Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Mencari pekerjaan menjadi perkara sulit bagi Nasip (48) tahun.

Kondisi fisiknya kerap membuatnya merasa kecil hati saat hendak mencari pekerjaan.

Kaki kirinya terkena polio sejak berusia empat tahun.

Di tengah keterbatasan itu, Nasip tetap harus memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya yang bergantung pada penghasilannya.

Sebelum mengenal program pembinaan Pertamina EP Rantau Field, Nasip mengandalkan pekerjaan serabutan di kampung.

Penghasilannya tak menentu. Kadang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tak jarang pula harus berhemat ketika pekerjaan sedang sepi.

“Kalau dapat kerja yang agak lumayan, ya cukup. Kalau sedang seret, penghasilan agak minim,” ujar Nasip di Karangbaru, Aceh Tamiang, Sabtu (17/10/2026).

“Tapi itu dulu,” lanjut Nasip, sebelum menceritakan perubahan yang kini ia alami.

Laki-laki yang memiliki empat cucu itu ternyata telah menapaki jalan berbeda. Ia merintis bengkel motor persis di teras rumahnya, Dusun Sukamulya II, Kampung Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang. 

Lewat otomotif, keahliannya pun sedikit demi sedikit terungkap. Nasib berkisah, mulai dari bongkar pasang ban dalam, mengencangkan rantai, menurunkan mesin, hingga rombak tali gas semua sudah dikuasainya.

Nasip kini mahir, alias sudah lancar mengerjakan berbagai pekerjaan dasar bengkel sepeda motor.

Tak hilang akal, Nasip berusaha menambah penghasilan sekaligus membuktikan keterampilannya.

“Dulu, untuk mengencangkan rantai saja saya tidak bisa. Sekarang, kalau bongkar mesin separuh, alhamdulillah sudah sering mengerjakan,” katanya.

Nasip mengikuti pelatihan mekanik

Bukan rezeki nomplok, bukan pula semudah membalikkan telapak tangan.

Awalnya, Nasip mengikuti pelatihan mekanik yang difasilitasi Pertamina EP Rantau Field melalui kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh, Dinas Sosial Aceh Tamiang, serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Bermula dari situ,  Nasip mempelajari keahlian yang selama ini belum dikuasainya.

Paling tidak, Nasip punya kemampuan yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah, sekaligus bertegur sapa dengan sesama penyandang disabilitas yang menghadapi persoalan serupa.

Pelatihan dasar itu kata dia, berlangsung selama 40 hari. Setelahnya, para peserta membentuk kelompok bengkel dan memperoleh fasilitas Bengkel Kreatif Tamiang beserta peralatan kerja. 

Pendampingan pun berlanjut melalui pelatihan tambahan untuk mempertajam kemampuan mekanik mereka.

Nasip mengaku, hal pertama yang berubah justru cara pandangnya terhadap diri sendiri.

Sebelum mengikuti pembinaan, ia kerap merasa menjadi satu-satunya orang yang harus menghadapi kesulitan karena kondisi fisiknya.

“Awalnya saya berpikir, saya ini penyandang disabilitas dan bukan saya sendiri yang seperti ini. Rupanya ada banyak kawan-kawan lain,” beber Nasip.

Ketika mendapat ruang untuk membuktikan diri, pelatihan itu memberinya kesempatan mengasah kemampuan tanpa terus dibayangi keraguan. Ia mulai berani mencoba pekerjaan yang sebelumnya terasa sulit.

Kepercayaan diri tumbuh, Pelanggan bagaimana ?

Namun, memiliki keterampilan mekanik tidak tentu membuat bengkel Nasip ramai pelanggan. Ia masih harus menghadapi persoalan lain.

Nasip mencari cara supaya masyarakat beranggapan dirinya mampu mengerjakan perbaikan sepeda motor.

Pasalnya, akui Nasip, sebagian orang masih menganggap penyandang disabilitas kesulitan bergerak dan bekerja.

Pandangan seperti itu membuat kepercayaan pelanggan menjadi hal yang harus ia bangun secara perlahan.

“Kadang orang melihat penyandang disabilitas ini susah bergerak. Padahal, kami biasa saja dan bisa menyesuaikan diri,” kata dia.

Apalagi, bengkel yang dirintisnya baru berjalan sekitar satu tahun. Lokasi rumah yang berada di kawasan pinggiran juga membuat jumlah pelanggan belum stabil.

Meski begitu, Nasip tetap menjalankan usahanya dan mengandalkan keuletan, kualitas pekerjaan, serta kepercayaan masyarakat agar pelanggan kembali.

“Alhamdulillah, ada saja rezeki pemasukan. Yang jelas, cukup sebagai tambahan untuk menghidupi keluarga,” ujarnya.

Bahkan, perubahan yang dirasakan Nasip tak hanya berkaitan dengan penghasilan.

