TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Nilai tukar rupiah ditutup menguat 18 poin pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.899 per dolar AS, menguat dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.917.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS masih berada dalam perhatian pelaku pasar. Sentimen eksternal turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik di Yaman.
Dari Amerika Serikat, sentimen terhadap dolar juga dipengaruhi oleh data ekonomi yang relatif lebih lemah. Laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Agustus berada di bawah ekspektasi, sementara angka-angka sebelumnya direvisi turun.
"Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang. Pasar selanjutnya mencermati rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September pada Rabu serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis," ungkapnya, Selasa (6/10/2026).
Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen, atau direvisi naik sebesar 0,5 poin persentase.
Aktivitas ekonomi Indonesia ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi.
"Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen bulan Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal," terangnya.
Meski demikian, lanjut dia,.Bank Dunia menyoroti adanya pelemahan aktivitas ekonomi domestik setelahnya. Hal tersebut terlihat dari turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus dan melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli.
Pelebaran defisit juga memicu kekhawatiran pasar terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara atau sovereign ratings.
"Sentimen terhadap aset Indonesia sempat memburuk pada Januari dan kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global serta gangguan pengiriman. Arus modal keluar atau portfolio outflows tercatat mencapai 0,2?ri PDB pada kuartal I/2026," sebutnya.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar dinilai mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi. Tingkat inflasi tercatat turun dari 4,8 % pada Februari menjadi 3,4 % pada Juli 2026.
Bank Dunia juga memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 1,5?ri PDB pada 2026. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sebesar 2,5±1 % .
Rupiah Diproyeksikan Fluktuatif
Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memperkirakan rupiah akan berada dalam rentang Rp17.890-Rp17.940 per dolar AS.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.890 - Rp17.940," ujarnya.
Sementara untuk perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.750-Rp18.050 per dolar AS.
"Sedangkan perdagangan dalam pekan depan (minggu ini) direntang Rp17.750 - Rp18.050," imbuhnya. (idy)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.