TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia kini menjadi sorotan, terutama soal keamanan dan kelestariannya. Salah satu yang disorot adalah cara pengelolaan airnya.

Air panas di dalam bumi (reservoir panas bumi) ternyata berbeda dengan air tanah yang dipakai warga sehari-hari, seperti untuk minum, mandi, dan memasak.

Reservoir panas bumi berada sekitar 2.000 meter di bawah tanah. Uap panas dari sana dipakai untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik.

Baca juga: Pengembangan PLTP Gunung Ungaran Diminta Pertimbangkan Aspek Lingkungan dan Sosial

Setelah dipakai, air sisa produksi dialirkan kembali ke dalam bumi melalui sumur injeksi.

Cara ini penting agar sumber panas di dalam bumi tetap terjaga dan pasokan energinya bisa terus berlanjut.

Pembahasan ini mengemuka saat Staf Khusus Wakil Presiden (Stafsus Wapres) Tina Talisa mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat.

Kunjungan itu bertujuan melihat langsung proses produksi listrik berbasis energi panas bumi atau geothermal.

“Menarik untuk memahami bagaimana kekayaan geologi Indonesia dapat menjadi sumber energi yang lebih bersih, dapat diandalkan, dan berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan listrik nasional serta transisi energi,” ujar Tina dikutip Kamis (15/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Tina yang juga merupakan Komisaris Pertamina Patra Niaga memperoleh penjelasan mengenai proses pengeboran, pemanfaatan uap panas, hingga pengelolaan air dalam operasional PLTP.

Penjelasan itu memberikan gambaran mengenai perbedaan fluida di reservoir panas bumi dengan air tanah yang dimanfaatkan masyarakat.

Reservoir adalah ruang atau tempat penyimpanan alami maupun buatan yang digunakan untuk menampung fluida, seperti minyak bumi, gas alam, air bersih, atau panas bumi, di bawah permukaan bumi ataupun dalam bentuk struktur penampungan.

Terbentuk dari Panas Magma di Cincin Api

Manager Laboratory Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Teza Permana, menjelaskan bahwa bumi memiliki empat lapisan utama, yakni kerak bumi, mantel, inti luar, dan inti dalam.

Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik memiliki aktivitas vulkanik tinggi sehingga panas dari magma dapat memanaskan batuan di kerak bumi.

Panas tersebut kemudian memanaskan fluida yang berada di celah dan pori-pori batuan hingga membentuk sistem reservoir panas bumi.

Menurut Teza, pengeboran panas bumi untuk menjangkau reservoir dilakukan pada kedalaman sekitar 2.000 meter atau dua kilometer di bawah permukaan.

Kedalaman tersebut masih berada di lapisan kerak bumi, jauh dari inti bumi yang terletak ribuan kilometer di bawah permukaan.

“Itulah yang menjadi target pengeboran kita di reservoir panas bumi. Sebetulnya yang kita bicarakan adalah bagian kulit luarnya saja,” ujar Teza.

Ia menerangkan bahwa air yang dimanfaatkan masyarakat umumnya berasal dari akuifer dangkal yang mendapat pasokan dari air permukaan.

Sementara itu, fluida panas bumi berada pada sistem reservoir yang lebih dalam dan memiliki karakteristik temperatur serta tekanan berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam memahami pengelolaan sumber daya air pada kegiatan panas bumi.

Berawal dari Pengeboran Era Hindia Belanda 1926

PLTP Kamojang merupakan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Indonesia yang telah beroperasi secara komersial sejak 1983.

PLTP Kamojang berada di kawasan Kawah Kamojang, di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Lokasinya di lereng pegunungan vulkanik pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, kurang lebih 40-50 kilometer di tenggara Kota Bandung.

Setelah melalui pengembangan selama puluhan tahun, Kamojang mulai menghasilkan listrik sebesar 0,25 megawatt (MW) pada 1978.

Lima tahun kemudian, PLTP Kamojang Unit 1 berkapasitas 30 MW mulai beroperasi. Kini, kawasan tersebut memiliki lima unit pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 235 MW.

Indonesia sendiri memiliki potensi sekitar 23,2 gigawatt (GW), sementara kapasitas terpasang yang telah dimanfaatkan baru sekitar 2,78 GW.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan panas bumi untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.