TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW – Kehadiran akal buatan rupanya tidak hanya menuntut insan pers untuk lebih kreatif dan inovatif.
Pro dan kontra keterlibatan AI di dunia fashion juga menjadi tema penting yang dibahas di BRICS+ Fashion Summit di hari pertama, Senin (28/9/2026).
Sejumlah pakar fashion dari berbagai negara saling memberikan masukan di panel diskusi dengan tema "AI di Proses Kreatif: Alat, atau Co-Author?"
Dalam diskusi tersebut, mereka sepakat bahwa kehadiran AI bisa membantu riset, prototyping, dan percepatan. Namun mereka sependapat bahwa AI tidak mungkin menggantikan perspektif manusia yang memiliki visi, pengalaman dan selera.
Baca juga: BRICKS+ Fashion Summit dan Moskow Fashion Week Dorong Brand Lokal Bersaing dengan Brand Global Dunia
Kanika Goyal, Founder KGL, India memberikan contoh tentang kemampuan AI yang belum tentu cocok dengan selera manusia.
"AI bisa bantu proses desain, tapi tidak bisa paham bagaimana model merasakan atau apakah bordir cocok di tempat tertentu. AI lebih ke asisten karena tidak punya emosi, final decision tetap manusia,” katanya.
Sergio Puig, dari brand Valencia dengan tegas mengatakan bahwa mempercayakan semua kepada AI mengancam sebuah brand kehilangan jati dirinya.
“Menyerahkan semua urusan kepada AI akan membuat brand kehilangan identitas sekaligus jati dirinya. AI adalah tool yang sangat kuat, tapi kita harus hati-hati,” tegasnya. (*)
(Tribun Jateng / Ibnu Taufik Juwariyanto)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.