Ia mengaku kini lebih berani bergaul dan mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.

Dahulu, untuk meminta pekerjaan kepada orang lain saja ia merasa minder.

Kini, pria menjelang setengah abad itu dipercaya menjadi ketua pemuda di kampungnya, manajer tim sepak bola, serta pengurus komite sekolah MIS Baitul Makmur.

Baca juga: Merakit Prestasi dari Senjata Hasil Reparasi, Kisah Derli dan Sulthanul di Balik Raihan Medali

Ia juga kerap ditunjuk menjadi ketua panitia turnamen sepak bola.

“Kalau sekarang kayaknya sudah tidak ada minder. Alhamdulillah, saya di kampung sering dipercaya menjadi penggerak,” katanya.

Sambil sedikit bergurau, Nasip mengakui bahwa dahulu rasa minder juga memengaruhi urusan pribadinya, termasuk saat berhadapan dengan perempuan.

Namun, pengalaman mengikuti pelatihan, bertemu banyak kawan, dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat perlahan mengubah cara pandangnya.

”Dulu hampir semua bidang yang di tekuni jadi minder, termasuk tentang cewek,” guraunya.

Berbekal pengalaman tersebut, Nasip berencana merekrut pekerja dari kalangan yang sama, dengan tetap mempertimbangkan keterampilan yang mereka miliki.

“Insyaallah, kalau bengkel ini sukses, saya ingin merekrut kawan-kawan penyandang disabilitas. Mereka akan kita utamakan, tetapi harus punya skill dulu,” kata Nasip.

Dari bengkel ke relawan kebencanaan.
Bukan itu saja, pembinaan yang diikuti Nasip juga membawanya terlibat dalam kegiatan mitigasi bencana.

Ia dipercaya menjadi ketua Satgas Digdaya, kelompok yang mempelajari kesiapsiagaan bencana agar penyandang disabilitas dapat berperan sebagai relawan.

Dalam kegiatan tersebut, mereka belajar membaca peta dan memahami informasi kebencanaan.

Dari pengetahuan itulah, Nasip bisa membuka kesempatan lain untuk membantu masyarakat, di luar keterampilan yang ia gunakan di bengkel.

Ia menilai pembinaan Pertamina EP Rantau Field memberi manfaat melalui pelatihan mekanik, penyediaan peralatan usaha, hingga peningkatan pengetahuan kebencanaan.

Meski demikian, Nasip memahami bahwa program pendampingan tidak berlangsung selamanya.

Ia dan rekan-rekannya harus mempersiapkan diri agar mampu menjalankan usaha serta kegiatan kelompok secara mandiri.

“Program ini sebetulnya tidak selamanya. Nanti kami akan dilepas untuk berjalan sendiri, walaupun masih ada pendampingan. Jadi, kami harus punya kepercayaan diri dan keterampilan,” katanya.

Karena itu, Nasip berharap pendampingan tetap diberikan, terutama untuk menjaga mental dan kepercayaan diri kelompok penyandang disabilitas yang telah dibina.

Ia juga meminta perusahaan lain di Aceh Tamiang memberi perhatian melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Menurut dia, masih banyak penyandang disabilitas yang belum memperoleh akses pelatihan, pendampingan, dan kesempatan kerja.

Nasip mengingatkan sesama penyandang disabilitas agar tidak buru-buru menyerah sebelum mencoba.

Kondisi fisik, menurut dia, tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan belajar dan bekerja.

“Jangan pernah berpikir karena kita penyandang disabilitas, kita tidak bisa melakukan sesuatu. Kita tidak akan maju kalau cara berpikirnya seperti itu. Orang lain bisa, kita harus bisa,” tegasnya.

Laki-laki yang memiliki enam anak dan empat cucu itu kini ingin terus mengembangkan bengkelnya.

 Ia berharap penghasilannya semakin baik dan suatu hari dapat membuka kesempatan kerja bagi kawan-kawan penyandang disabilitas.

“Saya akan membuktikan kalau saya sebagai penyandang disabilitas bisa berguna untuk masyarakat, minimal masyarakat di sekitar tempat kita tinggal,” ujar Nasip.

Ia pun berterima kasih kepada Pertamina EP Rantau Field yang telah memberikan kesempatan kepada dirinya dan penyandang disabilitas lain di Aceh Tamiang. 

“Saya berterima kasih kepada Pertamina yang sudah memberi kami kesempatan. Dengan adanya bengkel ini, saya bisa belajar dan berusaha untuk mendapatkan penghasilan,” ujar Nasip.

Terakhir harapan dia, agar lebih banyak pihak ikut membuka jalan agar teman-teman penyandang disabilitas dapat mengembangkan keterampilan, memperoleh penghasilan, dan hidup lebih mandiri.

“Mudah-mudahan ke depan, penyandang disabilitas lainnya juga mendapat kesempatan yang sama,” katanya. (mad)



Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.