Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali Jawa Tengah memperketat pengawasan lalu lintas ternak menyusul merebaknya kasus antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Langkah ini bertujuan mencegah penyebaran penyakit akibat bakteri Bacillus anthracis ke wilayah Boyolali.

Boyolali meningkatkan kewaspadaan karena memiliki sejarah panjang kasus antraks.

Bahkan, sejumlah wilayah di kabupaten tersebut masih masuk kategori daerah endemis.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Boyolali, Afiany Rifdania, mengatakan pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali.

Salah satu poin dalam surat edaran tersebut meminta pedagang ternak tidak membeli atau kulakan hewan dari daerah yang masuk kategori endemis antraks, terutama Gunungkidul.

"Memang banyak pedagang kita yang biasa mengambil ternak dari sana. Kepada para pedagang besar tersebut, langsung kami berikan surat peringatan agar lebih berhati-hati," kata Afiany, Kamis (22/10/2026).

Boyolali Batasi Ternak dan Produk Ikutan dari Daerah Endemis

Pengawasan Disnakkan Boyolali tidak hanya menyasar ternak hidup.

Produk ikutan, seperti daging, kulit, kepala, hingga kaki hewan dari wilayah endemis, juga menjadi perhatian.

Afiany menjelaskan, antraks merupakan penyakit yang rentan menyerang hewan ruminansia, seperti sapi, kambing, dan domba.

Penyakit ini berbahaya karena bakteri Bacillus anthracis mampu membentuk spora yang bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun.

"Bakteri Bacillus anthracis ini mampu membentuk spora yang bertahan di dalam tanah hingga puluhan tahun lamanya," ungkapnya.

Kemampuan spora bertahan dalam waktu lama membuat pengawasan dan pencegahan antraks menjadi penting, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kasus.

WASPADA ANTRAKS - Ilustrasi hewan ternak sapi. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali memperketat pengawasan lalu lintas ternak menyusul merebaknya kasus antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), belum lama ini.
WASPADA ANTRAKS - Ilustrasi hewan ternak sapi. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali memperketat pengawasan lalu lintas ternak menyusul merebaknya kasus antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), belum lama ini. (TRIBUNSOLO.COM/Ibnu DT)

Sejarah Kasus Antraks di Boyolali

Boyolali bukan daerah yang asing dengan ancaman antraks.

Riwayat penyakit tersebut bahkan bermula dari wilayah tetangga, yakni Kabupaten Semarang.

Pada era 1980-an, PT Nandini Amerta Agung di Kabupaten Semarang pernah mengalami wabah antraks.

Melalui sistem gaduhan atau bagi hasil peternakan, sejumlah sapi dari perusahaan tersebut kemudian masuk ke Boyolali.

Hewan-hewan itu diduga turut membawa bakteri antraks ke wilayah Boyolali.

Kasus cukup besar kembali terjadi pada 2011.

Saat itu, seekor sapi yang baru dibeli dari Pasar Karanggede oleh peternak asal Desa Karangmojo, Kecamatan Klego, mati mendadak hanya sehari setelah tiba di rumah.

Karena kasus antraks sudah lama tidak muncul, warga kala itu belum menyadari bahaya di balik kematian mendadak tersebut. Warga kemudian menyembelih sapi itu dan mengonsumsi dagingnya.

Akibatnya, penyakit tersebut turut menular kepada manusia.

"Gejala antraks pada masyarakat saat itu ditangani oleh Dinas Kesehatan yang kemudian melapor ke Disnakkan. Kami langsung turun untuk investigasi dan menemukan sisa daging dari sapi mati tersebut. Setelah dicek di laboratorium, hasilnya positif antraks," jelas Afiany.

Baca juga: Sapi Hasil Suntik Kawin Gratis Unjuk Kualitas, Bupati Boyolali Sebut Produksi Susu Meningkat

Lima Wilayah Endemis Antraks di Boyolali

Sejak kasus pada 2011, Boyolali mampu mempertahankan kondisi tanpa kasus antraks selama 14 tahun hingga 2026.

Salah satu upaya pencegahannya melalui vaksinasi rutin di wilayah yang masuk kategori endemis.

Saat ini, Disnakkan Boyolali memfokuskan vaksinasi dan surveilans di lima wilayah endemis, yaitu:

  • Desa Karangmojo, Kecamatan Klego.
  • Desa Sumberagung, Kecamatan Klego.
  • Desa Sempu, Kecamatan Andong.
  • Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel.
  • Desa Gunung, Kecamatan Simo.

Selain vaksinasi dan surveilans, Disnakkan Boyolali menggandeng relawan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Salah satu lokasi edukasi tersebut adalah Desa Karangmojo, yang pernah mengalami kasus antraks.

Baca juga: Curhat Peternak Sapi Perah di Boyolali, Harga Susu Naik tapi Tertekan Harga Pakan

Warga Diimbau Tidak Menyembelih Ternak yang Mati Mendadak

Disnakkan Boyolali terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap antraks.

Warga diminta tidak menyembelih atau mengonsumsi daging hewan ternak yang mati mendadak.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah penularan antraks dari hewan ke manusia.

Masyarakat juga perlu segera melaporkan kejadian kematian ternak yang tidak wajar kepada petugas terkait agar petugas dapat melakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.