TRIBUNJATIM.COM - Kondisi seorang siswa kelas 6 SDN 2 Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah berinisial K, menjadi perhatian setelah diduga mengalami perundungan selama bertahun-tahun di sekolah.
Siswa tersebut kini dilaporkan mengalami perubahan perilaku yang cukup drastis.
Dalam dua pekan terakhir, K lebih sering melamun, terlihat kebingungan, dan kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.
Bahkan, akibat kondisi yang dialaminya, K untuk sementara harus berhenti mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Ibu K, Siti Munawaroh (34), mengaku terpukul melihat perubahan kondisi anaknya.
Ia menduga, kondisi tersebut berkaitan dengan perundungan yang dialami K sejak duduk di bangku kelas 3 SD.
Baca juga: Kondisi Siswa SMP di Bojonegoro yang Jadi Korban Perundungan, Hidung Terluka
Siti menuturkan, dugaan perundungan awalnya melibatkan tiga anak.
Persoalan itu sempat diketahui keluarga dan dibicarakan dengan pihak sekolah.
Saat itu, penyelesaian dilakukan melalui permintaan maaf serta pemberian nasihat kepada anak-anak yang diduga terlibat.
Siti sempat mengira persoalan tersebut telah berakhir. Namun, dugaan perundungan kembali terjadi ketika K memasuki kelas 6 SD.
Jumlah anak yang diduga terlibat juga bertambah.
"Yang tiga orang sama, tambah dua orang lagi," ungkap Siti saat menceritakan dugaan perundungan yang dialami anaknya kepada Tribunjateng.com, di rumahnya, Kamis (29/10/2026).
Menurut Siti, K selama ini bukan anak yang mudah mengungkapkan masalah yang dihadapinya.
Ia justru lebih sering mengetahui kejadian di sekolah melalui adik K yang mengadu kepadanya.
Kondisi tersebut membuat Siti tidak mengetahui secara menyeluruh apa saja yang dialami anaknya selama berada di lingkungan sekolah.
Ia baru benar-benar menyadari adanya perubahan perilaku K dalam dua pekan terakhir.
Saat ini, K disebut lebih banyak terdiam dan memandang ke satu arah.
Meski sudah mulai mau makan, anak tersebut masih terlihat kebingungan dan belum bisa berkomunikasi dengan lancar.
"Alhamdulillah sudah bisa makan, tetapi masih bingung. Belum bisa ngomong," tuturnya.
Baca juga: Difitnah Bunuh Putranya, Ayah Anak Down Syndrome di Surabaya Tak Terima Pelaku Hanya Dibina 6 Bulan
Siti juga menyampaikan bahwa berdasarkan penjelasan yang diterimanya, K didiagnosis dokter mengalami paranoid skizofrenia.
Ia menduga tekanan psikologis yang dialami anaknya selama ini berkaitan dengan kondisi tersebut.
Di tengah kekhawatiran terhadap kesehatan K, Siti juga mengaku kecewa dengan pembicaraan penyelesaian yang sempat dilakukan bersama keluarga anak-anak yang diduga terlibat.
Menurutnya, keluarga dari pihak-pihak tersebut telah mendatangi rumahnya. Namun, pembicaraan yang muncul justru berkaitan dengan penggantian biaya transportasi.
"Keluarga pihak-pihak tersebut telah mendatanginya. Namun, pembicaraan yang muncul justru berkaitan dengan penggantian biaya transportasi," ucapnya.
Baca juga: 2 Bocah Pelaku Kekerasan Anak Down Syndrome Dihukum Pembinaan, Ayah Korban Kecewa Tak Terima
Siti menilai persoalan yang dialami anaknya tidak cukup diselesaikan dengan membicarakan biaya transportasi.
Baginya, hal yang lebih penting adalah memastikan K mendapatkan pengobatan dan pendampingan hingga kondisinya pulih.
Ia juga memikirkan dampak jangka panjang yang mungkin dialami anaknya akibat kejadian tersebut.
"Coba kalau anaknya yang kayak gitu, bagaimana? Saya benar-benar merasa kecewa, sakit hati, dan merasa keberatan," katanya.
Siti mengaku belum ingin terburu-buru menentukan nominal ganti rugi. Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai uang, melainkan kondisi K yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius.
Ia juga sempat mendapat tawaran penyelesaian secara damai. Namun, tawaran tersebut belum diterimanya karena ingin memastikan kondisi anaknya menjadi pertimbangan utama.
Jika tidak menemukan penyelesaian yang dianggap adil, Siti menyatakan akan mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum.
Ia berharap kasus yang menimpa anaknya mendapat perhatian serius sehingga tidak ada lagi siswa yang mengalami kejadian serupa.
"Pokoknya minta keadilan. Biar ke depannya tidak ada perundungan seperti ini lagi dan ada efek jera," tegasnya.
Selain itu, Siti mempertanyakan penanganan dugaan perundungan yang sebelumnya disebut telah diselesaikan melalui permintaan maaf dan pemberian nasihat oleh pihak sekolah.
Ia berharap seluruh rangkaian kejadian dapat ditelusuri, termasuk mencari tahu mengapa dugaan perundungan tersebut kembali terjadi.
"Saya berharap, anaknya mendapatkan pendampingan dan penanganan yang sesuai dengan kondisinya."
