Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE – Puluhan siswa SMP Swasta Rewarangga, Kabupaten Ende terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di bawah tenda darurat setelah bangunan sekolah mereka mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) lalu.

Selama dua minggu terakhir, para siswa harus menjalani aktivitas belajar di tiga tenda darurat yang didirikan di Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende, tepatnya di pinggir ruas jalan Trans Flores Ende-Maumere.

Kondisi tersebut membuat siswa dan guru harus beradaptasi dengan keterbatasan fasilitas serta lingkungan belajar yang kurang nyaman. Selain kepanasan, mereka juga harus menghadapi kebisingan kendaraan yang melintas di jalan negara tersebut.

Pantauan POS-KUPANG.COM, terlihat tiga tenda darurat berdiri di pinggir ruas jalan Trans Flores Ende-Maumere untuk menampung para siswa selama gedung sekolah belum dapat digunakan.

Baca juga: Panas Berkepanjangan Tak Halangi Petani Tomat di Paga Ende Raup Jutaan Rupiah

Di dalam tenda, fasilitas belajar yang tersedia hanya berupa meja dan kursi untuk guru serta siswa, berikut papan tulis. Tidak tersedia kipas angin di ketiga tenda tersebut sehingga suasana belajar terasa semakin panas, terutama setelah memasuki waktu istirahat pertama.

Terik matahari yang menyengat membuat para siswa kesulitan mengikuti pelajaran dengan nyaman. Kondisi ini semakin terasa ketika suhu udara mulai meningkat menjelang pukul 09.00 hingga 10.00 WITA.

Selain persoalan suhu udara, lokasi tenda yang berada tepat di pinggir jalan Trans Flores Ende-Maumere juga menjadi tantangan tersendiri. Ramainya kendaraan yang melintas kerap menimbulkan kebisingan sehingga mengganggu konsentrasi siswa maupun guru selama proses pembelajaran berlangsung.

Sementara itu, kepala sekolah bersama para guru memanfaatkan halaman rumah salah seorang warga yang berada di seberang jalan sebagai ruang guru. Di lokasi tersebut, sebuah tenda darurat tanpa dinding didirikan untuk menunjang aktivitas para tenaga pendidik.

Salah seorang siswi kelas VII SMP Swasta Rewarangga, Marvin, mengungkapkan bahwa suara kendaraan yang melintas kerap mengganggu kegiatan belajar. Selain itu, kondisi di dalam tenda juga terasa panas, terutama pada tenda yang digunakan siswa kelas VIII dan IX.

"Kadang-kadang ribut karena kendaraan lewat, panas juga. Kalau kami di kelas satu ini tidak terlalu panas, tapi di tenda kakak kelas tiga mungkin pakai terpal warna putih, jadi kalau jam 10 ke atas itu panas sekali," ujar Marvin.

Pengalaman serupa disampaikan Anista, salah seorang siswi kelas VIII. Menurutnya, suasana belajar masih terasa nyaman ketika suhu udara belum terlalu panas. Namun, memasuki pukul 09.00 hingga 10.00 WITA, kondisi di dalam tenda mulai membuat siswa kesulitan berkonsentrasi.

"Sekitar jam 9-10 itu sudah mulai panas. Belajar di sini nyaman, tapi kalau sudah terlalu panas kami tidak bisa tahan. Apalagi dekat jalan negara jadi banyak kendaraan, tapi kami buat nyaman saja," ungkap Anista.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para siswa tetap berusaha mengikuti pelajaran seperti biasa. Mereka berharap kondisi tersebut segera berakhir sehingga dapat kembali belajar di ruang kelas yang layak, aman, dan nyaman.

Kepala SMP Swasta Rewarangga, Agustina Mipa, menjelaskan bahwa pihak sekolah saat ini masih menunggu pencairan dana revitalisasi bangunan sekolah. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun gedung sekolah baru di lokasi sekolah yang mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi.

Menurut Agustina, pihak sekolah telah memperoleh alokasi dana revitalisasi. Namun, dana tersebut belum masuk ke rekening sekolah sehingga proses pembangunan belum dapat dilaksanakan.

"Akibat gempa waktu itu sekolah kami rusak berat. Kemarin kami dapat dana revit, tapi karena dana revit ini belum masuk ke rekening sekolah, persyaratan lainnya sudah kami penuhi semua, tinggal menunggu," jelas Agustina saat ditemui di teras rumah salah satu warga yang dijadikan ruang guru. 

Ia menambahkan, meskipun kegiatan belajar mengajar berlangsung di tenda darurat yang berada tepat di pinggir jalan dengan aktivitas kendaraan cukup ramai, pihak sekolah tetap berupaya agar proses pembelajaran berjalan normal.

Para guru terus menjalankan tugasnya untuk memastikan siswa tetap memperoleh pendidikan di tengah kondisi darurat yang belum sepenuhnya teratasi.

Namun, keterbatasan sarana dan prasarana, terutama suhu panas di dalam tenda serta kebisingan kendaraan, menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari oleh siswa dan tenaga pendidik.

Agustina berharap dana revitalisasi segera masuk ke rekening sekolah agar pembangunan gedung baru dapat segera dimulai. Dengan demikian, para siswa tidak perlu lagi mengikuti kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat. (bet)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.