Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau di antara rak-rak buku. Ia bisa tumbuh di museum, di panggung musik, dalam percakapan anak muda, bahkan dari sebuah pertunjukan teater.
MUSEUM Provinsi Sulawesi Utara di Jalan WR Supratman, Kelurahan Lawangirung, Kota Manado, terasa berbeda.
Biasanya identik dengan benda-benda bersejarah, selama tiga hari, 2-4 Oktober 2026, kawasan museum berubah menjadi ruang bertemunya anak muda, buku, musik, gagasan, dan kreativitas.
Generasi Z tampak mendominasi Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026. Ada yang duduk mengikuti talkshow, membolak-balik buku di area bazar, hingga sekadar nongkrong sambil berdiskusi dan bertukar gagasan.
Suasana semakin hidup ketika penyanyi sekaligus penulis Dee Lestari tampil pada malam pembukaan.
Dengan balutan gaun merah, Dee membawakan sejumlah lagu populernya. Ratusan pengunjung ikut bernyanyi saat lagu Firasat dan Perahu Kertas mengalun.
Di sela penampilannya, Dee menyampaikan harapan agar Manado tidak hanya menjadi kota tempat berlangsungnya festival literasi, tetapi juga berkembang sebagai pusat literasi di Indonesia.
"Semoga Manado jadi pusat literasi di Indonesia, Manado jadi mercusuar literasi," katanya.
Ketua Umum Ikatan Putera Puteri Literasi Sulut, Standius Bara Prima, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat.
Mulai dari pelajar, mahasiswa, pendidik, penulis, seniman, komunitas, hingga pemerhati pendidikan dan kebudayaan.
Menurut Bara, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis.
Literasi juga menyangkut kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi, mengembangkan kreativitas, hingga menyampaikan gagasan.
"Dengan literasi kita bisa menggali akar budaya, membaca zaman dan menuliskan masa depan," ujarnya.
Semangat itu kemudian mendapat perhatian dari Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling (YSK).
YSK menutup Festival Literasi Sulut 2026 di Museum Provinsi Sulut, Minggu (4/10/2026).
Panggung penutupan diisi pementasan teater yang mengangkat perjuangan pahlawan nasional asal Sulut, Maria Walanda Maramis.
Bagi YSK, kisah Maria Walanda Maramis menjadi pengingat bahwa membaca dan menulis juga merupakan cara untuk menjaga ingatan sejarah.
"Kalau kita tidak rajin membaca dan menulis, kita tidak akan pernah memahami cerita masa lalu," kata YSK.
Ia pun mengapresiasi Standius Bara Prima dan seluruh generasi muda yang terlibat dalam festival tersebut. Namun, YSK tidak ingin semangat literasi berhenti ketika festival berakhir.
Ia justru mendorong agar fasilitas perpustakaan daerah ikut berbenah.
YSK meminta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulut merancang perpustakaan yang lebih modern, nyaman, inklusif, dan dekat dengan kehidupan anak muda.
Perpustakaan jangan hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku.
"Ajak anak-anak muda yang sering berkumpul di alun-alun atau tempat umum untuk masuk ke perpustakaan. Buat suasana di sana nyaman, kekeluargaan, dan gratis," tegasnya.
YSK bahkan mendorong agar museum, perpustakaan, dan Dinas Pendidikan dapat saling terhubung dalam membangun ekosistem literasi hingga ke desa-desa.
"Jika kalian cinta literasi dan cinta Indonesia, teruslah menulis, berkarya, dan buatlah sejarah," simpulnya. (ren/art)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.