Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Anggit Puji Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Di sebuah sudut Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kilauan warna-warni manik-manik kaca terpancar dari jemari perajin yang telaten memutar batangan kaca cair.
Tak jauh dari sana, dentang alunan musik tradisional mengiringi lekuk gerak Wayang Potehi yang juga berkokasi di Kecamatan Gudo menyampaikan kisah-kisah legendaris yang melintasi zaman.
Jombang tak pernah kehabisan cerita. Namun, menyajikannya ke panggung dunia membutuhkan lebih dari sekadar keindahan narasi.
Menyadari tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) mengambil langkah terobosan lewat ajang MAMPIRO Jombang Inbound Tourism Famtrip 2026 pada Rabu (28/10/2026) hingga Kamis (29/10/2026)
Baca juga: Membaca Jejak dan Sejarah Kebesaran Majapahit di Candi Rimbi Jombang Lewat Relief Bergaya Wayang
Mengusung tagline 'Experience Connect Sell', kegiatan ini tidak sekadar mengajak tamu berkeliling, melainkan mengundang mereka untuk merasakan, menilai, dan membawa pulang potensi Jombang ke pasar dunia.
Rangkaian perjalanan diawali pada Rabu (28/10/2026). Puluhan praktisi industri wisata termasuk perwakilan Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA), agen perjalanan, media, hingga kreator konten diajak menyelami denyut kehidupan lokal.
Perjalanan itu membawa mereka melintasi detail kerajinan Cor kuningan di Mojotrisno, Mojoagung, Jombang, Keanggunan motif Batik Jatipelem di Kecamatan Diwek, hingga kehangatan suasana di gerai Dekranasda Kabupaten Jombang.
Langkah kaki para tamu pun berlabuh di kompleks makam Gus Dur di Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang, sebuah destinasi religi yang menyimpan sejarah panjang serta spirit toleransi yang kental.
Di setiap titik, para peserta tak sekadar menjadi penonton. Mereka berbincang langsung dengan para perajin, menyimak latar belakang budaya, hingga mencicipi deretan sajian kuliner khas yang memanjakan lidah.
Usai menyusuri riak potensi daerah, agenda dilanjutkan dengan International Market Insight Forum berkonsep 'Listen, Learn, Improve' di Ballroom Azana Style Hotel Jombang, Kecamatan Peterongan, Jombang pada Kamis (29/10/2026).
Forum ini sengaja dirancang berbeda dari sekadar seremoni promosi biasa.
"Kami ingin mendengar penilaian yang sejujur-jujurnya," ucap Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo dalam keterangan yang ditulis Tribunjatim.com, Jumat (30/10/2026).
Dalam sesi diskusi tersebut, tiga pertanyaan kunci diajukan kepada para pelaku industri tur inbound.
Mulai dari kesiapan prroduk, apakah destinasi budaya dan kerajinan yang dikunjungi sudah memenuhi standar wisatawan mancanegara?
Lalu target pasar, negara atau segmen wisatawan internasional mana yang paling potensial membidik Jombang?
Juga pada peta jalan perbaikan, mulai dari aspek apa saja mulai dari aksesibilitas, kualitas informasi, hingga fasilitas dasar seperti kebersihan sanitasi yang perlu dibenahi dalam satu hingga dua tahun mendatang?
Keterlibatan organisasi pegiat desa wisata, Akta Bumi, turut memperkaya perspektif forum. Pengembangan wisata diharapkan tak hanya mendatangkan devisa, tetapi juga memperkuat ekonomi warga tanpa merenggut kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan desa.
Pertanyaan dan masukan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Kabupaten Jombang jika ingin memperluas citra pariwisata ke seluruh negeri bahkan ke sudut oenuur dunia.
"Menembus pasar pariwisata internasional memang memerlukan napas panjang. Promosi yang gencar tidak akan berarti tanpa kesiapan fasilitas dan standar pelayanan yang mumpuni," ujar Agus menambahkan.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha lokal, dan jaringan tur operator internasional, Jombang kini tengah merajut fondasi baru.
"Kami bersiap menyambut wisatawan dunia bukan sekadar sebagai tempat persinggahan, melainkan sebagai destinasi yang memberikan pengalaman berkesan," pungkasnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.