TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Kemarau panjang melanda sejak pertengahan Juli 2026 membawa dampak serius bagi petani cabai rawit Kabupaten Mamuju Tengah. 

Hal ini disampaikan Iksan, seorang petani cabai rawit ditemui di lahan samping rumahnya, Dusun Balata Tomene, Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Minggu (4/10/2026).

Baca juga: APBD-P Mamuju 2026 Resmi Disahkan, Pemkab Optimis Penyerapan Anggaran OPD Maksimal Tanpa Silpa

Baca juga: Mandiri hingga Level Dunia PERTINA Sulsel Buka Pendaftaran Calon Ketua yang Siap Berkorban Finansial

Topoyo (pusat kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Mamuju Tengah) ke Kota Mamuju adalah sekitar 142 kilometer.

Menurutnya, cuaca ekstrem berkepanjangan membuat tanaman cabai tumbuh kerdil.

Buah berukuran kecil dan kurus, sehingga hasil panen dipastikan menurun drastis.

"Biasanya dengan luas lahan setengah hektar di musim normal bisa 3 sampai 5 ton," ungkapnya.

Namun, di musim kemarau ini ia memprediksi hanya satu ton.

"Itupun kalau cukup 1 ton lebih , sangat syukur," ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tanaman seharusnya menghasilkan buah lebat justru tumbuh tidak optimal. 

Banyak tanaman mengalami kekerdilan akibat kurangnya pasokan air. 

Alhasil, produksi cabai rawit di lahannya turun drastis dibandingkan musim tanam sebelumnya.

Sebagai petani cabai rawit di Topoyo, ia berharap segera datangnya hujan menjadi satu-satunya penantian di tengah tekanan cuaca ekstrem ini.(*)

Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.