TRIBUNKALTARA.COM,NUNUKAN – Siapa yang akan mengolah sawah dan menjaga produksi pangan Nunukan pada masa mendatang?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perhatian Wakil Bupati Nunukan, Hermanus, ketika menyoroti keberlanjutan sektor pertanian di tengah perubahan zaman.

Menurut Hermanus, keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan lahan, sarana produksi, atau hasil panen. 

Keberadaan generasi penerus yang memiliki pengetahuan dan keterampilan bertani, juga menjadi faktor penting untuk menjaga sektor tersebut tetap berjalan.

Wabup Nunukan, Hermanus, mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi, dapat memengaruhi minat generasi muda terhadap pekerjaan yang selama ini ditekuni masyarakat, termasuk bertani dan menjadi nelayan tradisional.

Hermanus mengaku memiliki kedekatan dengan dunia pertanian, karena berasal dari keluarga petani. 

Pengalaman sejak kecil membuatnya memahami bahwa pekerjaan tersebut membutuhkan ketekunan, dan keterampilan, yang tidak selalu dapat diperoleh secara instan.

“Saya juga petani, karena bapak saya petani.

Saya dididik dari kecil dari keluarga petani dan sedikit memahami bagaimana bertani itu,” ujarnya, Kamis (29/10/2026).

Baca juga: Wabup Hermanus Jajal Combine saat Panen Padi, Dorong Teknologi untuk Tekan Biaya Petani Nunukan

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa pengetahuan pertanian yang diwariskan dari orang tua kepada anak memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan usaha pertanian.

Namun, perubahan zaman membuat proses pewarisan keterampilan tersebut menghadapi tantangan. 

Generasi muda saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan pola kehidupan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Hermanus menilai, apabila tidak ada upaya mengenalkan pertanian kepada generasi berikutnya, keterampilan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan petani berisiko semakin jarang dikuasai.

Ia mencontohkan sejumlah pekerjaan sederhana dalam kegiatan pertanian yang dahulu lazim dilakukan masyarakat, tetapi belum tentu dikenal oleh generasi yang tumbuh dengan pengalaman berbeda.

Perubahan tersebut tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. 

Namun, perlu ada upaya agar kemajuan zaman tidak membuat pengetahuan dasar tentang pertanian hilang begitu saja.

“Yang saya khawatirkan adalah kita putus generasi, baik generasi petani maupun generasi nelayan,” katanya.

Menurut Hermanus, keberlanjutan pertanian membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah dan pihak terkait dalam memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda.

Pengenalan tersebut tidak harus berarti seluruh anak muda menjalani pekerjaan yang sama seperti orang tua mereka. 

Yang perlu dijaga adalah tersedianya generasi yang memahami sektor pertanian dan memiliki keterampilan, untuk terlibat di dalamnya sesuai perkembangan kebutuhan.

Selain menyoroti regenerasi petani, Hermanus juga menyinggung perkembangan teknologi yang berpotensi mengubah cara kerja pertanian pada masa mendatang.

Penggunaan mesin dan peralatan modern dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Karena itu, masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mengelola usaha pertanian.

Menurutnya, penerapan teknologi juga harus mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat.

Tidak semua petani memiliki akses, kemampuan, atau kebutuhan yang sama terhadap peralatan modern.

Pendampingan menjadi penting agar perubahan cara kerja dapat diterapkan secara bertahap dan sesuai kebutuhan.

Hermanus menilai, kebijakan pertanian yang baik bukan hanya kebijakan yang terlihat maju, melainkan kebijakan yang dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di lapangan.

“Kita ini menghadapi berbagai tantangan teknologi.

Karena itu, pendekatan dalam pelaksanaan program maupun kebijakan harus menyesuaikan kondisi yang kita hadapi sekarang,” tuturnya.

Ia berharap perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan penguatan karakter, keterampilan, dan pengetahuan generasi muda. 

Dengan demikian, pertanian tetap memiliki penerus sekaligus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman.

Persoalan regenerasi petani tidak terlepas dari upaya menjaga ketersediaan pangan. 

Jika usaha pertanian tidak memiliki penerus yang memadai, kemampuan daerah untuk mempertahankan produksi dalam jangka panjang juga dapat menghadapi tantangan.

Karena itu, menurut Hermanus, pengembangan pertanian perlu dilihat secara menyeluruh. 

Pemerintah tidak hanya perlu mendorong peningkatan hasil panen, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya manusia yang mengelola sektor tersebut.

Hermanus turut menekankan pentingnya menyatukan pandangan dan langkah seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani hingga pemerintah dan dunia usaha.

Kesamaan tujuan dinilai penting agar program pertanian dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan tidak berhenti setelah kegiatan tertentu selesai dilaksanakan.

Penguatan pendampingan, pengenalan teknologi sesuai kebutuhan, serta keterlibatan generasi muda menjadi beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam upaya menjaga keberlanjutan sektor tersebut.

Wabup berharap pengembangan pertanian di Nunukan tidak hanya menghasilkan produksi yang baik pada masa sekarang, tetapi juga membangun fondasi bagi masa depan.

(*)

Penulis: Fatimah Majid

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.