TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, baru sekitar 755.000 orang dengan hipertensi yang terdeteksi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mendapatkan pengobatan.

Padahal, pemerintah menargetkan 7,135 juta orang diperkirakan membutuhkan penanganan hipertensi.

Artinya, jumlah pasien hipertensi yang telah mendapatkan pengobatan baru sekitar 11 persen.

Baca juga: Pesan Menkes Budi Saat Karhutla: Jangan Keluar Rumah saat Asap Memburuk

Budi mengatakan, temuan hipertensi melalui CKG perlu ditindaklanjuti dengan pengobatan dan pemantauan rutin agar tekanan darah pasien dapat terkontrol.

Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers capaian dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan seperti pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala menjadi hal yang sangat penting dalam pengendalian hipertensi.
Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan seperti pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala menjadi hal yang sangat penting dalam pengendalian hipertensi. (medicalnewstoday.com)

"Harusnya angkanya itu sekitar 5,6 juta atau 80 persen dari yang di-skrining. Sekarang baru 755.000 yang diobati. Itu PR-nya karena angkanya masih kecil," kata Budi.

Ia menjelaskan, masyarakat yang terdeteksi mengalami hipertensi bisa mendapatkan pengobatan secara gratis di Puskesmas.

Pengobatan perlu dilakukan berkelanjutan, termasuk melalui kontrol rutin untuk memastikan tekanan darah pasien tetap terkendali.

Menurut Budi, penemuan kasus melalui CKG tidak cukup hanya dengan mengetahui kondisi kesehatan masyarakat. Hasil pemeriksaan harus diikuti dengan penanganan agar risiko penyakit yang lebih serius dapat ditekan.

Baca juga: Menkes Ingatkan Pentingnya Skrining HPV, Ini Cara Cek Kanker Serviks Gratis Lewat CKG di Puskesmas

Budi menjelaskan, program CKG dirancang untuk membantu meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Salah satu upayanya adalah mendeteksi sejak dini empat faktor risiko utama penyebab kematian dini, yakni hipertensi, diabetes, dislipidemia atau kolesterol tinggi, serta obesitas.

Keempat faktor tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung, serangan jantung, dan stroke.

Hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal.

"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi, kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular," ujar Budi.

Warga yang hasil pemeriksaannya menunjukkan adanya faktor risiko akan diarahkan untuk mendapatkan penanganan di Puskesmas.

Melalui pengobatan dan pemantauan berkala, pemerintah berharap kondisi kesehatan masyarakat dapat membaik dan risiko komplikasi penyakit kronis dapat dikurangi.

Lebih dari 109 Juta Orang Sudah Jalani CKG

Sebanyak 109.300.240 orang di Indonesia telah menjalani pemeriksaan melalui program CKG.
Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 88 juta peserta CKG tahunan dan sekitar 21 juta peserta CKG sekolah.

Sementara itu, jumlah warga yang telah mendaftar mencapai 116.313.018 orang dari target 130.344.650 sasaran.

Program CKG telah berjalan di 10.319 Puskesmas atau 99,8 persen dari total Puskesmas yang teregistrasi. Layanannya juga telah menjangkau seluruh 514 kabupaten/kota di 38 provinsi.

Pemerintah berharap pemeriksaan kesehatan gratis dapat membantu menemukan masalah kesehatan lebih awal, sehingga masyarakat bisa segera mendapatkan penanganan sebelum kondisinya memburuk.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.