"Saya juga menginginkan, adanya penyelesaian yang memberikan perlindungan bagi K serta mencegah anak-anak lain mengalami kejadian serupa," tambahanya.
Kondisi K yang semakin mengkhawatirkan juga diceritakan ayahnya, Febi Firdaus (34).
Febi mengungkapkan, dugaan perundungan terhadap anaknya bermula saat K menjadi siswa pindahan di SDN 2 Langkap ketika duduk di kelas 3.
Sejak saat itu, K diduga mengalami kekerasan fisik dari teman-teman sekolahnya. Menurut Febi, kejadian tersebut tidak hanya berlangsung sekali, tetapi disebut kembali terjadi saat K naik ke kelas 4 dan kelas 5.
Puncak persoalan diduga terjadi ketika K duduk di kelas 6 SD.
Febi mengatakan, perubahan perilaku anaknya semakin terlihat setelah kejadian yang belakangan dialami K.
Jika sebelumnya K masih bersedia berangkat sekolah meskipun harus dibujuk, kini anak tersebut justru menolak pergi ke sekolah.
Bahkan, K disebut tidak mau lagi mengenakan seragam sekolah.
Baca juga: Ayah Kandung Dituding Bunuh Sendiri Anak Kandungnya yang Down Syndrome, Dibantah Lewat Bukti
Perubahan itu turut memengaruhi aktivitas sehari-harinya di rumah.
K dilaporkan mengalami kesulitan makan dan sempat tidak tidur selama beberapa hari.
"Jangankan berangkat sekolah, kegiatan sehari-harinya saja berubah drastis. Makannya susah, bahkan kemarin sempat dua sampai tiga hari tidak tidur sama sekali," ungkap Febi saat menceritakan kondisi anaknya kepada Tribunjateng.com, Rabu (28/10/2026).
Tak hanya itu, Febi menyebut anaknya sempat menunjukkan perilaku yang tidak biasa. K beberapa kali mengamuk, memukul adiknya, hingga melakukan tindakan agresif terhadap ibunya.
Awalnya, keluarga membawa K ke puskesmas untuk memeriksakan kondisi kesehatannya karena mengalami demam.
Namun, setelah melihat kondisi anak tersebut, pihak puskesmas menyarankan agar K menjalani pemeriksaan lebih lanjut di poli kesehatan jiwa.
Setelah demamnya mereda, perubahan perilaku K ternyata masih terlihat. Keluarga kemudian membawanya ke poli kesehatan jiwa untuk berkonsultasi dengan psikiater dan mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Febi mengaku tidak menyangka anaknya mengalami perubahan kondisi sedrastis itu.
Sebagai orang tua, ia berharap K segera pulih sehingga dapat kembali beraktivitas seperti anak-anak seusianya, termasuk melanjutkan pendidikan di sekolah.
"Saat ini kondisinya hanya diam kalau diajak bicara sama orang tua," imbuhnya.
Di tengah proses penanganan kesehatan K, keluarga juga berupaya mencari penyelesaian atas dugaan perundungan yang dialami anaknya.
Febi mengatakan, pihak sekolah bersama siswa yang diduga terlibat dan orang tua mereka telah mendatangi rumah keluarga untuk melakukan mediasi.
Berbeda dengan kekecewaan yang disampaikan Siti terkait pembicaraan mengenai biaya transportasi, Febi menyebut telah melihat iktikad baik dari pihak sekolah maupun keluarga siswa yang berkonflik dengan anaknya.
Menurut Febi, mereka bersedia membantu mendampingi K, termasuk dalam pemenuhan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan selama proses pemulihan.
"Anak saya sudah tidak berangkat sekolah selama 2 minggu ini."
"Alhamdulillah, sudah ada iktikad baik dari pihak sekolah maupun orang tua murid yang berkonflik. Mereka bersedia mendampingi untuk selanjutnya, termasuk terkait fasilitas kesehatan yang dibutuhkan," ujarnya.
Febi berharap komitmen tersebut tidak berhenti pada pertemuan mediasi. Ia ingin dukungan dari pihak sekolah dan keluarga siswa lainnya benar-benar diwujudkan melalui pendampingan selama K menjalani pemulihan.
Baca juga: Tangis Sri Lihat Anaknya yang Down Syndrome dan Idap Kelainan Jantung Masuk SMA, Suami Jualan Bakso
Menurutnya, hal terpenting saat ini adalah memastikan kondisi anaknya kembali membaik agar bisa menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut.
Selain pemulihan K, Febi juga berharap dugaan perundungan di lingkungan pendidikan menjadi perhatian bersama agar tidak terulang pada siswa lainnya.
"Harapan saya, pertama, anak saya cepat sembuh. Kedua, ke depannya, baik di sekolah ini maupun di sekolah-sekolah lain, jangan sampai terjadi lagi hal-hal seperti ini," tegasnya.
Febi menambahkan, kejadian yang dialami anaknya menjadi pengingat bahwa sekolah harus mampu memberikan rasa aman bagi seluruh siswa.
Menurutnya, lingkungan pendidikan bukan hanya tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga harus menjadi ruang yang melindungi anak-anak dari kekerasan dan perundungan.
Setiap persoalan yang melibatkan siswa pun perlu ditangani secara serius agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan berdampak pada kondisi fisik maupun psikologis anak.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.