Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana 

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Namun, kondisi tersebut belum menjadi tanda berakhirnya musim kekeringan yang melanda sejumlah daerah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep memastikan, distribusi air bersih masih akan dilakukan karena curah hujan yang turun belum mampu memulihkan sumber air warga, terutama di wilayah yang masuk kategori kekeringan kritis.

Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Kamiluddin, mengatakan, terkait turunnya hujan dengan intensitas rendah baru-baru ini dinilai belum cukup menjadi indikator bahwa krisis air telah berakhir.

Menurutnya, wilayah yang mengalami kekeringan membutuhkan hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung cukup lama agar sumber air kembali tersedia.

"Walaupun kemarin ada hujan di beberapa daerah, di Sumenep sempat gerimis. Ini tidak bisa jadi patokan kekeringan sudah berakhir," ujar Kamiluddin saat dikonfirmasi TribunMadura.com, Kamis (29/10/2026).

Baca juga: Kekeringan Kritis Meluas, 81 Desa di Sampang Alami Krisis Air Bersih

Ia menjelaskan, hujan yang turun dalam waktu singkat, bahkan selama setengah bulan, belum tentu mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan kritis maupun kelangkaan air.

"Setengah bulan hujan misalnya, untuk daerah-daerah yang memang kering kritis, kering langka, itu belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih mereka," katanya.

Kamiluddin menyebutkan, pemulihan sumber air baru berpeluang terjadi apabila hujan dengan intensitas tinggi turun secara konsisten selama sekitar satu bulan.

Karena itu, BPBD Sumenep belum menghentikan program distribusi air bersih meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

Baca juga: Hujan Tak Kunjung Turun, Warga Bangkalan Gelar Salat Istisqa untuk Daerah Terdampak Kekeringan

"Kecuali sudah satu bulan, intensitas hujan tinggi, baru mulai. Artinya sumber-sumber air bersih itu mulai ada," ucapnya.

Dengan demikian, pihaknya menyiapkan distribusi air bersih setidaknya selama satu bulan ke depan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

"Sehingga tetap kita rencanakan, satu bulan ke depan tetap akan ada distribusi air. Walaupun nanti prediksinya mungkin awal Desember sudah mulai hujan," katanya.

Kekeringan Masih Terjadi

Kamiluddin mengatakan, kekeringan masih terjadi di sejumlah desa, baik wilayah daratan maupun kepulauan Sumenep.

Di wilayah daratan, beberapa desa yang masih mengalami kekeringan kritis di antaranya Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kombang, Kecamatan Talango, Basoka, Kecamatan Rubaru, dan Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih.

"Kalau yang terakhir, yang kritis itu Montorna, Prancak, Kombang, Basoka, Batu Putih Daya. Itu di daratan," ujarnya.

Sementara di wilayah kepulauan, kekeringan terjadi di Desa Gendang Barat, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi.

Kondisi tersebut mulai merambah ke desa tetangganya, Gendang Timur.

Selain itu, kekeringan juga terjadi di Pulau Tonduk, wilayah Kecamatan Raas.

"Kalau di kepulauan itu, di Sapudi ada Gendang Barat. Sekarang desa tetangganya, Gendang Timur, juga mulai kekeringan. Kalau di Raas itu Pulau Tonduk," ucapnya.

Hingga saat ini, data bantuan penyaluran air bersih tercatat sekitar 400 tangki air kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Penyaluran air ke wilayah kepulauan menjadi tantangan tersendiri karena kondisi geografis yang berbeda.

Beberapa wilayah harus dijangkau menggunakan transportasi laut.

"Sampai hari ini BPBD sudah sekitar 400 tangki yang didistribusikan. Di kepulauan beda, karena geografisnya berbeda. Ada yang harus dibawa perahu," katanya.

Kamiluddin menjelaskan, penanganan kekeringan tidak memiliki alokasi anggaran tetap setiap tahun.

Pembiayaan disesuaikan dengan kondisi dan tingkat kedaruratan di lapangan.

Menurut dia, kebutuhan anggaran biasanya diajukan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).

"Kalau kekeringan ini, kalau ditanya anggaran setahun, kita tidak menganggarkan. Artinya nanti kita minta Belanja Tidak Terduga (BTT), karena ini sesuai kondisi," katanya.

Ia menambahkan, durasi kekeringan sulit diprediksi sejak awal karena sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Sebagai perbandingan, pada 2025 kekeringan di Sumenep hampir tidak terjadi.

Namun pada 2026, musim kering berlangsung lebih panjang. Sehingga kebutuhan penanganannya meningkat.

"Bisa jadi tahun depan ini tidak ada kekeringan. Intensitas hujan itu kan seperti tahun kemarin, 2025 hampir tidak ada kekeringan. Sekarang ini panjang, sehingga tidak bisa diprediksi seperti itu," terangnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.