi besar untuk menjadi basis pendonor darah sukarela. Dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar, peningkatan partisipasi masyarakat di daerah tersebut dapat ikut memperkuat ketersediaan stok darah di Jawa Timur.
Pemerataan basis pendonor menjadi penting karena kebutuhan darah berlangsung setiap hari dan berkaitan dengan berbagai kebutuhan pelayanan kesehatan.
Karena itu, partisipasi masyarakat perlu dibangun secara berkelanjutan sehingga ketersediaan pendonor tidak hanya bergantung pada kegiatan donor yang dilakukan pada momentum tertentu.
Selain memperluas basis pendonor, Khofifah juga mendorong regenerasi pendonor darah melalui sinergi Palang Merah Remaja (PMR) dan gerakan Pramuka di sekolah.
Menurutnya, kedua organisasi tersebut memiliki basis pelajar yang luas. Kondisi itu dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kepedulian sosial dan semangat kemanusiaan sejak usia sekolah.
“Kalau itu bisa memberseiringi antara Pramuka dengan PMR, ini skalanya bisa sangat masif. Karena pada dasarnya Pramuka di setiap sekolah dari mulai SD,” kata Khofifah.
Ia berharap edukasi mengenai nilai-nilai kemanusiaan sejak usia sekolah dapat menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya donor darah. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mampu memastikan regenerasi pendonor berjalan secara berkelanjutan.
Khofifah juga memberikan apresiasi kepada 647 pendonor yang telah konsisten menyumbangkan darah hingga 75 kali.
Ia menyebut konsistensi tersebut sebagai bentuk pengabdian kemanusiaan yang sering kali berlangsung tanpa sorotan, tetapi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan transfusi darah.
“Kami menyampaikan terima kasih yang pertama. Yang kedua juga terima kasih yang ketiga juga terima kasih. Jadi, kalau orang cerita bhinneka tunggal Ika maka bhinneka Tunggal Ika lahir batin itu sesungguhnya adalah para pendonor darah sukarela,” puji Khofifah.
Ia melanjutkan, ketulusan pendonor dalam menyumbangkan darah menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama. Sebab, darah yang diberikan tidak mengenal perbedaan latar belakang orang yang nantinya menerima transfusi.
“Kalau ada keikhlasan lahir batin, maka para pendonor darah inilah yang sesungguhnya memiliki keikhlasan lahir batin yang luar biasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PMI Jawa Timur Imam Utomo mengapresiasi Khofifah yang konsisten memberikan penghargaan kepada pendonor darah sukarela, termasuk menyerahkannya secara langsung di Gedung Negara Grahadi.
“Saya sampaikan ribuan terima kasih kepada Ibu Gubernur yang telah memberikan waktu untuk menyerahkan penghargaan secara pribadi di Grahadi setiap tahunnya,” ucapnya.
Imam mengatakan Surabaya selama ini menjadi salah satu daerah dengan kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan darah di Jawa Timur.
Setiap hari, PMI di Surabaya mampu melakukan pengambilan darah dari sekitar 400 pendonor.
Untuk memperkuat kapasitas layanan tersebut, PMI Jawa Timur juga berencana mendirikan Unit Donor Darah (UDD) kedua di Kota Surabaya. Rencana itu akan dikolaborasikan dengan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan.
Menurut Imam, keberadaan UDD kedua diharapkan dapat memperluas akses masyarakat untuk melakukan donor darah sekaligus memperlancar proses pengambilan dan pengelolaan darah di Surabaya.
“Mudah-mudahan Surabaya dua ini nanti bisa mendapat tempat yang bagus dan tidak mengalami kesulitan. Sehingga pengambilan darah di Surabaya bisa berjalan lebih lancar,” harapnya.
Salah satu penerima penghargaan, Joko Rustriyanto, warga Kota Surabaya, mengaku bersyukur mendapat apresiasi atas konsistensinya sebagai pendonor darah sukarela.
Joko mengatakan mulai rutin mendonorkan darah sejak berusia 21 tahun. Setelah mencapai 75 kali donor, ia berharap dapat melanjutkan kebiasaan tersebut hingga 100 kali.
“Alhamdulillah saya memulai dari usia 21 tahun dan telah mencapai 75 kali sehingga bisa bertemu Ibu Gubernur. Semoga bisa terus sampai 100 kali dan bertemu dengan Presiden,” pungkasnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.